Harga Bitcoin terlihat stabil di permukaan. Namun di balik itu, sejumlah indikator justru memberi sinyal yang berlawanan. Data teknikal, permintaan pasar, hingga tekanan makro mulai membentuk narasi yang lebih berhati-hati.
Demand BTC Melemah, Reli Kehilangan Tenaga
Data on-chain yang dibagikan oleh Julio Moreno pada Selasa (19/05/2026) mengungkapkan bahwa penurunan ini terjadi setelah lonjakan permintaan spekulatif dari pasar futures mencapai puncaknya saat harga mendekati US$80.000.
Artinya sangat jelas. Kenaikan harga BTC sebelumnya lebih banyak didorong oleh spekulasi, bukan akumulasi riil. Ketika bahan bakar utama ini mulai habis, reli Bitcoin mulai kehilangan tenaga.
“Total permintaan Bitcoin mulai memasuki fase kontraksi kemarin, setelah sebelumnya tumbuh sejak awal Maret yang didorong oleh permintaan spekulatif dari pasar futures (perpetual),” jelasnya.

Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa permintaan spot yang mencerminkan minat investor nyata turun lebih cepat. Ini menjadi sinyal krusial bahwa pasar tidak lagi memiliki fondasi kuat untuk melanjutkan bull run.
Dengan kata lain, pasar Bitcoin kini berdiri di atas pijakan yang mulai rapuh. Tanpa dukungan demand BTC yang solid di pasar, setiap kenaikan berisiko hanya menjadi pantulan sementara.
Bitcoin Hadapi Ancaman Lower High
Dari sisi teknikal, analis Jelle mengungkapkan bahwa Bitcoin berada di titik krusial. BTC mampu bertahan di sekitar EMA 100 harian, level yang menjadi penentu arah tren jangka menengah. Namun, ruang gerak bullish terlihat semakin terbatas.
“Sejauh ini bull terlihat masih mempertahankan area EMA 100 harian. Namun, resistance kuat masih berada di depan, dan perlu diwaspadai potensi terbentuknya lower high pada pergerakan BTC selanjutnya,” tulisnya di X, Rabu (20/05/2026).
Ancaman lower high ini menjadi perhatian utama para pelaku pasar. Jika skenario tersebut terkonfirmasi, struktur tren Bitcoin akan semakin mengarah pada kelanjutan bearish.

Selain itu, chart juga menunjukkan bahwa area US$80.000 telah berubah menjadi supply zone yang cukup berat. Setiap upaya kenaikan berpotensi tertahan sebelum harga mampu mencetak level tertinggi baru.
Artinya, meskipun belum mengalami breakdown, Bitcoin saat ini masih berada di bawah tekanan. Pasar saat ini berada dalam fase uji ketahanan, menunggu arah tren yang lebih jelas.
Momentum Patah, Tekanan Makro Semakin Nyata
Sinyal paling tajam yang memperkuat narasi bearish datang dari indikator momentum yang dibagikan oleh Axel Adler Jr pada Rabu (20/05/2026). Data menunjukkan bahwa impuls bullish Bitcoin telah resmi patah.
“Impuls bullish Bitcoin telah resmi patah. Indikator Slow Impulse berbalik negatif untuk pertama kalinya sejak April,” tuturnya.
Kondisi tersebut semakin diperparah oleh lonjakan yield obligasi AS 30 tahun yang menyentuh 5,20 persen. Dalam konteks makro, ini menjadi tekanan tambahan bagi aset berisiko seperti Bitcoin.

Tanpa kembalinya indikator Slow ke zona positif, setiap reli BTC dianggap belum terkonfirmasi. Artinya, kenaikan harga Bitcoin yang terjadi saat ini masih rentan gagal.
Tiga faktor ini, yaitu demand yang melemah, resistance teknikal, dan tekanan makro, mengarah pada satu kesimpulan jelas: meski Bitcoin belum runtuh, peluang menuju US$80.000 kini semakin berat.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


