Kerajaan Bhutan menyiapkan langkah strategis dengan memanfaatkan cadangan Bitcoin untuk mendukung pembangunan Gelephu Mindfulness City (GMC). Proyek ini akan menjadi pusat ekonomi baru yang menggabungkan inovasi teknologi, keberlanjutan, dan pendekatan pembangunan berbasis kesejahteraan.
GMC, Kota Masa Depan Berbasis Inovasi Berkelanjutan
Kerajaan Bhutan secara resmi mengumumkan rencana pemanfaatan hingga 10.000 Bitcoin untuk mendukung pembangunan Gelephu Mindfulness City (GMC), Rabu (17/12/2025). Langkah ini menegaskan posisi Bitcoin sebagai aset strategis dalam pembangunannya.
“Komitmen tersebut sejalan dengan visi Yang Mulia Raja Jigme Khesar Namgyel Wangchuck, yang mencerminkan niat Bhutan untuk menerapkan teknologi digital modern secara cermat, sabar, dan bertanggung jawab,” sebagaimana tercantum pada pengumuman tersebut.
GMC berlokasi di Gelephu, wilayah selatan Bhutan, dan diluncurkan pada 2024 sebagai kawasan administrasi khusus sekaligus pusat ekonomi baru. Proyek ini dirancang untuk memperkuat struktur ekonomi negara dan menciptakan sumber pertumbuhan jangka panjang.

Tujuan utama GMC adalah menekan arus migrasi generasi muda ke luar negeri. Dengan membuka lapangan kerja di dalam negeri, pemerintah berharap dapat mempertahankan talenta lokal sekaligus mendorong ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Sebagai kota masa depan, GMC menargetkan pengembangan lintas sektor, mulai dari keuangan, pariwisata, energi hijau, teknologi, layanan kesehatan, hingga pertanian modern. Kawasan ini juga menawarkan fleksibilitas regulasi bagi perusahaan kripto dan fintech.
Dari sisi skala, GMC merupakan proyek ambisius. Kawasan ini mencakup sekitar 1.544 mil persegi atau hampir 10 persen dari total wilayah Bhutan, menjadikannya proyek pembangunan kota terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Bukan Spekulasi, Bhutan Jadikan Bitcoin Aset Strategis
Pemerintah Bhutan menyatakan sekitar US$875 juta dalam bentuk Bitcoin akan dikelola melalui skema yang terukur, termasuk treasury, optimalisasi yield berbasis manajemen risiko, serta kepemilikan jangka panjang untuk menjaga nilai aset.
Kebijakan ini berfokus pada pelestarian potensi jangka panjang Bitcoin sekaligus memastikan pembangunan GMC berjalan stabil. Mereka menegaskan pendekatan yang digunakan bersifat konservatif, bukan spekulatif, dengan tata kelola yang kuat.
“Bhutan menyadari bahwa kekuatan jangka panjang Bitcoin terletak pada kemampuannya untuk menumbuhkan nilai secara berkelanjutan dari waktu ke waktu; karena itu, prioritas utamanya adalah menjaga potensi jangka panjang tersebut,” jelas mereka.
Dengan pendekatan tersebut, Bitcoin tidak hanya diposisikan sebagai sumber pendanaan, tetapi juga sebagai aset strategis yang dijaga nilainya untuk kepentingan ekonomi negara.
Bhutan dan Strategi Bitcoin Nasional yang Senyap
Bhutan saat ini tercatat sebagai negara dengan kepemilikan Bitcoin terbesar kelima di dunia. Mayoritas cadangan tersebut diperoleh melalui aktivitas penambangan Bitcoin yang didukung oleh sumber energi hidro bersih milik negara.
Berdasarkan data Bitbo, Bhutan memiliki 11.286 Bitcoin dengan nilai lebih dari US$978 juta. Angka ini menempatkan Bhutan dalam posisi unik, mengingat strategi akumulasi Bitcoin dilakukan secara konsisten dan relatif senyap selama beberapa tahun terakhir.
Pemanfaatan Bitcoin untuk GMC menegaskan posisi Bhutan sebagai pionir integrasi aset digital dalam kebijakan nasional. Ke depan, proyek ini diharapkan menjadi simbol pembangunan ekonomi yang inovatif dan berkelanjutan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



