Berkaca pada Insiden Drainer Ledger, Adakah Cara Lebih Aman Menyimpan Kripto?

Kasus dugaan drainer yang menyeret pengguna Ledger di Asia Tenggara kembali membuka pertanyaan lama dalam kripto: apakah menyimpan aset sendiri lebih aman daripada mempercayakannya kepada pihak lain?

Ledger Selidiki Dugaan Kehilangan Dana Pengguna

Ledger pada Jumat (09/10/2026) mengonfirmasi sedang menyelidiki laporan kehilangan dana dari pengguna di Asia Tenggara yang membeli perangkat melalui reseller CryptoBilis, salah satu jalur penjualan produknya di kawasan ini.

Sebagai langkah pencegahan, perusahaan meminta CryptoBilis menghentikan sementara penjualan dan pengiriman perangkat. Pengguna yang membeli dalam 90 hari terakhir juga diminta tidak melakukan proses setup terlebih dahulu.

“Kami menyarankan pengguna Ledger yang membeli perangkat dari reseller ini dalam 90 hari terakhir untuk tidak melakukan proses pengaturan jika belum melakukannya,” ungkap Ledger Support.

Bagi pengguna yang telah mengaktifkan perangkat, Ledger menyarankan pemindahan aset ke signer baru dengan seed baru. Hingga kini, perusahaan belum memastikan bagaimana dana tersebut bisa terkuras.

Firma analitik blockchain Arkham, melalui unggahan di X pada Jumat (09/10/2026), menyebut setidaknya lebih dari US$80 juta dilaporkan telah berpindah dari pengguna Ledger yang diduga terdampak insiden tersebut.

“Lebih dari US$80 juta dilaporkan telah dikuras dari pengguna Ledger pekan ini melalui jaringan Bitcoin, Ethereum, dan Tron. Ledger masih melakukan investigasi, sementara penyebabnya belum dikonfirmasi,” tulis Arkham.

BACA JUGA:  Whale Mulai Bangun, Ethereum Siap Gas ke US$3.000?
Dompet Pelaku Drainer Ledger - Arkham Intelligence
Dompet Pelaku Drainer Ledger – Arkham Intelligence

Kasus Ledger Soroti Risiko Baru di Balik Keamanan Hardware Wallet

Kasus ini terasa mengejutkan karena Ledger bukan pemain baru. Perusahaan berdiri sejak 2014 dan menyebut lebih dari delapan juta perangkatnya telah terjual kepada pengguna di lebih dari 200 negara.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Hardware wallet selama ini dianggap aman karena private key dapat dipisahkan dari perangkat yang terus terhubung ke internet. Namun, keamanan model tersebut tetap bergantung pada kondisi perangkat yang diterima pengguna sejak awal.

Pendiri Binance, Changpeng Zhao, menilai informasi awal mengarah pada serangan supply chain yang terlokalisasi pada satu vendor. Menurutnya, sebagian pembeli mungkin menerima perangkat palsu atau perangkat yang telah dimodifikasi.

“Perangkat keras dapat dimodifikasi, sementara situs resmi perangkat lunak juga bisa diretas. Self-custody datang dengan tanggung jawab tambahan,” tulis CZ di X pada Jumat (09/10/2026), saat menanggapi risiko keamanan penyimpanan aset secara mandiri.

Pernyataan itu penting karena titik lemahnya tidak selalu berada pada hardware wallet itu sendiri. Perangkat dapat aman secara desain, tetapi perjalanan dari produsen hingga sampai ke tangan pembeli tetap menambah lapisan risiko.

Kalau Begitu, Lebih Aman Simpan Kripto di Mana?

Salah satu pendekatan yang layak dipertimbangkan adalah tidak menaruh seluruh aset pada satu titik. Dana transaksi, investasi jangka panjang, dan aset bernilai besar dapat ditempatkan pada lapisan penyimpanan berbeda.

BACA JUGA:  STONK, Hidden Gem Kripto yang Satukan Meme Coin dan Saham

CEX ternama juga bisa menjadi pilihan untuk sebagian dana, terutama bagi pengguna yang tidak nyaman memegang seed phrase sendiri. Konsekuensinya, kontrol private key berpindah kepada perusahaan dan muncul risiko kustodian.

Binance, misalnya, pernah kehilangan 7.000 BTC dari hot wallet pada 2019. Perusahaan menggunakan dana SAFU untuk menutup insiden tersebut sehingga kerugian tidak dibebankan kepada saldo pengguna.

10 Crypto Exchange Indonesia Terbaik 2026 yang Diawasi OJK

Bybit menghadapi ujian jauh lebih besar pada Februari 2025 ketika sekitar US$1,46 miliar aset keluar dari satu cold wallet. Audit berikutnya menunjukkan aset pelanggan memiliki rasio cadangan setidaknya satu banding satu.

Artinya, CEX bukan jawaban yang lebih aman. Model ini hanya memindahkan sebagian risiko dari keamanan seed phrase pribadi menuju keamanan operasional, solvabilitas, tata kelola, dan kemampuan pemulihan perusahaan.

Handphone Khusus Bisa Jadi Opsi, tetapi Bukan Jalan Pintas

Opsi lain yang menarik adalah menggunakan ponsel khusus sebagai wallet, misalnya iPhone baru yang hanya dipakai untuk menyimpan dan menandatangani transaksi kripto tanpa aplikasi harian yang tidak diperlukan.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Ketuk US$82.400 untuk Ketiga Kalinya, Kali Ini Bisa Jebol?

Dari sisi hardware, iPhone modern memiliki Secure Enclave yang terisolasi dari prosesor dan dirancang melindungi data sensitif. Namun, keberadaan fitur ini tidak membuat setiap aplikasi wallet menjadi cold wallet.

Hal serupa berlaku pada perangkat Samsung tertentu dengan Knox Vault. Sistemnya memiliki prosesor dan penyimpanan terisolasi, bahkan mendukung perlindungan kunci kriptografis serta kredensial blockchain pada perangkat yang kompatibel.

Jika memilih pendekatan ponsel khusus, perangkat sebaiknya memiliki passcode kuat, sistem terbaru, aplikasi seminimal mungkin, dan seed phrase tidak disimpan pada foto, catatan, email, maupun cadangan cloud biasa.

iPhone 18 Pro dan iPhone Duo untuk Pengguna Kripto, Seberapa Aman Menyimpan Wallet di iPhone Baru?

Pada akhirnya, keamanan kripto bukan soal mencari satu perangkat yang dianggap kebal. Strategi yang lebih realistis adalah membagi risiko, memverifikasi perangkat, menggunakan seed berbeda, dan menghindari satu titik kegagalan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait