Bitcoin Butuh US$1 Triliun Lagi untuk Bull Run Besar? Ini Alasannya

Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah jatuh ke bawah US$60.000. Namun, di balik sentimen bearish, sejumlah analis masih melihat peluang bull run berikutnya belum sepenuhnya sirna.

Bitcoin Masuk Fase Sulit, Tekanan Jual Makin Terlihat

Bitcoin kembali menutup bulan dengan catatan yang kurang menggembirakan. Menurut analis CryptoJelleNL, BTC baru saja mencatat penutupan candle bulanan terendah dalam lebih dari satu tahun, sehingga kembali memicu kekhawatiran di pasar.

“Harga BTC baru saja mencatat penutupan candle bulanan terendah sejak Januari 2024. Benar-benar mencerminkan kondisi pasar bearish,” tulis Jelle melalui akun X pribadinya, Rabu (01/07/2026).

Candle Bulanan Bitcoin - Jelle
Candle Bulanan Bitcoin – Jelle

Secara teknikal, grafik menunjukkan BTC kini menguji area support di sekitar US$58.000 hingga US$60.000. Level tersebut sebelumnya berperan sebagai zona resistance sebelum berhasil ditembus saat reli besar berlangsung.

Kini situasinya berbalik. Area yang dulu menjadi hambatan berubah menjadi benteng terakhir. Selama harga BTC bertahan di atas zona tersebut, peluang pemulihan masih tetap terbuka meski tekanan jual belum sepenuhnya reda.

BACA JUGA:  Bukan Bull Run, Bitcoin Justru Masuki Fase yang Paling Ditakuti Investor

Tekanan itu juga tercermin dari data on-chain. Analis CryptoQuant, Axel Adler Jr., mencatat bahwa rata-rata aliran Bitcoin menuju bursa meningkat signifikan dibandingkan koreksi sebelumnya.

“Koreksi kali ini terlihat dalam dibandingkan Februari. Rata-rata aliran BTC ke bursa meningkat menjadi 122.000 BTC, naik dari 80.000 BTC pada Februari. Artinya, semakin banyak koin yang bersiap untuk dijual,” jelas Adler di X, Rabu (01/07/2026).

Peningkatan inflow dari sekitar 80.000 BTC pada koreksi Februari menjadi 122.000 BTC saat ini menunjukkan semakin banyak investor yang mulai memindahkan aset mereka ke crypto exchange.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
Bitcoin Exchange Inflow - Axel Adler Jr
Bitcoin Exchange Inflow – Axel Adler Jr

Kondisi tersebut umumnya mencerminkan meningkatnya tekanan jual karena banyak BTC siap diperdagangkan. Akibatnya, peluang pemulihan harga dinilai masih belum benar-benar terkonfirmasi.

Bitcoin Butuh US$1 Triliun untuk Memulai Bull Run

Meski tekanan jangka pendek masih tinggi, tidak semua analis menilai kondisi saat ini sebagai akhir dari siklus bullish. CEO CryptoQuant, Ki Young Ju, melihat peluang BTC untuk kembali memasuki fase kenaikan.

BACA JUGA:  CryptoQuant ‘Larang’ Strategy Beli Bitcoin Lagi, Ini Alasannya

Menurutnya, tantangan Bitcoin saat ini bukan lagi kurangnya permintaan. Seiring pertumbuhan kapitalisasi pasar, efisiensi modal terus menurun sehingga dibutuhkan dana yang jauh lebih besar untuk mendorong kenaikan harga.

Sebagai perbandingan, pada siklus 2011 arus modal bersih US$2,7 miliar mampu mengerek harga Bitcoin hingga 55.436 persen. Sementara pada siklus saat ini, tambahan realized cap sebesar US$697 miliar hanya menghasilkan kenaikan 689 persen.

Karena itu, Ki Young Ju menilai bull run Bitcoin berikutnya kemungkinan tidak akan ditopang oleh investor ritel maupun arus dana ETF semata, tetapi juga membutuhkan alokasi modal yang lebih besar dari institusi.

Bull run berikutnya kemungkinan membutuhkan alokasi dana institusi yang besar. Bitcoin harus menjadi aset makro utama, bukan sekadar aset yang didorong oleh ETF ritel. Pergeseran itu masih berada pada tahap awal dan belum batal terjadi,” jelasnya di X, Rabu (01/07/2026).

BACA JUGA:  Bukan Karena The Fed atau Perang, Ini Penyebab Harga Bitcoin Crash
Kapital Bitcoin untuk Memulai Bull Run - Ki Young Ju
Kapital Bitcoin untuk Memulai Bull Run – Ki Young Ju

Ia menambahkan, jika Bitcoin mampu menyerap tambahan realized cap lebih dari US$1 triliun, peluang memasuki fase bull run parabolik berikutnya masih terbuka lebar dan berpotensi mendorong harga BTC ke level yang lebih tinggi.

Pernyataan tersebut memberi perspektif baru. Dibandingkan kapitalisasi emas yang mencapai US$27 triliun, ukuran pasar Bitcoin masih relatif kecil sehingga ruang pertumbuhannya dinilai masih terbuka lebar jika adopsi institusi terus meningkat.

Pada akhirnya, arah pergerakan harga Bitcoin tidak hanya ditentukan oleh kondisi teknikal atau sentimen jangka pendek. Masuknya modal institusi menjadi faktor utama yang menentukan apakah bull run berikutnya benar-benar dapat terwujud.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait