Di tengah volatilitas pasar kripto yang kerap membuat investor ragu, Windah Basudara justru memilih pendekatan yang berbeda.
Alih-alih mengejar keuntungan instan lewat trading, ia mengandalkan strategi sederhana namun konsisten: Dollar Cost Averaging (DCA).
Pernyataan ini diungkapkan dalam livestream di kanal “Brando Chill & Games” pada Jumat (04/04/2026), saat ia membahas kebiasaan investasinya di tengah tren TCG Pokémon yang sedang memanas.
DCA Jadi Strategi Windah Basudara Saat Market Lesu
Dalam penjelasannya, selain membeli kartu Pokémon sebagai hobi, Windah Basudara ternyata masih rutin mengakumulasi aset kripto meski kondisi pasar kripto sedang tidak bergairah.
“Gua enggak beli kartu doang. Tiap bulan crypto gua juga masih serok,” tegasnya.
Dollar Cost Averaging Crypto: Definisi dan Cara Melakukannya!
Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut dilakukan untuk mengamankan aset rupiah miliknya dan menjelaskan bahwa ia menggunakan dollar cost averaging.
Strategi DCA adalah membeli aset secara berkala tanpa mencoba menebak harga terbaik. Pendekatan ini umum digunakan untuk menghadapi pasar yang fluktuatif seperti kripto.
Ia bahkan menyebut bahwa aktivitas akumulasi tersebut tetap berjalan meski tidak selalu ia tampilkan ke publik .
Fokus Jangka Panjang, Bukan Profit Instan
Berbeda dengan banyak investor pemula yang mengejar keuntungan cepat, Windah Basudara menekankan pentingnya pola pikir jangka panjang.
Menurutnya, salah satu kesalahan umum adalah menganggap investasi sebagai cara cepat untuk melipatgandakan uang.
“Jangan berharap dari trading itu bisa langsung jadi kaya,” tutur Windah sembari membuka kartu TCG Pokémon .
Sebaliknya, ia memilih untuk membangun posisi secara perlahan sambil menunggu siklus pasar bergerak.
Pendekatan ini selaras dengan prinsip DCA yang mengutamakan konsistensi dibandingkan dengan timing. Ia juga mengungkap bahwa imbal hasil dari strategi ini, melalui staking Solana, bisa memberikannya sekitar 2 SOL per hari.
Secara kasar, dengan estimasi harga Solana di kisaran US$100, nilai asetnya ditaksir mendekati Rp10 miliar, mencerminkan strategi akumulasi yang terstruktur dan juga secara konsisten memberikan passive income.
Gunakan “Uang Dingin” dan Siap Hadapi Risiko
Selain konsistensi, Windah juga menyoroti pentingnya menggunakan “uang dingin” dalam berinvestasi.
Ia mengingatkan bahwa harga aset kripto bisa turun dalam jangka pendek, bahkan lebih lama dari yang diperkirakan. Karena itu, dana yang digunakan sebaiknya bukan kebutuhan utama.
“Harus siap sama risk-nya juga ya,” pugnakasnya.
Hal lain yang cukup ditekankan adalah peran investasi dalam keseluruhan kondisi finansial.
Menurut Windah, investasi kripto ataupun lainnya bukan sumber utama penghasilan, melainkan pelengkap dari aktivitas produktif di dunia nyata.
Ia menilai bahwa membangun income aktif tetap menjadi fondasi utama, sementara investasi berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan aset dalam jangka panjang.
https://blockchainmedia.id/windah-basudara-ternyata-staking-sol-asetnya-ditaksir-rp10-miliar/
Di Tengah Bear Market, Konsistensi Jadi Pembeda
Strategi DCA yang diterapkan Windah menunjukkan satu hal penting: konsistensi sering kali lebih berharga dibandingkan dengan spekulasi.
Di saat banyak investor memilih menunggu atau keluar dari pasar, pendekatan ini justru mendorong akumulasi secara bertahap.
Meski terlihat sangat sederhana, strategi DCA yang diterapkan oleh Windah Basudara membutuhkan disiplin tinggi dan keyakinan terhadap aset yang dipilih.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



