Bitcoin anjlok ke level terendah dalam hampir dua tahun setelah sempat menyentuh kisaran US$58.000 pada 25 Juni 2026. Kejatuhan tersebut memicu likuidasi lebih dari US$1 miliar hanya dalam 24 jam.
Namun, di balik aksi jual besar-besaran itu, analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant menilai berbagai indikator sebenarnya telah memberikan sinyal peringatan jauh sebelum harga ambruk.
Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di kisaran US$59.775, setara Rp1,07 miliar. Meski berhasil pulih dari titik terendahnya, aset kripto terbesar itu masih mencatat penurunan sekitar 2 persen dalam 24 jam terakhir, melemah 7,13 persen selama tujuh hari, dan terkoreksi 22,58 persen dalam 30 hari terakhir.
Penurunan tersebut sekaligus menegaskan tingginya tekanan yang masih membayangi pasar Bitcoin.
Sinyal Bahaya Sudah Bermunculan Sebelum Bitcoin Ambruk
Menurut XWIN Japan, penurunan tajam Bitcoin bukanlah peristiwa yang datang secara mendadak. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah indikator on-chain telah menunjukkan memburuknya kondisi pasar, mulai dari meningkatnya tekanan jual dari kalangan penambang (miner), melemahnya Coinbase Premium, melambatnya arus masuk dana ke Bitcoin ETF spot, hingga menurunnya permintaan jangka pendek.
Meski demikian, XWIN Japan melihat kondisi saat ini juga memperlihatkan karakteristik yang sebelumnya beberapa kali muncul menjelang terbentuknya dasar siklus pasar.
Lebih dari 11 juta BTC kini berada dalam posisi rugi atau diperdagangkan di bawah harga beli rata-ratanya. Situasi serupa pernah terjadi pada fase dasar pasar tahun 2019, 2020 dan 2022 sebelum akhirnya diikuti pemulihan harga yang kuat.
Di sisi lain, pemegang Bitcoin jangka panjang masih cenderung mempertahankan kepemilikannya tanpa melakukan distribusi besar.
Bersamaan dengan itu, alamat-alamat yang dikategorikan sebagai dompet akumulasi terus menambah kepemilikan, mengindikasikan bahwa investor besar masih menyerap pasokan yang dilepas akibat kepanikan pasar.
XWIN Japan juga sejalan dengan pandangan analis di CryptoQuant lainnya, Carmelo Aleman, yang menempatkan area US$54.900 sebagai zona support krusial.

Level tersebut menjadi titik pertemuan antara Realized Price, biaya produksi penambangan (mining cost) dan indikator Market Value to Realized Value (MVRV). Apabila arus masuk ETF, Coinbase Premium, serta indikator Apparent Demand mulai membaik dari area tersebut, zona itu dinilai berpotensi menjadi fondasi bagi siklus kenaikan Bitcoin berikutnya.
“Dalam sejarah Bitcoin, periode ketakutan maksimum sering kali justru menjadi awal dari fase pemulihan berikutnya,” ungkap XWIN Japan.
Bitcoin Berhasil Bangkit, tetapi Belum Lolos dari Ancaman
Sementara itu, analis CryptoZ melihat pergerakan jangka pendek Bitcoin mulai menunjukkan pemulihan berbentuk V-shaped recovery setelah tekanan jual ekstrem sehari sebelumnya.
Menurutnya, pantulan tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan karena tren pada kerangka waktu rendah sudah berada dalam kondisi sangat jenuh jual dan sebelumnya telah sweep titik terendah sebelumnya.

CryptoZ mengaku mulai melakukan pembelian spot BTC sebesar 40 persen di kisaran US$59.300. Meski demikian, ia menilai pasar masih menghadapi ujian penting di area sekitar US$62.200, yang menjadi zona support dan resistance lanjutan berdasarkan struktur gelombang harga.
Apabila harga kembali ditolak dari level tersebut, tekanan bearish diperkirakan masih berlanjut. Sebaliknya, jika Bitcoin mampu merebut kembali area itu sebagai support, peluang kenaikan menuju kisaran US$64.000 hingga US$65.700 akan kembali terbuka.
Ia juga memperkirakan volatilitas tinggi dan pergerakan mendatar masih berpotensi mendominasi perdagangan dalam beberapa hari menjelang penutupan bulanan sehingga pasar kemungkinan dipenuhi pergerakan yang tidak menentu.
Level Kunci Ini Berpotensi Menentukan Nasib Pasar
Pandangan lain datang dari analis Ninedex yang menyoroti level US$57.818 sebagai garis pertahanan teknikal paling penting berdasarkan pengukuran ulang Fibonacci 0,618 pada grafik mingguan dengan memasukkan seluruh wick atas dan bawah candlestick.

Menurutnya, penurunan Bitcoin hingga menyentuh sekitar US$58.123 di Binance pada 25 Juni 2026 terjadi sangat dekat dengan level tersebut. Kedekatan itu dinilai menunjukkan bahwa penurunan kemungkinan telah mencapai area target yang diperhitungkan oleh algoritma perdagangan pelaku pasar besar.
Ninedex menjelaskan terdapat dua kemungkinan setelah harga mencapai zona tersebut. Skenario pertama adalah penurunan langsung menuju level Fibonacci 0,786 di sekitar US$39.000. Namun, ia menilai peluang itu sangat kecil karena berada jauh di bawah estimasi biaya produksi penambangan yang berkisar di US$60.000.
Skenario kedua adalah harga sempat menembus area Fibonacci 0,618 sekitar 10 persen untuk memicu likuidasi tambahan sebelum kembali stabil. Menurutnya, jika tekanan turun terus dipaksakan hingga jauh di bawah biaya produksi, pelaku pasar yang mendorong penurunan justru harus menanggung beban modal yang besar.
Ninedex juga mengamati tidak adanya perubahan berarti pada volume Bitcoin yang tersimpan di bursa setelah kejatuhan harga tersebut. Temuan itu menunjukkan bahwa aksi jual besar tidak berasal dari perpindahan kepemilikan aset di pasar spot.
Ia menilai penurunan lebih banyak dipicu oleh aktivitas di pasar futures, di mana peningkatan posisi short mendorong likuidasi berantai dan memperbesar tekanan jual dalam waktu singkat.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


