Bitcoin kembali menjadi perhatian setelah analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant memperingatkan bahwa risiko terbesar pasar saat ini bukan berasal dari pola musiman musim panas, melainkan melemahnya permintaan yang menopang pergerakan harga.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat Bitcoin menghadapi periode yang lebih menantang hingga Agustus dan September apabila tidak diiringi pemulihan likuiditas pasar.
Pandangan tersebut muncul ketika Bitcoin memasuki periode yang secara historis sering dikaitkan dengan kinerja yang lebih lemah. Namun, XWIN Japan menilai faktor utama yang perlu dicermati investor bukanlah kalender musiman, melainkan indikator-indikator yang mencerminkan kekuatan permintaan aktual di pasar kripto.
Bukan Musim Panas, Permintaan Lemah Jadi Ancaman Utama Bitcoin
Dalam analisis terbarunya, XWIN Japan menjelaskan bahwa Bitcoin saat ini menghadapi beberapa hambatan sekaligus. Arus masuk dana ke Bitcoin ETF spot mulai melambat, aktivitas pembelian dari perusahaan tidak seagresif sebelumnya, dan pertumbuhan likuiditas stablecoin juga menunjukkan perlambatan.
Kondisi tersebut terjadi ketika pasar memasuki musim panas di AS dan Eropa, periode yang biasanya ditandai dengan menurunnya aktivitas perdagangan karena banyak pelaku institusional mengurangi partisipasi mereka selama musim liburan.
Menurut XWIN Japan, berkurangnya keterlibatan hedge fund, manajer aset dan bank investasi dapat membuat likuiditas pasar menjadi lebih tipis. Dalam situasi seperti itu, pergerakan Bitcoin berpotensi menjadi lebih volatil dan lebih rentan terhadap tekanan turun apabila muncul sentimen negatif.

Selain faktor musiman, ketidakpastian menjelang pemilu sela AS juga disebut turut memengaruhi perilaku investor. Banyak pelaku pasar dinilai masih menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi dan regulasi sebelum mengambil posisi besar di pasar aset digital.
Ia menilai sejak hadirnya Bitcoin ETF spot, pasar kripto semakin sensitif terhadap perkembangan politik dan institusional di AS karena keterlibatan investor institusi yang semakin besar.
“Bitcoin tidak turun hanya karena musim panas. Bitcoin cenderung kesulitan ketika permintaan yang lemah bertemu dengan lingkungan pasar yang memiliki likuiditas rendah,” ungkap XWIN Japan.
Karena itu, ia menekankan bahwa investor perlu lebih memperhatikan metrik likuiditas seperti arus dana ETF, kapitalisasi pasar stablecoin, open interest dan funding rate dibandingkan hanya mengandalkan pola historis musiman.
Menurutnya, apabila aliran dana ETF kembali meningkat dan pasokan stablecoin bertumbuh, tekanan musiman yang selama ini sering terjadi dapat berkurang secara signifikan.
Bitcoin Dekati Zona Berbahaya, Akankah Reli Berakhir di Sini?
Di sisi analisis teknikal, analis Tara menyoroti kondisi jangka pendek Bitcoin yang dinilai sedang mendekati area krusial. Dalam time frame 15 menit, ia melihat reli pemulihan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir berlangsung cukup agresif, tetapi belum mampu mengubah struktur tren pada kerangka waktu yang lebih tinggi.

Menurutnya, Bitcoin kini bergerak menuju zona resistance utama di kisaran US$66.100 hingga US$66.300. Area tersebut dipandang sebagai titik penting yang berpotensi menjadi puncak sementara dari kenaikan jangka pendek yang sedang berlangsung.
Tara menilai struktur gelombang yang terbentuk saat ini mengindikasikan kemungkinan munculnya subwave terakhir sebelum pasar kembali menghadapi tekanan jual. Selama BTC masih berada di bawah area resistance tersebut, ia belum melihat adanya konfirmasi bahwa tren bearish yang lebih besar telah berakhir.
Meski demikian, momentum bullish yang muncul masih membuka peluang bagi Bitcoin untuk mencatat kenaikan lanjutan menuju area resistance tersebut. Namun apabila terjadi penolakan harga setelah area itu diuji, tekanan bearish yang lebih besar berpotensi kembali mendominasi pasar.
Dalam proyeksinya, level US$60.000 menjadi support utama yang harus dipertahankan. Jika Bitcoin kembali turun dan kehilangan area tersebut, tekanan jual diperkirakan meningkat dengan target penurunan berikutnya berada di sekitar US$56.300.
Jika Level Ini Jebol, Gelombang Tekanan Jual Bisa Membesar
Sementara itu, analis Aralez menilai pekan ini menjadi periode yang sangat penting bagi arah pergerakan Bitcoin. Ia melihat struktur teknikal pada grafik 12 jam menunjukkan bahwa pola ascending triangle yang sebelumnya dianggap bullish kini mulai berisiko berubah menjadi sinyal pelemahan.

Menurutnya, area US$64.000 saat ini menjadi resistance terdekat yang harus diperhatikan pasar. Level tersebut dinilai akan menentukan apakah koin utama tersebut mampu membangun momentum pemulihan atau justru kembali mengalami penolakan.
Aralez menilai kegagalan bertahan di sekitar area itu dapat membuka jalan bagi kelanjutan tren turun yang telah berkembang sejak Bitcoin kehilangan support penting di kisaran US$67.000 hingga US$70.000.
Dalam skenario utamanya, Bitcoin diperkirakan berpotensi bergerak menuju area US$58.000. Zona tersebut dianggap sebagai support penting yang sebelumnya berhasil menahan tekanan jual.
Namun apabila level tersebut ditembus secara meyakinkan, struktur bearish dinilai akan semakin kuat dan dapat memicu gelombang tekanan jual berikutnya. Dalam kondisi tersebut, target penurunan selanjutnya berada di sekitar US$54.000 yang menjadi area support besar berikutnya.
Dengan demikian, di tengah peringatan XWIN Japan mengenai lemahnya permintaan pasar, perhatian investor kini tertuju pada sejumlah level teknikal penting yang dapat menentukan apakah Bitcoin mampu mempertahankan momentum pemulihan atau justru menghadapi tekanan yang lebih besar hingga memasuki September.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


