Koreksi yang masih berlangsung di pasar kripto memunculkan kembali pertanyaan besar di kalangan investor, apakah Bitcoin telah memasuki fase bear market baru atau hanya mengalami pelemahan sementara sebelum melanjutkan tren jangka panjangnya.
Di tengah melemahnya sentimen pasar dan berkurangnya permintaan institusional dari AS, analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant justru menemukan sinyal penting yang menunjukkan adanya perubahan struktur likuiditas global menuju Asia.
Temuan tersebut muncul bersamaan dengan laporan terbaru Amber Group, perusahaan jasa keuangan aset digital berbasis di Singapura yang banyak melayani investor institusional di kawasan Asia-Pasifik. Dalam laporannya, Amber Group menyoroti bahwa tema utama pasar saat ini adalah kebijakan suku bunga tinggi yang diperkirakan bertahan lebih lama.
Kondisi itu muncul setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari ekspektasi mengurangi peluang pemangkasan suku bunga The Fed, mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah sehingga memicu pengurangan eksposur terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Sinyal dari Asia Muncul di Tengah Perlambatan Permintaan Bitcoin
Meski permintaan institusional dari pasar Barat menunjukkan tanda-tanda perlambatan dan Bitcoin ETF spot terus mencatat arus keluar bersih, analisis on-chain XWIN Japan menemukan perkembangan berbeda di balik pergerakan pasar saat ini.
Berdasarkan pengamatan terhadap pasokan USDT, aktivitas likuiditas selama jam perdagangan Asia terus meningkat dan kini telah menyamai bahkan dalam beberapa periode melampaui aktivitas pada jam perdagangan AS.

XWIN Japan menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya pergeseran struktur pasar yang cukup signifikan dibandingkan siklus sebelumnya. Jika pada tahun 2020 sebagian besar likuiditas kripto masih didorong oleh investor AS, saat ini pusat aktivitas pasar secara bertahap mulai bergeser ke kawasan Asia.
“Pasar mungkin sedang bergerak menuju struktur likuiditas yang lebih berpusat pada Asia dibandingkan beberapa tahun lalu,” ujar XWIN Japan.
Analis tersebut juga menyoroti bahwa pengembangan infrastruktur aset digital di kawasan Asia-Pasifik masih terus berlangsung. Hong Kong memperluas inisiatif obligasi yang ditokenisasi, Jepang semakin aktif mengeksplorasi sistem keuangan berbasis blockchain, sementara Korea Selatan mempercepat pengembangan ekosistem stablecoin domestik.
Menurut XWIN Japan, perkembangan tersebut menunjukkan fondasi industri aset digital tetap menguat meskipun kondisi pasar jangka pendek masih berada dalam fase koreksi.
Data dari Santiment pada Kamis (18/6/2026) turut memberikan gambaran menarik mengenai perilaku pelaku pasar besar. Platform analitik tersebut melaporkan bahwa jumlah Bitcoin yang dimiliki kelompok whale dengan kepemilikan minimal 1.000 BTC kembali meningkat menjadi sekitar 7,17 juta BTC.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 14 Maret lalu dan setara dengan sekitar 35,82 persen dari total pasokan yang beredar. Santiment juga mencatat saat ini terdapat sekitar 2.044 alamat dompet yang menyimpan setidaknya 1.000 BTC, mengindikasikan bahwa kelompok investor besar masih mempertahankan eksposur yang besat terhadap koin utama tersebut.
Skenario Penurunan Terakhir BTC Bisa Jadi Jalan Menuju Reli Baru
Sementara itu, dari sisi teknikal, analis Kabuki menilai Bitcoin saat ini berada di area teknikal yang sangat penting karena kembali menguji zona yang pada siklus sebelumnya kerap menjadi titik berakhirnya bull trap.
Dalam analisis grafik mingguan yang dibagikannya, struktur pasar saat ini dinilai memiliki kemiripan dengan fase koreksi besar yang pernah terjadi pada siklus sebelumnya.

Kabuki menjelaskan bahwa setelah membentuk puncak di sekitar US$126.000 pada Oktober 2025, Bitcoin mengalami penurunan tajam dan kini bergerak di kisaran US$60.000.
Menurutnya, area US$66.000 menjadi resistance penting yang sejauh ini belum berhasil dipertahankan sehingga meningkatkan risiko munculnya tekanan jual lanjutan dalam jangka pendek.
Berdasarkan skenario yang dipetakan, Bitcoin masih berpotensi mengalami satu gelombang koreksi tambahan menuju area US$58.000. Jika level tersebut gagal bertahan, tekanan jual berisiko berlanjut ke kawasan US$47.000 yang berada di dekat garis tren naik jangka panjang dan selama ini menjadi fondasi struktur bull market aset tersebut.
Meski demikian, Kabuki tidak melihat potensi penurunan itu sebagai akhir dari siklus bullish yang lebih besar. Ia menilai area US$47.000 berpeluang menjadi zona pembentukan dasar harga sebelum pasar memulai fase pemulihan berikutnya.
Dalam proyeksinya, setelah proses pembentukan dasar selesai, Bitcoin berpotensi menguji area US$87.000 sebagai target pemantulan awal sebelum membuka peluang kenaikan lebih lanjut menuju kisaran US$151.000 pada awal tahun mendatang.
Karena itu, di tengah kekhawatiran mengenai kemungkinan bear market, perhatian investor kini tidak hanya tertuju pada arus dana ETF dan kebijakan suku bunga AS.
Perkembangan likuiditas di Asia, aktivitas akumulasi whale, serta kemampuan Bitcoin mempertahankan area support utama dipandang sebagai faktor penting yang dapat menentukan arah pasar pada bulan-bulan mendatang.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


