Bitcoin Belum Mati, 3 Indikator Ini Justru Isyaratkan Fase Bottom Besar

Bitcoin masih berada di bawah tekanan setelah sempat turun ke area terendah siklus terbaru. Namun, analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant menilai kondisi saat ini belum menunjukkan kegagalan struktural pada aset kripto terbesar tersebut.

Sebaliknya, sejumlah indikator justru mengisyaratkan bahwa pasar sedang memasuki fase pembentukan dasar atau bottom yang penting.

Dalam analisis terbarunya, XWIN Japan menjelaskan bahwa pelemahan Bitcoin terjadi di tengah persaingan ketat memperebutkan aliran modal global.

Menurutnya, dana investor saat ini banyak mengalir ke sektor kecerdasan buatan (AI) serta potensi gelombang penawaran saham perdana (IPO) perusahaan teknologi besar, sehingga pasar kripto mengalami kekurangan pembeli baru.

“Bitcoin tidak mengalami kegagalan struktural. Pasar hanya sedang mengalami kekurangan permintaan sambil bersaing dengan narasi investasi terkuat di pasar global saat ini,” ujar XWIN Japan.

Meski demikian, data on-chain menunjukkan sejumlah sinyal yang berbeda dari persepsi pesimistis yang berkembang di pasar.

Tiga Indikator On-Chain Mulai Tunjukkan Fase Akumulasi

XWIN Japan menyoroti tiga indikator on-chain utama yang menurutnya dapat membantu mengidentifikasi posisi pasar saat ini, yakni rasio LTH-SOPR terhadap STH-SOPR, Supply in Profit, serta posisi harga terhadap Moving Average (MA) 200 dan Realized Price.

BTC SOPR

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Pada indikator pertama, rasio LTH-SOPR/STH-SOPR tercatat mengalami penurunan tajam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemegang jangka panjang tidak lagi merealisasikan keuntungan besar seperti yang terjadi selama fase bullish sebelumnya. Situasi itu mengindikasikan bahwa tekanan ambil untung dari investor lama mulai berkurang.

BTC Supply in profit

Sementara itu, indikator Supply in Profit memperlihatkan hanya sekitar 47 persen pasokan Bitcoin yang masih berada dalam posisi untung. Artinya, lebih dari separuh pemegang Bitcoin saat ini berada di titik impas atau mengalami kerugian.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Lagi Naik, Tapi Risiko Crash Besar Mengintai

Angka tersebut jauh berbeda dibandingkan fase bull market ketika lebih dari 90 persen pasokan biasanya berada dalam kondisi cuan.

BTC MA20

Di saat yang sama, harga Bitcoin juga semakin mendekati dua level valuasi historis yang selama ini dikenal sebagai area support utama dalam siklus bear market, yakni MA200 dan Realized Price.

Dalam beberapa siklus sebelumnya, kedua level tersebut berulang kali menjadi fondasi pembentukan bottom harga sebelum tren naik baru dimulai.

Menurut XWIN Japan, kombinasi ketiga indikator tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar ekses spekulatif telah tersapu dari pasar. Sentimen investor juga telah bergeser dari euforia menuju kehati-hatian, sehingga banyak pelaku pasar memasuki fase menunggu dan akumulasi.

Meski belum dapat memastikan bahwa dasar harga sudah terbentuk sepenuhnya, ia menilai pasar saat ini sedang berada dalam fase pengujian bottom yang kritis dan berpotensi menentukan arah pergerakan berikutnya.

Pasar Futures Jual, Pasar Spot Borong Bitcoin

Di tengah analisis on-chain tersebut, BTC tengah diperdagangkan di kisaran US$63.417, setara Rp1,14 miliar. Dalam 24 jam terakhir, aset ini mencatat kenaikan sekitar 4,18 persen, meskipun tekanan jual masih terlihat pada sejumlah segmen pasar derivatif.

