Bitcoin kembali menunjukkan sinyal bullish setelah indikator on-chain yang melacak arus aset antar bursa menembus level penting, menandakan perubahan struktur pasar dari dominasi perdagangan derivatif menuju permintaan spot yang lebih stabil.
Temuan ini dibagikan analis on-chain ScenarioX di CryptoQuant melalui analisis indikator Inter-exchange Flow Pulse (IFP) yang memantau pergerakan Bitcoin antar platform perdagangan.
Struktur Pasar Bitcoin Mulai Bergeser ke Permintaan Spot
Menurut ScenarioX, indikator tersebut baru saja bergerak di atas moving average (MA) 90 hari, yang secara historis sering menandai perubahan fase pasar dari bearish menuju bullish.

Dalam analisisnya, ia menyebut bahwa pergeseran ini terjadi setelah beberapa bulan pasar berada dalam fase koreksi yang didorong oleh aktivitas leverage di pasar derivatif.
“Ketika IFP bergerak di atas MA 90 hari, struktur pasar biasanya bergeser menuju fase bullish yang didukung oleh arus antar bursa yang lebih stabil dan permintaan spot yang menguat,” ungkap ScenarioX.
Indikator IFP sendiri bekerja dengan menganalisis arus Bitcoin antara spot exchange, derivatives exchange, serta kustodian penyimpanan aset digital.
Perubahan ini menunjukkan bahwa penurunan harga yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir kemungkinan lebih disebabkan oleh likuidasi posisi derivatif daripada arus keluar besar dari pasar spot.
Di sisi lain, indikator permintaan spot mulai menunjukkan pemulihan. Premium Coinbase kembali berada di wilayah positif, yang biasanya menandakan meningkatnya aktivitas pembelian dari investor institusional dan investor di AS.
Selain itu, kepemilikan Bitcoin pada produk ETF juga relatif stabil meskipun harga sempat mengalami penurunan. Stabilitas ini menunjukkan bahwa investor jangka panjang belum melakukan distribusi besar-besaran selama periode koreksi.
Bitcoin Rebound di Tengah Akumulasi Whale
Perubahan struktur pasar ini terjadi bersamaan dengan pergerakan harga yang mulai pulih. Data dari platform analitik on-chain Santiment menunjukkan bahwa Bitcoin baru saja kembali menyentuh level sekitar US$74.000 untuk kali pertama dalam satu bulan.

Pada saat yang sama, Ethereum kembali mendekati level US$2.200. Sejumlah aset kripto lainnya juga mencatat kenaikan harian signifikan, termasuk Solana yang melonjak sekitar 9 persen, Chainlink sekitar 7 persen, serta meme coin PEPE yang naik sekitar 9 persen.
Menurut Santiment, lonjakan harga tersebut terjadi di tengah kombinasi ketakutan pasar (FUD) di kalangan investor ritel dan akumulasi oleh pelaku pasar besar atau whale.
Ketika investor ritel keluar dari pasar karena kekhawatiran terhadap peristiwa makroekonomi seperti konflik geopolitik atau pengumuman tarif perdagangan, aset yang mereka jual justru sering kembali naik nilainya.
Ada Risiko Koreksi Jika Pola 2022 Terulang
Meski berbagai indikator mulai menunjukkan pemulihan, sejumlah analis tetap mengingatkan adanya potensi risiko dari sisi teknikal. Analis kripto Ali Martinez mencatat bahwa pola pergerakan saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi pada tahun 2022.

Pada periode tersebut, Bitcoin mengalami penurunan tajam setelah terjadi persilangan indikator moving average jangka pendek dan menengah yang menandai pelemahan tren. Saat itu, harga BTC akhirnya jatuh hingga sekitar US$16.000.
Martinez menilai bahwa jika pola historis tersebut kembali terulang, harga Bitcoin berpotensi mengikuti skenario serupa dengan koreksi menuju area sekitar US$40.000 sebelum menemukan bottom baru.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



