Bitcoin Biasanya Turun Dulu Lalu Reli Pasca Konflik, Akankah Terulang?

Ketegangan geopolitik terbaru antara AS dan Iran memicu gelombang aksi jual besar di pasar kripto, dengan Bitcoin (BTC) yang mengalami tekanan signifikan di segmen derivatif.

Data on-chain dari analis Darkfost di CryptoQuant menunjukkan volume jual melonjak sekitar US$1,8 miliar hanya dalam satu jam pada perdagangan dini hari waktu AS, seiring meningkatnya kepanikan pelaku pasar terhadap eskalasi konflik.

Lonjakan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan serangan militer skala besar terhadap Iran. Ledakan dilaporkan terjadi di Teheran, sementara Israel disebut melakukan serangan terkoordinasi.

Trump menyatakan operasi itu bertujuan melumpuhkan kemampuan militer Iran dan menghilangkan program nuklirnya, serta menyerukan perubahan rezim. Media pemerintah Iran melaporkan negara itu tengah mempersiapkan pembalasan, sementara peringatan rudal terdengar di berbagai wilayah Israel.

IKLAN
Chat via WhatsApp

pasar derivatif Bitcoin

Darkfost mencatat bahwa respons pasar kripto terhadap perkembangan tersebut terlihat jelas melalui penurunan tajam indikator derivatives pressure index dari 30 persen menjadi 18 persen. Penurunan ini mencerminkan dominasi penjual dan meningkatnya aversi risiko jangka pendek di pasar Bitcoin.

BACA JUGA:  Menguji Petunjuk Jeffrey Epstein adalah Satoshi Nakamoto

“Ketika tekanan jual di derivatif meningkat tajam dalam waktu singkat, itu menunjukkan pergeseran sentimen yang cepat menuju kondisi sangat bearish,” ungkap Darkfost.

Panic Selling Dominasi Pasar Bitcoin Jangka Pendek

Menurut Darkfost, lonjakan volume jual sekitar US$1,8 miliar terjadi akibat market sell order agresif yang langsung menghantam order book. Kondisi ini membuat pasar menjadi lebih volatil dan sulit diprediksi.

Dalam situasi seperti itu, arus dana cenderung digerakkan oleh emosi dan manajemen risiko, bukan faktor struktural jangka panjang.

Dominasi posisi short dan tekanan likuidasi meningkatkan risiko pergerakan harga yang tajam dalam waktu singkat. Pasar Bitcoin menunjukkan karakter defensif, di mana pelaku pasar memilih mengurangi eksposur seiring meningkatnya ketidakpastian global.

Namun, Darkfost juga menyoroti bahwa ketika konsensus pasar terlalu condong ke satu arah, kondisi ekstrem tersebut kerap membuka peluang pembalikan teknikal. Fase yang didorong kepanikan dinilai dapat menciptakan ruang bagi rebound, meskipun waktu terjadinya sulit dipastikan.

BACA JUGA:  Harga Ethereum di Zona Kritis, Ada Peluang Rebound

Pola Historis: Turun Dulu, Lalu Reli?

Di tengah tekanan tersebut, analis Ted mengingatkan adanya pola historis pergerakan Bitcoin saat konflik geopolitik besar terjadi.

pola harga BTC

Pada Februari 2022, ketika Rusia menyerang Ukraina, Bitcoin sempat turun tajam sebelum kemudian reli sekitar 40 persen. Pada Juni 2025, saat Israel menyerang Iran, aset kripto tersebut kembali melemah terlebih dahulu sebelum bangkit dan mencatat kenaikan sekitar 25 persen.

Pada Februari 2026, setelah AS melancarkan serangan terhadap Iran, pola serupa kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Ted mempertanyakan apakah pola “turun lebih dulu lalu reli” akan kembali terulang pada siklus kali ini.

Data historis tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin sering kali mengalami tekanan awal akibat sentimen risiko global, sebelum kemudian bergerak naik seiring meredanya kepanikan dan masuknya kembali likuiditas. Meski demikian, setiap konflik memiliki konteks dan dinamika berbeda, sehingga pola tersebut mungkin saja tidak terulang.

BACA JUGA:  Skyholic: Kripto Rusak Bukan Karena Teknologi, Tapi Manusianya

Sementara itu, dari sisi teknikal jangka pendek, analis Crypto Cove mengidentifikasi pola bullish flag pada BTC di time frame 30 menit. Setelah mencatat kenaikan tajam sebagai tiang pola (flagpole), harga bergerak dalam kanal menurun sempit yang membentuk fase konsolidasi.

BTC

Struktur tersebut dinilai sebagai pola kelanjutan tren, selama harga tidak menembus batas bawah pola flag tersebut. Crypto Cove memproyeksikan bahwa apabila terjadi breakout yang valid di atas resistance pola, BTC berpotensi melanjutkan kenaikan menuju kisaran US$71.600

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia