Berita Bitcoin Terbaru: 17.000 BTC Masuk Exchange, Sinyal Jual?

Pergerakan harga Bitcoin terbaru yang sempat menembus area US$90.000 kembali kehilangan tenaga. Pelemahan ini terjadi setelah aliran besar BTC tercatat masuk ke berbagai crypto exchange, memunculkan kekhawatiran akan tekanan jual lanjutan dalam jangka pendek. 

Meski demikian, kondisi pasar tidak sepenuhnya bernuansa negatif. Sejumlah indikator di pasar Bitcoin justru mulai menunjukkan perbaikan, memberi sinyal bahwa aktivitas harga BTC saat ini belum tentu menandai awal fase bearish yang lebih dalam.

17.000 BTC Mengalir ke Crypto Exchange

Berdasarkan analisis harga Bitcoin yang dibagikan oleh Axel Adler Jr. pada Kamis (22/01/2026), lebih dari 17.000 BTC tercatat mengalir ke bursa kripto. Pola ini mengingatkan pada fase puncak pada Juli dan Agustus 2025, ketika aliran serupa diikuti oleh tekanan jual.

Ia menjelaskan bahwa aliran ini terjadi pada periode 20–21 Januari. Pada 20 Januari, 9.867 BTC masuk ke exchange, kemudian 6.786 BTC pada 21 Januari. Lonjakan ini jauh berbeda dibandingkan rata-rata netflow harian sepanjang Januari yang berada di kisaran minus 2.000 hingga plus 2.000 BTC.

IKLAN
Chat via WhatsApp
Inflow Bitcoin ke Crypto Exchange - Axel Adler Jr
Inflow Bitcoin ke Crypto Exchange – Axel Adler Jr

Menurutnya, masuknya suplai besar memunculkan kondisi supply overhang, yakni kelebihan pasokan di sekitar level harga BTC saat ini. Meski netflow harian kini telah kembali ke level netral, tekanan dari akumulasi suplai tersebut belum sepenuhnya hilang.

BACA JUGA:  Open Interest Bitcoin Anjlok ke Titik Terendah Oktober 2024, Ini Artinya

Netflow sudah kembali netral (+296 BTC). Namun, akumulasi aliran masuk masih menciptakan supply overhang. Sinyal perbaikan baru akan terlihat jika netflow berubah negatif seiring kenaikan harga, yang menandakan kelebihan suplai mulai terserap pasar,” jelas Adler.

Kondisi ini membuat area US$89.000–US$90.000 dipandang sebagai zona resistance krusial. Pergerakan harga BTC menuju area tersebut akan menjadi ujian penting untuk menilai apakah pasar mampu menyerap suplai tambahan tanpa memicu tekanan jual lanjutan.

Tekanan Jangka Pendek Terlihat dari Perilaku Holder

Adler juga menyoroti Short-Term Holder (SOPR) yang memperkuat gambaran kehati-hatian pasar. Rata-rata pergerakan tujuh harinya berada di level 0,996, masih di bawah ambang impas 1,0, yang menandakan bahwa pembeli jangka pendek masih berada dalam kondisi merugi.

Bitcoin STH SOPR - Axel Adler Jr
Bitcoin STH SOPR – Axel Adler Jr

Pada titik terendah harga BTC di sekitar US$87.500, SOPR sempat turun ke 0,965. Kondisi ini mengindikasikan kerugian rata-rata sekitar 3,5 persen bagi holder jangka pendek, sebuah sinyal bahwa tekanan jual belum sepenuhnya mereda di pasar Bitcoin.

BACA JUGA:  Robert Kiyosaki: Big Crash di Depan Mata, Saya Borong Bitcoin

“Kedua grafik membentuk gambaran yang melengkapi: aliran masuk ke exchange menunjukkan adanya persiapan dari sisi penjual, sementara indikator SOPR mengonfirmasi bahwa holder jangka pendek (STH) telah masuk ke wilayah kerugian,” tuturnya.

Secara historis, fase SOPR yang berada  di bawah 1,0 kerap diiringi ketidakpastian arah harga Bitcoin. Pelaku pasar cenderung menunggu konfirmasi lanjutan sebelum kembali agresif melakukan pembelian.

Data Pasar Spot Bitcoin Tunjukkan Perbaikan

Di sisi lain, data pasar spot memberi sinyal konstruktif terhadap pergerakan Bitcoin. Analisis yang diunggah Glassnode pada Rabu (21/01/2026) menunjukkan cumulative volume delta (CVD) di Binance dan exchange global telah berputar ke kondisi yang didominasi pembeli.

“Kondisi ini menandai pergeseran dari tekanan jual yang beruntun selama fase konsolidasi sebelumnya, sekaligus mengindikasikan bahwa pelaku pasar spot kembali menyerap suplai, bukan mendistribusikannya di tengah penguatan harga,” tulis Glassnode dalam analisanya.

Indikator CVD di Pasar Spot - Glassnode
Indikator CVD di Pasar Spot – Glassnode

Tekanan jual di Coinbase juga terpantau stabil, mengindikasikan berkurangnya suplai yang siap dilepas ke pasar. Meski intensitas pembelian belum cukup kuat untuk mendorong reli, dinamika ini dinilai mampu membantu menahan potensi penurunan BTC.

BACA JUGA:  Whale Pindahkan US$8,3 Miliar Bitcoin ke Binance, Siap Jual?

Selain itu, analis lain, Darkfost, melalui riset yang diunggah di CryptoQuant pada Selasa lalu, menyoroti bahwa metrik stablecoin mendukung skenario pembentukan dasar harga Bitcoin. Ia mencatat Stablecoin Supply Ratio (SSR) mengalami penurunan tajam setelah koreksi BTC.

Penurunan SSR tersebut menunjukkan bahwa kapitalisasi pasar Bitcoin melemah lebih cepat dibandingkan likuiditas stablecoin yang tersedia. Kondisi ini mengindikasikan bahwa BTC berada dalam fase undervalued terhadap likuiditas pasar.

“Ketika nilai SSR turun secara signifikan, hal tersebut mengindikasikan bahwa harga BTC berada dalam kondisi undervalued dibandingkan dengan likuiditas yang tersedia di pasar,” jelas Darkfost.

Stablecoin Supply Ratio - Darkfost
Stablecoin Supply Ratio – Darkfost

Dengan kombinasi tekanan jangka pendek dan juga perbaikan struktural di pasar spot, arah pergerakan harga Bitcoin ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan pasar menyerap suplai di area resistance kunci.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia