Berita Bitcoin Terbaru: Market Crash, BTC Bisa Ambles ke US$79.000

Pergerakan pasar kripto sejak akhir pekan lalu cenderung bergerak sideways tanpa arah yang jelas. Namun, tekanan jual memuncak pada Minggu malam ketika harga Bitcoin akhirnya jatuh ke area US$87.000.

Koreksi tersebut dinilai belum menjadi titik akhir. Analis memperingatkan bahwa Bitcoin masih berisiko mengalami penurunan lanjutan bahkan hingga ke kisaran US$79.000 jika tekanan pasar berlanjut.

Market Crash, Likuidasi Hari Ini Tembus US$343 Juta

Tekanan pasar kripto dalam 24 jam terakhir tercermin dari lonjakan likuidasi yang menembus sekitar US$343 juta. Gelombang penutupan posisi paksa ini terjadi seiring market crash yang memicu volatilitas tinggi di berbagai aset kripto.

Data dari Coinglass menunjukkan likuidasi didominasi oleh posisi long, mengindikasikan banyak trader crypto yang sebelumnya bertaruh pada kenaikan harga justru terjebak saat pasar berbalik arah secara tajam.

IKLAN
Chat via WhatsApp
Likuidasi Pasar Kripto - Coinglass
Likuidasi Pasar Kripto – Coinglass

Dari sisi aset, Ethereum (ETH) menjadi kontributor likuidasi terbesar dengan nilai sekitar US$91,6 juta. Angka ini menempatkan ETH sebagai aset yang paling terdampak dalam fase koreksi kali ini.

Sementara itu, Bitcoin (BTC) mencatat likuidasi sekitar US$80,3 juta, disusul Solana (SOL) sebesar US$28,4 juta. Data ini menegaskan bahwa market crash tidak hanya menghantam altcoin kecil, tetapi juga aset kripto utama.

BACA JUGA:  Menakar Ancaman Quantum Computing bagi Keamanan Bitcoin

Konflik Memanas, BTC Bisa Anjlok ke US$79.000

Market crash yang terjadi memicu pertanyaan besar terkait pergerakan harga BTC selanjutnya. Dalam analisa harga Bitcoin terbaru yang dibagikan oleh CobraVanguard pada Minggu (25/01/2026), faktor geopolitik dinilai menjadi tekanan utama. 

Akumulasi perlengkapan militer di Timur Tengah memperkuat spekulasi potensi konflik dengan Iran serta ketegangan terkait Greenland yang juga mempertebal sentimen risk-off dan situasi ini mendorong pergeseran dana ke aset safe haven.

“Hal ini saja sudah menjadi justifikasi kuat atas kenaikan harga emas, perak, dan logam utama lainnya. Selain itu, ketidakpastian terkait Greenland serta ketegangan geopolitik yang terus berlangsung turut memperkuat tren tersebut,” jelasnya.

Perubahan sentimen tersebut berdampak langsung pada aset berisiko, termasuk Bitcoin. Ketika minat terhadap safe haven meningkat, tekanan jual pada kripto cenderung menguat. Kondisi ini selaras dengan lonjakan volatilitas dan likuidasi yang terjadi.

Prediksi Penurunan Harga Bitcoin - CobraVanguard
Prediksi Penurunan Harga Bitcoin – CobraVanguard

Dari sisi teknikal menurut CobraVanguard, harga BTC telah breakdown dari pola wedge, yang menandakan pelemahan tren bullish. Setelah keluar dari pola tersebut, harga gagal bertahan di area atas dan bergerak turun dan mengonfirmasi tekanan jual.

BACA JUGA:  Prediksi Bitcoin Terbaru: US$75.000 Berpotensi Jadi Titik Bottom BTC

Secara proyeksi, area US$83.000 menjadi target penurunan terdekat. Jika level ini tidak mampu bertahan, menurutnya terdapat potensi untuk terjadi penurunan lebih lanjut bahkan hingga turun ke bawah US$80.000.

“Pergerakan harga Bitcoin berpotensi turun menuju US$83.000, atau bahkan lebih rendah hingga mendekati US$79.000. Pergerakan bearish ini kemungkinan akan berlanjut selama ketegangan geopolitik masih berlangsung,” tambahnya.

Faktor Makro Bayangi Pergerakan Harga Bitcoin

Di luar tekanan geopolitik dan teknikal, pasar mulai menaruh perhatian pada kebijakan moneter global. Ash Crypto, melalui kanal Telegram resminya pada Senin (26/01/2026), menilai otoritas AS berpotensi mengambil langkah untuk menahan pelemahan yen Jepang.

Langkah tersebut berisiko menekan nilai dolar AS. Perubahan arah dolar ini dinilai dapat memengaruhi arus modal ke aset berisiko, termasuk saham dan kripto, serta memicu volatilitas yang lebih tinggi di pasar.

Ia menyinggung pola serupa yang sempat terjadi pada pertengahan 2024, ketika intervensi yen memicu gejolak jangka pendek. Setelah fase volatilitas mereda, aset kripto perlahan kembali menguat seiring membaiknya sentimen pasar.

BACA JUGA:  Whale Bitcoin Mulai Bergerak, Kirim 38 Ribu BTC ke Binance

“Pasar berpotensi tetap volatil untuk beberapa waktu. Namun, seiring terdepresiasinya dolar, Bitcoin dan altcoin berpeluang mengalami kenaikan tajam,” tegasnya.

INDODAX: Tensi Geopolitik Global Picu Aksi Jual

Secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin masih dibayangi tekanan jangka pendek. Market crash, likuidasi, serta sinyal teknikal yang melemah menunjukkan risiko penurunan lanjutan, terutama selama ketegangan geopolitik dan sentimen risk-off belum mereda.

Di sisi lain, kebijakan moneter dan pergerakan dolar AS menjadi faktor tambahan yang perlu dicermati. Meski berpotensi memicu volatilitas dalam waktu dekat, perubahan arah makro ini juga bisa membuka peluang pembalikan tren setelah tekanan  berakhir.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia