Peretasan besar yang menimpa Binance bukan hanya mengguncang salah satu bursa kripto terbesar dunia. Insiden ini juga kembali memunculkan pertanyaan lama: apakah trader akan semakin tertarik beralih ke decentralized exchange atau DEX?
Standard Chartered Lihat Momentum Besar bagi DEX
Dikutip dari laporan Cointelegraph pada Jumat (30/10/2026), Kepala Riset Aset Digital Global Standard Chartered, Geoffrey Kendrick, menilai insiden Binance dapat mempercepat pergeseran aktivitas perdagangan dari CEX menuju DEX.
Menurutnya, perubahan mungkin tidak terjadi secara instan karena pasar masih mencerna dampak peretasan. Namun, insiden keamanan besar pada platform terpusat dapat membuat trader kembali mempertimbangkan DEX.
“Bursa terdesentralisasi (DEX) tidak pernah mengalami eksploitasi, dan peretasan terhadap Binance sebagai bursa terpusat (CEX) terbesar seharusnya membuat rasio perdagangan DEX terhadap CEX terus meningkat,” ujarnya.
Pandangannya kemudian mengarah pada Uniswap. Kendrick melihat DEX tersebut berada dalam posisi menarik apabila aktivitas perdagangan terdesentralisasi terus mengambil porsi lebih besar dari platform terpusat.
“Saya mendorong investor untuk kembali mempertimbangkan Uniswap,” katanya.
Menariknya, kecenderungan menuju DEX sudah terlihat sebelum pembobolan Binance. Riset CoinGecko menunjukkan rasio volume spot sepuluh DEX terbesar terhadap CEX mencapai 23,5 persen pada kuartal kedua 2026.

Angka itu naik 2,1 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Jika tren berlanjut, peretasan Binance berpotensi menjadi katalis tambahan yang memperkuat posisi DEX dalam ekosistem perdagangan kripto.
Uniswap Jadi Sorotan, UNI Diincar ke US$100
Dari berbagai DEX, Kendrick menaruh perhatian pada Uniswap. Ia menargetkan harga UNI mencapai US$100 pada 2030, meski token tersebut saat ini masih tertekan bersama pasar kripto secara keseluruhan.
Bahkan, Kendrick menyebut pembobolan Binance sebagai “alasan mengapa perkiraan itu mungkin terlalu rendah.” Pernyataan ini mencerminkan keyakinannya bahwa pertumbuhan perdagangan on-chain dapat memberikan keuntungan besar bagi Uniswap.
Proyeksi itu juga sejalan dengan pandangan Standard Chartered sebelumnya mengenai perkembangan DeFi. Bank ini memperkirakan nilai aset yang terkunci dalam ekosistem keuangan terdesentralisasi dapat mencapai US$2,7 triliun pada 2030.
Dalam skenario tersebut, Uniswap bisa menjadi salah satu pusat perdagangan penting bagi aset tokenisasi. Jika semakin banyak aktivitas keuangan berpindah ke infrastruktur on-chain, peran DEX besar seperti Uniswap berpotensi semakin strategis.
Artinya, kasus Binance mungkin tidak berhenti sebagai persoalan keamanan. Insiden ini juga dapat mengangkat perdebatan mengenai keuntungan memperdagangkan aset melalui DEX infrastruktur terdesentralisasi dibandingkan CEX.
Pasar Masih Tertekan, Efek Peretasan Belum Selesai
Meski prospek jangka panjang DEX dinilai semakin menarik, Kendrick belum melihat tekanan pasar sudah berakhir. Ia memperkirakan aset kripto masih berpotensi mengalami pelemahan dalam waktu dekat.
Reaksi awal pasar memang terlihat cukup keras. Setelah kabar peretasan bursa Binance mencuat, BNB turun lebih dari 8 persen dalam 24 jam, sementara Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$77.000.
Kondisi ini menunjukkan bahwa narasi DEX sebagai pihak yang diuntungkan dari insiden Binance belum langsung tercermin pada pergerakan harga. Pasar menunggu kejelasan mengenai dana yang dibekukan serta detail serangan.
“Hanya setelah aset dicairkan dan lebih banyak detail mengenai peretasan muncul, kita akan menemukan dasar baru,” ujar Kendrick.
Untuk saat ini, perhatian masih tertuju pada pemulihan Binance. Namun, jika kepercayaan terhadap CEX ikut terdampak, insiden ini bisa menjadi katalis bagi DEX untuk merebut porsi perdagangan yang lebih besar.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