Analis pasar Ninedex menilai penurunan Bitcoin selama beberapa bulan terakhir belum tentu mencerminkan resesi kripto yang sesungguhnya. Dalam analisisnya, ia menyoroti perbedaan mencolok antara aktivitas pasar spot dan pasar futures.

BTC analisis 8 jun

Menurut Ninedex, apabila penurunan harga BTC benar-benar dipicu oleh ketakutan pasar atau tekanan jual alami, maka baik pasar spot maupun futures seharusnya sama-sama menunjukkan dominasi volume jual.

BACA JUGA:  Narasi Bearish Tak Mempan, Bitcoin Kalahkan Performa Emas dan Saham

Namun, yang terjadi justru berbeda. Ia menemukan bahwa pasar futures dipenuhi aktivitas jual, sementara pada saat yang sama pasar spot menerima tekanan beli yang besar.

Temuan tersebut membuatnya menyimpulkan bahwa penurunan yang terjadi lebih menyerupai “liquidation show” atau operasi likuidasi yang dimanfaatkan untuk mengakumulasi Bitcoin.

Ninedex menjelaskan bahwa pelaku besar seperti market maker dan institusi tertentu memiliki akses terhadap berbagai fasilitas khusus dari bursa, termasuk API berkecepatan tinggi, biaya transaksi yang sangat rendah, serta akses terhadap data likuidasi secara rinci dan real-time. Dengan kombinasi tersebut, mereka dapat mengetahui area harga yang memiliki akumulasi posisi long dan short terbesar.

Dalam skenario yang ia paparkan, pelaku besar dapat membuka posisi short dalam jumlah besar sebelum memicu gelombang likuidasi long. Setelah posisi long dilikuidasi, dana yang keluar dari pasar derivatif kemudian dimanfaatkan untuk melakukan pembelian Bitcoin di pasar spot.

Menurut Ninedex, fenomena tersebut juga berpotensi menjelaskan mengapa cadangan Bitcoin di berbagai bursa terus menyusut dalam beberapa waktu terakhir.

Jika pasar benar-benar berada dalam fase resesi kripto yang parah, seharusnya lebih banyak investor mengirim BTC ke bursa untuk dijual, bukan justru menariknya keluar dari platform perdagangan.

BACA JUGA:  Bukan Karena Strategy, Citigroup Beberkan Alasan Harga BTC Anjlok

Selain itu, pandangan yang lebih berhati-hati datang dari analis CryptoZ. Ia mengakui bahwa Bitcoin telah menunjukkan pemulihan jangka pendek sesuai ekspektasinya, namun menilai tren turun masih belum sepenuhnya berakhir.

Bitcoin analisis 8 jn

CryptoZ memperkirakan area sekitar US$64.000 menjadi target pemulihan yang cukup realistis dalam waktu dekat. Menurutnya, pasar masih dipenuhi order jual yang menumpuk sehingga investor perlu berhati-hati terhadap potensi FOMO.

Ia juga mengingatkan pelaku pasar untuk tidak terburu-buru membuka posisi long hanya karena melihat pemulihan jangka pendek. Menurutnya, ekspektasi bahwa Bitcoin akan langsung membentuk pemulihan berbentuk V menuju area US$67.000 merupakan kesalahan yang sering dilakukan investor pemula.

Ia menilai Bitcoin secara historis jarang mengalami pemulihan tajam seperti itu setelah melewati proses pembentukan dasar harga yang berlangsung secara bertahap. Karena itu, ia lebih melihat peluang pergerakan ranging di area US$60.000 hingga US$64.000 sebelum pasar menentukan arah tren berikutnya.

Kombinasi data on-chain dari CryptoQuant, aktivitas pasar spot dan futures yang diamati Ninedex, serta pandangan teknikal CryptoZ menunjukkan bahwa Bitcoin masih berada pada fase penting.

Meskipun tekanan belum sepenuhnya hilang, sejumlah indikator mulai mengarah pada kemungkinan bahwa pasar sedang membangun fondasi untuk siklus berikutnya, bukan memasuki fase keruntuhan struktural.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait