Di tengah perdebatan soal masa depan AI, Vitalik Buterin menyampaikan gagasan yang cukup menarik. Pendiri Ethereum itu menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak seharusnya mengambil alih tata kelola digital. Sebaliknya, ia ingin teknologi digunakan untuk membantu dan memperkuat partisipasi manusia dalam sistem yang terdesentralisasi.
Vitalik Buterin Tawarkan Solusi AI untuk DAO
Lewat unggahan di X pada Sabtu (21/06/2026), Vitalik Buterin menilai sistem governance di Ethereum menghadapi masalah mendasar: keterbatasan perhatian manusia. Menurutnya, inilah tantangan utama dalam tata kelola yang benar-benar terdesentralisasi.
Ribuan proposal dengan tingkat kompleksitas tinggi terus bermunculan. Namun, sebagian besar peserta tidak memiliki waktu maupun kapasitas untuk menilai semuanya secara mendalam, sehingga partisipasi efektif menjadi sulit diwujudkan.
Selama ini, solusi yang digunakan adalah delegasi suara. Namun, Buterin menilai pendekatan tersebut justru memusatkan kekuasaan pada segelintir delegator dan tidak sepenuhnya mencerminkan suara komunitas.
“Solusi yang umum digunakan, yaitu delegasi, justru melemahkan partisipasi. Cara ini membuat sekelompok kecil delegator mengendalikan keputusan, sementara para pendukungnya, setelah menekan tombol ‘delegate’, tidak lagi memiliki pengaruh apa pun,” tegasnya.
Ia juga menolak gagasan bahwa AI harus menjadi “pemerintah”. Menurutnya, jika AI masih lemah, keputusan yang dihasilkan akan dangkal. Sebaliknya, jika terlalu kuat, risikonya bisa mengarah pada dampak anti-manusia yang sulit diperbaiki.
Sebagai alternatif, Buterin mengusulkan agen AI pribadi berbasis LLM. Agen ini mempelajari preferensi pengguna dan secara otomatis memberikan suara sesuai kecenderungan tersebut. Jika menemui isu penting, agen akan meminta konfirmasi langsung beserta konteksnya.
Cara Vitalik Gabungkan AI, Insentif, dan DAO
Dalam kerangka yang ia tawarkan, governance tidak lagi sepenuhnya manual, tetapi dibantu oleh mesin yang selaras dengan nilai manusia. Agen AI pribadi tidak menggantikan kehendak pengguna, melainkan mewakili preferensi mereka dalam skala besar.
Buterin juga memperkenalkan konsep “suggestion markets”. Dalam model ini, proposal atau argumen dapat ditokenisasi, lalu agen AI mengalokasikan dukungan pada masukan yang dinilai berkualitas.
Jika proposal diterima oleh mekanisme governance, para pendukungnya akan memperoleh insentif. Skema ini menggabungkan prediction market, evaluasi AI, dan proses DAO menjadi mekanisme seleksi ide yang berkelanjutan.
“Jika suatu mekanisme tata kelola (governance) menghargai masukan yang berkualitas tinggi, baik proposal maupun argumen, maka dapat dibuat pasar prediksi,” tuturnya.
Vitalik Buterin Ungkap Masa Depan Tanpa Uang, Diganti Sistem Baru Ini
Pendekatan ini sejalan dengan sikapnya saat mengkritik konsep Web4 yang didominasi AI. Ia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya memperkuat kendali manusia, bukan memperlebar jarak antara manusia dan mesin.
Melalui model ini, Buterin menilai masa depan governance tetap berpusat pada kehendak individu, namun mampu berjalan dalam skala global. AI bukan pengganti manusia, melainkan alat untuk memperkuat peran mereka tanpa mengorbankan prinsip desentralisasi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



