Pasar kripto tengah menghadapi gejolak. Harga Bitcoin, misalnya, pada Sabtu lalu menembus level psikologis US$95.000 dan kini stagnan di US$94.000–US$96.000, memicu kekhawatiran banyak pihak mengenai arah pergerakan selanjutnya.
Meski demikian, beberapa tokoh ternama menilai guncangan ini hanya bersifat sementara, dan pasar crypto memiliki potensi untuk segera pulih.
Siklus 4 Tahun Sudah Mati, Pasar Kripto Masuki Era Baru
Menanggapi kondisi pasar kripto saat ini, Hunter Horsley, CEO Bitwise, menegaskan lewat tweet yang diunggah pada Jumat (14/11/2025) bahwa siklus pasar kripto saat ini berbeda jauh dengan sebelumnya.
Siklus empat tahunan yang selama ini dijadikan acuan untuk membaca tren pasar kini dianggap tidak lagi relevan, terutama karena adopsi kripto saat ini tidak hanya datang dari kalangan ritel, tetapi juga institusi besar.
“Sejak peluncuran Bitcoin Spot ETF dan pemerintahan baru, kita mulai memasuki struktur pasar baru: pemain baru, dinamika baru, dan alasan baru bagi orang untuk membeli dan menjual,” jelasnya.
Horsley menambahkan, meski banyak investor saat ini masih merasa takut, ada kemungkinan besar bahwa pasar crypto sedang melalui fase bear market terakhir sebelum mulai pulih.
“Saya rasa ada kemungkinan besar bahwa kita telah berada di pasar bearish selama hampir enam bulan dan hampir melewatinya. Kondisi pasar kripto saat ini belum pernah sekuat ini,” tambahnya.
Pandangan Horsley ini menawarkan perspektif kontras terhadap sentimen yang pesimistis, terlihat dari data Crypto Fear and Greed Index di CoinMarketCap yang menunjukkan angka mendekati extreme fear, level yang terakhir kali tercatat pada Maret lalu.

Menurutnya, kondisi pasar crypto terkini yang tampak menakutkan justru menghadirkan peluang bagi pemulihan lebih cepat dibandingkan prediksi tradisional, menandai era baru bagi pasar kripto yang lebih matang dan dinamis.
Robert Kiyosaki dan Perspektif Liquidity
Selain itu, investor dan edukator keuangan ternama, Robert Kiyosaki, mengaitkan kondisi pasar kripto yang beberapa waktu terakhir terlihat goyah dengan rendahnya tingkat likuiditas.
Lewat tweet yang diunggah pada Sabtu lalu, ia menilai bahwa harga mata uang kripto maupun logam mulia akan kembali naik begitu pemerintah mulai mencetak uang untuk menutupi defisit anggaran.
“Alasan sebenarnya adalah dunia sangat berhutang, dan saya bertaruh ‘The Big Print’ akan dimulai, yang membuat emas, perak, Bitcoin, dan Ethereum lebih berharga saat uang palsu runtuh,” tulis Kiyosaki di X.
Menurut Kiyosaki, liquidity menjadi faktor utama yang mendorong pergerakan harga aset. Tingkat likuiditas yang tinggi, didorong oleh suku bunga rendah dan perluasan jumlah uang, cenderung membuat harga aset naik.
Sebaliknya, ketika likuiditas rendah, harga aset biasanya menurun atau pasar menjadi stagnan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya aliran uang dan kondisi keuangan global dalam menentukan dinamika pasar.
“Singkatnya… jika kalian merasa takut dan membutuhkan uang tunai… seperti kebanyakan orang di dunia… kalian mungkin ingin menjual aset terbaik dan beralih ke uang tunai,” tambahnya.
Dengan perspektif ini, Kiyosaki menekankan bahwa memahami aliran likuiditas dan manajemen aset menjadi kunci bagi investor untuk menghadapi gejolak pasar, sekaligus melihat peluang di tengah ketidakpastian.
Harapan Pemangkasan Suku Bunga Kian Redup, Sentimen Pasar Makin Rapuh
Kontrarian tapi Penuh Peluang
Pandangan Horsley dan Kiyosaki menunjukkan bahwa meskipun pasar kripto sedang diterpa ketakutan, ada peluang yang tidak boleh diabaikan. Struktur pasar baru, perubahan dinamika investor, serta potensi likuiditas tambahan menjadi katalis bagi kebangkitan kripto.
Horsley menekankan optimisme terkait kondisi pasar crypto saat ini, sementara Kiyosaki mengingatkan bahwa kesabaran dan strategi manajemen risiko yang tepat menjadi kunci dalam menghadapi gejolak.
Secara keseluruhan, meskipun ketakutan menghantui pasar, kedua tokoh ini menunjukkan bahwa investor yang memahami dinamika baru dan mampu mengelola risiko memiliki peluang untuk meraih keuntungan. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



