Ketegangan geopolitik kembali memantik narasi baru di pasar kripto. Di tengah konflik yang memanas di Iran, Bitcoin mulai dipandang bukan hanya sebagai “emas digital”, tetapi juga sebagai alternatif sistem keuangan global yang lebih netral.
Konflik Iran-AS Dorong Narasi Baru Bitcoin
Berdasarkan analisis CIO Bitwise, Matt Hougan, yang diunggah pada Selasa (14/06/2026), konflik Iran menjadi katalis tak terduga bagi perubahan persepsi terhadap Bitcoin. Ketegangan geopolitik ini menggeser cara pandang pasar terhadap peran aset kripto tersebut.
Selama ini, Bitcoin sering disandingkan dengan emas sebagai store-of-value. Namun, dinamika terbaru menunjukkan bahwa fungsinya tidak lagi sebatas penyimpan nilai, melainkan mulai merambah ke ranah yang lebih luas.
Hougan menyoroti rencana Iran untuk mengenakan biaya kripto bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Menurutnya, skenario ini membuka kemungkinan baru bahwa Bitcoin dapat digunakan layaknya mata uang dalam aktivitas ekonomi lintas negara.
“Ini menunjukkan sebuah realitas yang melampaui konflik saat ini: di dunia di mana banyak negara telah menjadikan sistem keuangan sebagai alat senjata, Bitcoin muncul sebagai alternatif yang netral secara politik,” jelasnya.
Kripto Jadi Senjata Iran di Selat Hormuz, Tapi Risiko Baru Mengintai
Lebih jauh, ia menambahkan bahwa perkembangan ini menjadi sinyal kuat bahwa potensi pasar Bitcoin tidak lagi terbatas pada fungsi sebagai penyimpan nilai semata, tetapi juga sebagai alat transaksi global.
Dari “Emas Digital” ke Mata Uang Global?
Perubahan ini menjadi titik penting dalam proyeksi jangka panjang Bitcoin. Hougan sebelumnya memperkirakan bahwa jika Bitcoin mampu merebut sekitar 17 persen dari pasar penyimpan nilai dalam satu dekade, harganya berpotensi menyentuh US$1 juta.
Namun, dengan adanya kemungkinan peran ganda Bitcoin sebagai aset sekaligus mata uang, target tersebut dinilai bisa jauh lebih tinggi. Ia melihat adanya perluasan fungsi yang secara langsung berdampak pada valuasi jangka panjang.
“Jika Bitcoin mulai mengambil peran ganda sebagai penyimpan nilai seperti emas dan juga sebagai mata uang nyata seperti dolar, maka kita mungkin perlu merevisi target kami ke level yang lebih tinggi,” ujar Hougan.
Narasi ini menunjukkan bahwa Bitcoin tidak lagi hanya bersaing dengan emas, tetapi juga mulai masuk ke wilayah dominasi fiat seperti dolar AS. Jika adopsi terjadi, lanskap keuangan global berpotensi mengalami perubahan besar.
Dengan kata lain, Bitcoin kini berada di persimpangan penting: antara tetap berperan sebagai aset lindung nilai atau melangkah lebih jauh menjadi fondasi baru dalam sistem keuangan global.
Market Bitcoin Berpotensi Lampaui Emas
Dari sisi valuasi, jarak antara Bitcoin dan emas memang masih cukup lebar. Berdasarkan data CompaniesMarketCap, kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini berada di kisaran US$1,48 triliun, dengan harga sekitar US$74.000 per BTC.
Di sisi lain, emas masih mendominasi dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$33,6 triliun dan harga sekitar US$4.854 per ons. Posisi ini menjadikan emas sebagai tolok ukur utama dalam kategori aset penyimpan nilai.

Meski begitu, Matt Hougan melihat ruang pertumbuhan yang jauh lebih besar untuk Bitcoin. Ia menilai bahwa jika adopsi meluas, tidak hanya sebagai aset tetapi juga sebagai mata uang, maka total kapitalisasi pasar BTC berpotensi melampaui emas.
Pandangan ini mempertegas bahwa narasi Bitcoin terus berkembang. Dari sekadar alternatif investasi, kini ia mulai dipandang sebagai kandidat fondasi baru dalam sistem keuangan, terutama di tengah kondisi geopolitik yang semakin terfragmentasi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


