Benarkah Binance Diretas Gegara Kisah Cinta Karyawan dengan Mata-Mata Korut?

Peretasan Binance senilai lebih dari US$6 miliar mendadak mendapat plot twist yang terdengar seperti film mata-mata. Seorang karyawan disebut menjalin hubungan asmara dengan agen Korea Utara sebelum serangan terjadi.

Rumor Kisah Cinta Karyawan Binance Mulai Viral

Rumor tersebut mulai ramai beredar di X pada Minggu (01/11/2026). Sebuah akun bernama doomerfied mengunggah klaim bahwa seorang teknisi DevOps Binance menjalin hubungan romantis dengan mata-mata Korea Utara.

Unggahan itu menyebut sang karyawan meninggalkan laptopnya tanpa pengawasan pada hari serangan terjadi. Nama peneliti blockchain ZachXBT ikut dicantumkan, membuat klaim tersebut seolah-olah bersumber dari temuannya.

Tak sampai satu jam kemudian, akun AlphaWireHQ ikut mengangkat cerita serupa dengan label “BREAKING”. Meski menyebut informasi tersebut belum terverifikasi, unggahan itu membuat rumor semakin luas beredar.

Kronologi Lengkap Peretasan Binance 2026: Lebih dari Rp100 Triliun Raib dalam 4 Jam!

Masalahnya, tidak ada tautan investigasi ataupun bukti yang menunjukkan ZachXBT pernah menyampaikan tuduhan tersebut. Sejauh ini, klaim mengenai hubungan asmara itu juga belum didukung bukti yang dapat diverifikasi.

BACA JUGA:  Apa Itu EIP-7702 dan Bagaimana Peretas Binance Memanfaatkannya?

Bantahan dari Binance kemudian muncul pada hari yang sama. Co-CEO Binance Yi He menepis cerita tersebut sekaligus menegaskan bahwa nama ZachXBT telah dicatut untuk memperkuat rumor yang beredar.

“Cerita ini memang lebih dramatis, tetapi tidak benar. ZachXBT tidak mengatakan itu,” tulis Yi He melalui akun X pribadinya pada Minggu (01/11/2026), saat menanggapi unggahan yang memuat rumor tersebut.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Laptop Karyawan Binance Memang Dibobol, tapi Tak Ada Bukti Soal Romansa

Bagian yang membuat rumor ini terdengar meyakinkan adalah adanya potongan fakta nyata. Binance mengungkap bahwa investigasi awal memang mengarah pada laptop seorang teknisi DevOps yang diduga telah diretas.

“Investigasi awal kami menunjukkan bahwa insiden peretasan ini mungkin melibatkan laptop yang dikompromikan. Namun, investigasi selanjutnya menemukan titik pelanggaran tambahan,” tulis Binance pada Jumat (30/10/2026).

Akses dari perangkat tersebut diduga memungkinkan penyerang memasuki sebuah service container dan mengirim transaksi penarikan tanpa izin. Namun, Binance kemudian menemukan bahwa jalur serangannya ternyata lebih kompleks.

BACA JUGA:  Harga KAIA Meroket 46 Persen, Listing di Upbit Korea Jadi Sorotan

Di sisi lain, keterkaitan serangan dengan Korea Utara juga bukan sekadar rumor. FBI pada Sabtu (31/10/2026) menyatakan TraderTraitor bertanggung jawab atas pencurian aset kripto senilai lebih dari US$6 miliar.

ZachXBT sendiri lebih banyak mengungkap jejak pergerakan dana. Ia menemukan aset dari peretasan Binance dan eksploitasi Bitget sebelumnya bertemu pada alamat Ethereum yang sama setelah melewati THORChain.

Temuan tersebut mengarah pada dugaan bahwa kedua serangan melibatkan aktor yang sama, bukan membuktikan kisah romansa karyawan. Rumor viral itu mencampurkan fakta dengan detail personal yang belum terbukti.

Hacker Korut Memang Sering Gunakan Rekayasa Sosial

Meski kisah asmara itu tidak terbukti, pendekatan terhadap manusia memang bukan hal asing bagi peretas Korea Utara. Rekayasa sosial kerap digunakan untuk mendekati pekerja maupun eksekutif industri kripto.

Pada April 2025, pendiri Manta Network, Kenny Li, hampir menjadi korban Lazarus Group melalui undangan Zoom palsu yang dibuat menyerupai pertemuan dengan orang-orang yang dikenalnya.

BACA JUGA:  Korut Dituduh Bobol Binance Rp114 Triliun, Adik Kim Jong Un Buka Suara!

Pola serupa kembali muncul pada 2026. BlueNoroff dilaporkan memanfaatkan Zoom dan Microsoft Teams palsu untuk memprofilkan wallet bernilai tinggi sebelum menyebarkan malware melalui skema rekayasa sosial.

Bahaya! Hacker Korut Punya Modus Baru untuk Membobol Wallet Kripto

Kasus Drift Protocol juga memperlihatkan pola rekayasa sosial. Pelaku disebut mendekati kontributor selama berbulan-bulan melalui interaksi profesional sebelum akhirnya mengirimkan tautan berbahaya ke perangkat target.

Rangkaian kasus tersebut menunjukkan bahwa social engineering memang menjadi salah satu modus yang masuk akal. Namun, sejauh ini belum ada bukti metode serupa digunakan dalam peretasan Binance melalui hubungan romantis.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait