Bitcoin dan S&P 500 Kian Lengket, Apakah BTC Mulai Kehilangan Keunikannya?

Hubungan Bitcoin dengan pasar saham AS ternyata telah berubah cukup jauh dalam satu dekade terakhir. Aset kripto yang dahulu relatif terpisah dari pergerakan Wall Street itu kini semakin sering bergerak searah dengan indeks S&P 500, baik ketika pasar menguat maupun melemah.

Perubahan tersebut diungkapkan analis on-chain Darkfost dalam analisis terbarunya di CryptoQuant, Kamis (5/11/2026). Berdasarkan pengamatan data sejak 2015, ia menemukan bahwa indikator yang mengukur kecenderungan korelasi Bitcoin dan S&P 500 telah mencapai tonggak penting setelah mengalami penguatan selama bertahun-tahun.

Korelasi Bitcoin dan S&P 500 Tunjukkan Perubahan Historis

Dalam analisis tersebut, Darkfost menggunakan metode Z-score untuk mengukur hubungan antara imbal hasil Bitcoin dan S&P 500. Perhitungannya memakai periode bergulir 90 hari (90-day rolling window) guna mengurangi pengaruh fluktuasi jangka pendek yang dapat mengaburkan tren utama.

BTC korelasi saham

Secara sederhana, Z-score positif menunjukkan bahwa korelasi Bitcoin dengan pasar saham berada di atas kondisi normal historisnya. Sebaliknya, nilai negatif mengindikasikan bahwa hubungan pergerakan kedua aset lebih lemah daripada biasanya.

Darkfost kemudian menggunakan Z-score kumulatif, yang menjumlahkan penyimpangan tersebut dari waktu ke waktu, untuk melihat bagaimana hubungan Bitcoin dan S&P 500 berkembang sejak 2015.

BACA JUGA:  Upgrade NU7 Zcash Makin Dekat, Ini Perubahan Besar yang Akan Terjadi

Hasilnya cukup menarik. Indikator kumulatif tersebut baru saja menembus wilayah positif untuk kali pertama sejak 2015 dan mencapai angka 98,5, setelah sebelumnya memperlihatkan tren kenaikan panjang yang beberapa kali diselingi koreksi.

“Angka itu sendiri tidak terlalu penting, tetapi penembusannya simbolis,” ujar Darkfost.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Menurutnya, perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa Bitcoin semakin sering mengikuti arah umum pasar saham AS. Dengan kata lain, ketika investor beramai-ramai membeli atau melepas aset berisiko, Bitcoin kini cenderung lebih sering bergerak sejalan dengan saham dibandingkan pada masa-masa awalnya.

Meski demikian, angka 98,5 bukan berarti tingkat korelasi Bitcoin dan S&P 500 mencapai 98,5 persen. Angka itu merupakan pembacaan indikator kumulatif yang digunakan Darkfost untuk menggambarkan perubahan hubungan kedua pasar dalam jangka panjang.

Menariknya, penguatan tersebut mulai kehilangan momentum dalam jangka pendek. Darkfost mencatat bahwa perubahan korelasi pada periode 90 hari telah melambat menjadi positif 6,3 persen setelah sebelumnya mencapai puncak yang lebih tinggi.

“Korelasinya masih di atas rata-rata, tetapi naik lebih lambat,” jelasnya.

Artinya, meskipun hubungan Bitcoin dan saham AS semakin erat secara historis, kondisi tersebut tidak berarti korelasinya akan terus menguat tanpa jeda.

BACA JUGA:  Penambang Bitcoin MARA Kirim 1.000 BTC ke Bursa, Sinyal Jual?

Bitcoin ETF Perkuat Hubungan Kripto dengan Wall Street

Temuan Darkfost juga sejalan dengan pengamatan terbaru perusahaan riset aset digital K33 Research.

Dalam laporan K33 Research pada 12 Oktober 2026, perusahaan tersebut mencatat bahwa korelasi Bitcoin dengan saham AS telah meningkat ke level tertinggi dalam empat bulan, bersamaan dengan melemahnya harga BTC dan meningkatnya kecenderungan investor menghindari risiko.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana sentimen di pasar keuangan tradisional semakin relevan terhadap pergerakan Bitcoin, terutama ketika investor menghadapi ketidakpastian pasar yang lebih luas.

Darkfost menilai perubahan ini kemungkinan berkaitan dengan semakin matangnya pasar kripto. Kehadiran Bitcoin ETF, berkembangnya layanan perdagangan over-the-counter (OTC), serta tersedianya infrastruktur kustodian membuat aset tersebut semakin mudah diakses oleh pelaku keuangan profesional.

Salah satu contoh besarnya keterlibatan industri keuangan tradisional terlihat pada produk Bitcoin ETF milik BlackRock.

Berdasarkan data resmi iShares Bitcoin Trust ETF (IBIT), nilai aset bersih dana tersebut mencapai sekitar US$62,30 miliar per 30 Oktober 2026. Besarnya dana yang dikelola memperlihatkan bagaimana eksposur terhadap Bitcoin kini dapat diperoleh melalui instrumen investasi yang diperdagangkan di bursa saham.

Walaupun pertumbuhan ETF tidak dengan sendirinya membuktikan penyebab meningkatnya korelasi, perkembangan ini mendukung pandangan bahwa Bitcoin semakin terintegrasi ke dalam ekosistem investasi tradisional.

BACA JUGA:  KPK Sita Aset Kripto dalam Kasus Korupsi BNPB, Nilainya Miliaran?

Bagi investor, temuan tersebut membawa konsekuensi penting. Bitcoin memang masih memiliki karakteristik tersendiri, termasuk volatilitas tinggi dan dinamika penawaran yang berbeda dari saham. Namun, meningkatnya keterkaitan dengan S&P 500 berarti pergerakan pasar saham AS semakin layak diperhatikan ketika membaca risiko dan arah pasar kripto.

Korelasi juga bukan berarti kedua aset akan selalu bergerak bersama. Hubungan tersebut dapat berubah mengikuti kondisi likuiditas, sentimen investor, dan perkembangan ekonomi global.

Dengan demikian, temuan Darkfost bukan sekadar menunjukkan semakin eratnya hubungan Bitcoin dengan Wall Street, tetapi juga memperlihatkan bagaimana posisi BTC dalam pasar keuangan telah berubah setelah lebih dari satu dekade.

Bitcoin semakin diterima sebagai instrumen investasi, tetapi pada saat yang sama semakin terpapar dinamika pasar tradisional.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait