Bitcoin Belum Rontok, tapi US$65.000 Mulai Jadi Skenario Serius

Bitcoin kembali berada di persimpangan. Tekanan makro masih membayangi, tetapi BTC tetap bertahan di kisaran US$76.000, sementara zona US$65.000 mulai muncul sebagai level penting jika koreksi kembali berlanjut.

Bitcoin Bertahan Meski Dihantam Dua Kabar Berat

Sehari setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin, Bitcoin tidak langsung ambruk. Laporan sebelumnya mencatat BTC bertahan di atas US$75.000 setelah sempat bergerak dari kisaran US$76.500.

Tekanan tersebut datang setelah pasar lebih dulu diguncang kegagalan voting prosedural CLARITY Act. Senat AS mencatat 49 suara setuju dan 50 menolak, membuat RUU itu tertahan sementara.

Pada saat yang hampir bersamaan, The Fed menaikkan target federal funds rate menjadi 3,75 hingga 4,00 persen. Keputusan bulat 12-0 itu kembali menambah tekanan bagi aset berisiko.

Bitcoin Tak Goyah Usai Fed Rate Naik, Siap Balik ke US$80.000?

Analis kripto Quinten Francois menyoroti kombinasi tersebut dengan nada keras. Menurutnya, kenaikan suku bunga dan tersendatnya CLARITY Act seharusnya menjadi paket sentimen yang sangat tidak nyaman bagi kripto.

“Pada dasarnya, ini menjadi salah satu skenario paling buruk yang dihadapi kripto. Namun entah bagaimana, Bitcoin bertahan US$16.000 di atas level yang sebelumnya diyakini banyak orang bakal ditembus ke bawah,” jelasnya di X, Kamis (17/09/2026).

BACA JUGA:  Bitcoin Bull Score Tembus 60, Mungkinkah BTC Naik ke US$82.000?

Alih-alih terjun lebih dalam, BTC justru mampu menyerap dua tekanan besar tersebut. Respons itu belum menghapus risiko koreksi, tetapi menunjukkan pasar juga belum masuk fase kepanikan penuh.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Analis Pasang Bid hingga US$65.000, Bitcoin Mulai Cari Pijakan

Dari sisi teknikal, analis ternama lain, Jelle, melihat bahwa Bitcoin telah keluar dari local range dan kini mencoba melakukan retest dari bawah. Pola ini membuat kemampuan BTC merebut kembali area lama menjadi ujian berikutnya.

Dalam grafik yang dibagikannya, BTC berada sekitar US$76.500. Area US$79.000 hingga US$82.500 terlihat sebagai resistance penting yang perlu direbut agar struktur jangka pendek mulai terlihat lebih sehat.

Proyeksi Pergerakan Harga Bitcoin - Jelle
Proyeksi Pergerakan Harga Bitcoin – Jelle

Namun, jika retest tersebut kembali gagal, perhatian beralih ke bawah. Jelle menempatkan support terdekat sekitar US$70.500 hingga US$72.500 sebelum area yang jauh lebih kuat mulai terbuka.

“Saya saat ini mulai memasang bid secara bertahap di kisaran US$70.000 hingga US$65.000. Sekarang tinggal melihat bagaimana pergerakan pasar selanjutnya,” tulisnya di X, Kamis (17/09/2026).

Bukan CLARITY Act Saja, Likuiditas Bisa Pegang Kunci

Meski begitu, CEO Alphractal, Joao Wedson, mengingatkan agar tidak menjadikan CLARITY Act sebagai satu-satunya kompas. Menurutnya, berita dan regulasi lebih sering memicu volatilitas jangka pendek.

BACA JUGA:  Bitcoin Tunggu Keputusan The Fed, US$83.000 Jadi Gerbang Reli Berikutnya

Pergerakan struktural, menurut Wedson, justru lebih banyak lahir dari likuiditas, positioning, serta aktivitas market maker. Faktor-faktor itu bahkan bisa meninggalkan jejak sebelum sebuah headline ramai dibicarakan publik.

“Harga sering mulai menceritakan kisahnya sebelum headline muncul. Cari penyebabnya, bukan efeknya,” ungkap Wedson lewat sebuah tweet di X, Kamis (17/09/2026).

CLARITY Act Tumbang di Voting Senat, Tapi Ceritanya Belum Selesai

Sudut pandang tersebut membuat ketahanan BTC di sekitar US$75.000 lebih menarik. Harga memang belum merebut resistance atas, tetapi dua katalis negatif juga tidak menghasilkan kapitulasi yang ekstrem.

Karena itu, arah selanjutnya tidak hanya ditentukan keputusan suku bunga atau regulasi. Arus likuiditas, posisi pelaku pasar, dan respons market maker tetap menjadi bagian penting untuk membaca langkah berikutnya.

BTC Goyah, Difficulty Jadi Sinyal yang Patut Dipantau

Di luar faktor pasar jangka pendek, PlanB membawa indikator lain ke dalam pembahasan, yakni mining difficulty. Grafik Block Horizon miliknya mencatat difficulty Bitcoin berada di sekitar 127,45 triliun.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Siap Tancap Gas, Aksi Ini Bisa Bawa BTC ke US$84 Ribu

Indikator ini mengukur tingkat kesulitan penambang menemukan blok baru dan menyesuaikan diri dengan kekuatan komputasi. Ketika daya komputasi bertambah, difficulty biasanya ikut meningkat untuk menjaga ritme produksi blok.

Karena itu, difficulty bukan sinyal harga seperti support atau resistance. Namun, pergerakannya dapat memberi gambaran apakah aktivitas komputasi dan kekuatan jaringan Bitcoin sedang menguat atau justru melemah.

PlanB menilai perubahan berikutnya pada BTC mining difficulty layak diperhatikan sebagai salah satu konfirmasi dari sisi jaringan, terutama ketika harga Bitcoin sendiri masih berusaha mencari arah yang lebih jelas.

Bitcoin Mining Difficulty - PlanB
Bitcoin Mining Difficulty – PlanB

Dalam konteks saat ini, indikator tersebut tepat menjadi pelengkap untuk membaca kondisi Bitcoin. Kenaikan difficulty dapat memperkuat gambaran fundamental jaringan, tetapi tidak otomatis membuat harga BTC bergerak naik.

Dengan begitu, BTC masih menghadapi dua ujian. US$70.000 hingga US$65.000 menjadi zona bawah penting, sementara pemulihan ke US$79.000-US$82.500 diperlukan untuk memperbaiki struktur bullish.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait