Bisnis tambang Bitcoin sedang memasuki fase yang tidak biasa. Hashrate melemah, margin penambang tertekan, sementara kecerdasan buatan mulai dilirik sebagai jalur baru untuk memanfaatkan energi dan infrastruktur yang sudah tersedia.
Hashrate Bitcoin Masuk Fase yang Belum Pernah Terjadi
Industri Bitcoin mining selama bertahun-tahun identik dengan pertumbuhan hashrate yang agresif. Namun, Rapha Zagury, CEO Twenty One Capital sekaligus pendiri Elektron Energy, melihat pola tersebut mulai berubah cukup drastis.
Dikutip dari keynote di Bitcoin Asia 2026 pada Kamis (27/08/2026), Zagury menggambarkan kondisi saat ini sebagai wilayah yang belum sepenuhnya dipetakan karena dinamika jaringan mulai menyimpang dari pola sebelumnya.
“Saya rasa, ada masa-masa menarik yang menanti Bitcoin, terutama karena kita berada dalam kondisi yang benar-benar baru dan perlu mulai memikirkannya. Saat ini, kita sedang melewati bear market hashrate pertama yang pernah terjadi sepanjang sejarah Bitcoin,” jelasnya.
Hashrate jaringan sempat mendekati 1,3 zettahash pada akhir tahun lalu sebelum turun secara bertahap. Jarak dari puncak menuju proses pemulihan juga menjadi yang terpanjang sepanjang sejarah Bitcoin.
Situasi tersebut berbeda dari tekanan pada 2021 ketika larangan mining di Tiongkok membuat hashrate jatuh dengan cepat. Saat itu, mesin penambang berpindah ke wilayah lain dan jaringan kemudian berangsur pulih.
Tekanan serupa terlihat pada awal 2026. Laporan sebelumnya mencatat mining difficulty Bitcoin turun sekitar 11 persen pada Februari, menjadi penurunan terbesar sejak gelombang larangan BTC mining Tiongkok pada 2021.
Bitcoin Mining Tak Selalu Buruk, Efisiensi Jadi Kunci
Meski industrinya sedang tertekan, Zagury menolak anggapan bahwa Bitcoin mining otomatis menjadi bisnis buruk. Menurutnya, kondisi setiap perusahaan dapat berbeda meskipun mereka beroperasi pada jaringan dan pasar yang sama.
Untuk menjelaskan mengapa sebagian miner mampu bertahan sementara lainnya tumbang, Zagury menyoroti bagaimana perusahaan membangun bisnisnya sejak awal, terutama saat kondisi industri tidak lagi semudah sebelumnya.
“Hal tersebut lebih berkaitan dengan struktur modal dan struktur biaya mereka dibandingkan hash price, harga Bitcoin, maupun kondisi jaringan saat ini,” jelasnya.
Dua perusahaan dapat menjalankan aktivitas mining serupa tetapi menghasilkan margin yang berbeda. Operator dengan listrik murah dan ASIC efisien masih bisa bertahan, sedangkan pemain berbiaya tinggi berisiko mematikan mesin.
Tekanan semakin terasa karena hash price masih relatif rendah dibandingkan level historis. Dalam kondisi seperti ini, biaya listrik, efisiensi perangkat, serta beban utang dapat menentukan siapa yang mampu bertahan.
Situasi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan lain. Jika ingin mendapat eksposur terhadap Bitcoin, apakah lebih menarik berinvestasi pada perusahaan mining atau langsung membeli BTC?
“Jika hanya memiliki US$1, beli Bitcoin terlebih dahulu. Menurut saya, itu merupakan cara terbaik untuk mengekspresikan pandangan terhadap Bitcoin,” ujar Zagury, meski mining tetap dianggap masuk akal sebagai bagian dari diversifikasi.
Secara fundamental, peluang mining mengungguli Bitcoin meningkat ketika harga BTC tumbuh lebih cepat daripada hashrate jaringan. Sebaliknya, kompetisi yang meningkat terlalu cepat dapat menggerus bagian pendapatan masing-masing miner.
AI Jadi Peluang Baru Penambang Bitcoin
Di tengah tekanan tersebut, muncul peluang yang sulit diabaikan. Infrastruktur energi dan pusat data milik perusahaan mining ternyata dapat diarahkan ke sektor lain yang saat ini sedang berkembang.
“Menurut saya, bisnis mining juga membuka berbagai pilihan yang sebelumnya belum tersedia. Salah satu yang paling jelas adalah peluang di sektor AI dan high-performance computing,” tuturnya
Bagi Zagury, nilai aset perusahaan mining tidak hanya berasal dari BTC yang dihasilkan. Akses terhadap listrik, lahan, serta infrastruktur pusat data memberi ruang untuk mengeksplorasi model bisnis lain ketika kondisi pasar berubah.
Tren tersebut mulai terlihat pada MARA. Perusahaan itu mengagunkan 18.750 BTC untuk memperoleh pendanaan US$600 juta, sekaligus membuka ruang ekspansi menuju sektor energi, AI, dan infrastruktur HPC.
Langkah itu muncul ketika bisnis utamanya sedang berada di bawah tekanan. Pada kuartal kedua 2026, MARA membukukan rugi bersih US$611,3 juta, sementara pendapatannya turun 27 persen menjadi US$174,9 juta.
Putar Haluan ke AI, Perusahaan Bitcoin Mining Ini Agunkan 18.750 BTC
MARA juga berencana mengembangkan aset Long Ridge Energy & Power untuk kebutuhan AI dan HPC. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pembangkit listrik sekitar 505 megawatt serta lahan industri lebih dari 1.600 acre.
Peralihan menuju AI juga tidak berhenti pada MARA. CoreWeave, Hut 8, Iren, dan TeraWulf mulai memanfaatkan infrastruktur pusat data mereka untuk menangkap permintaan komputasi dari industri kecerdasan buatan.
Meski begitu, pergeseran menuju AI tidak otomatis menandakan berakhirnya Bitcoin mining. Zagury menilai perusahaan yang mampu bertahan saat hashrate melemah justru berpeluang memperoleh pangsa jaringan lebih besar ketika pesaing mundur.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


