Binance Buka Suara soal Tuduhan Penyebab Ambruknya Pasar Kripto

Binance akhirnya buka suara terkait gejolak pasar kripto yang terjadi pada 10 Oktober 2025. Lewat pengumuman resmi yang dirilis pada Senin (13/10/2025), bursa kripto terbesar di dunia itu menegaskan bahwa penurunan ekstrem bukan disebabkan oleh kesalahan sistem mereka, melainkan akibat tekanan jual besar-besaran di seluruh pasar kripto.

Volatilitas Ekstrem Pasar Kripto dan Respons Binance

Pada Sabtu, 11 Oktober 2025, antara pukul 03.50 hingga 05.00 WIB, pasar kripto diguncang gejolak hebat. Dalam waktu singkat, aksi jual masif terjadi, membuat pasar ambruk. Gelombang kepanikan pun meluas, menyebabkan kapitalisasi pasar menyusut drastis dan menimbulkan kekhawatiran.

Di Balik Anjloknya Pasar Kripto, Apakah Binance yang Jadi Sasaran Utama?

Sebagai crypto exchange terbesar, Binance bergerak cepat melakukan peninjauan untuk memastikan stabilitas sistem. Langkah ini diambil guna merespons kekhawatiran komunitas dan memastikan tidak ada gangguan teknis yang memperburuk kondisi volatilitas ekstrem pada saat itu.

IKLAN
Chat via WhatsApp
BACA JUGA:  Binance Diam-diam Serok Bitcoin Rp7,17 Triliun Lewat SAFU

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh sistem inti—termasuk matching engine untuk spot dan futures serta API—berfungsi normal selama periode tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa krisis dipicu oleh faktor eksternal, bukan disebabkan oleh kegagalan teknis di Binance.

Menanggapi berbagai rumor yang menuding Binance sebagai pemicu utama kejatuhan pasar kripto, perusahaan itu memberikan klarifikasi. Mereka menegaskan bahwa kontribusinya terhadap lonjakan volatilitas sangat kecil dan bukan penyebab utama krisis. 

“Data menunjukkan bahwa volume likuidasi paksa di Binance hanya berkontribusi kecil terhadap total volume perdagangan. Volatilitas ini murni dipicu oleh kondisi pasar secara keseluruhan,” tulis pihak bursa dalam pernyataannya.

Investigasi lanjutan mengungkap bahwa anomali harga disebabkan oleh order limit lama, beberapa bahkan berasal dari 2019—yang masih aktif di sistem. Ketika likuiditas menipis dan buy order berkurang, pesanan lama otomatis tereksekusi, menciptakan pergerakan abnormal.

BACA JUGA:  Hyperliquid Jadi Raja Likuiditas, Geser Binance

Selain itu, Binance juga menemukan bug di UI. Perubahan pada jumlah desimal minimum di beberapa pasangan perdagangan, seperti IOTX/USDT, membuat harga terlihat “nol”, meski transaksi sebenarnya tidak pernah mencapai level tersebut. 

Binance menegaskan, “Ini murni masalah tampilan, bukan harga sesungguhnya.” Sementara itu, mereka juga mengakui adanya gangguan teknis singkat pada pukul 04.18 WIB, yang turut memicu depegging sementara pada sejumlah aset di tengah tekanan ekstrem.

https://blockchainmedia.id/mengenal-mekanisme-depegging-pada-stablecoin/

Binance Beri Kompensasi, Investor Harus Tetap Hati-hati

Sebagai bagian dari tanggung jawabnya, Binance memberikan kompensasi bagi pengguna. Kompensasi pertama diberikan kepada pengguna produk Earn yang mengalami depegging pada aset seperti USDE, BNSOL, dan WBETH. Binance menegaskan bahwa total dana yang disalurkan mencapai sekitar US$283 juta.

Selain itu, Binance menanggung kerugian yang timbul akibat keterlambatan proses transfer dan Earn redemption, yang menghambat pengisian margin saat pasar crypto bergerak liar. Setiap kasus pengguna ditinjau secara individual untuk memastikan kompensasi diberikan secara adil.

BACA JUGA:  Volatilitas Pasar Bitcoin Tertinggi Sejak 2022, Siap Masuk Fase Baru

Meski menawarkan kompensasi, peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi investor bahwa kripto sangat volatil dan berisiko. Penting bagi setiap trader dan investor untuk berinvestasi sesuai kemampuan, mengelola posisi dengan hati-hati, dan menerapkan kontrol risiko. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia