Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah gagal mempertahankan momentum kenaikannya. Saat ini, BTC bergerak di kisaran US$63.000, sementara level US$64.000 masih menjadi area penting yang terus dipantau pelaku pasar.
Sejumlah analisa teknikal, data on-chain, dan faktor makro mengindikasikan potensi koreksi yang semakin besar. Kini, perhatian investor tertuju pada apakah harga Bitcoin mampu merebut kembali level US$64.000.
Area US$64.000 Jadi Penentu Arah Harga BitcoinÂ
Pergerakan Bitcoin menunjukkan momentum bullish mulai melemah. Harga kembali bergerak di kisaran US$63.000 setelah memantul dari area bawah, sementara level US$64.000 masih menjadi resistance terdekat.
Berdasarkan grafik yang dibagikan analis CryptoZ pada Rabu (08/07/2026), Bitcoin sempat mencapai satu dari empat target dalam skenario bear market. Namun, harga kehilangan momentum setelah menyentuh area resistance.
Kondisi tersebut membuat BTC kembali membentuk pola lower high. Pola ini mengindikasikan tekanan jual masih mendominasi karena buyer belum mampu mendorong harga mencetak puncak yang lebih tinggi.

Menurut CryptoZ, pelemahan itu juga terlihat dari kegagalan harga BTC bertahan di atas indikator teknikal yang sebelumnya menjadi target kenaikan.
“Pantulan harga berpotensi telah berakhir setelah BTC kembali membentuk lower high. Target pertama tercapai, yakni harga sempat bergerak di atas indikator trending dots sebelum akhirnya kembali berada di bawah garis biru,” tulis CryptoZ.
Penolakan di area US$64.000 menjadikan level tersebut sebagai penentu arah harga Bitcoin selanjutnya. Jika berhasil ditembus, peluang pemulihan masih terbuka. Sebaliknya, kegagalan breakout berpotensi memperpanjang tekanan bearish.
Kerugian Investor Tembus US$10 Miliar, Support Historis BTC Jadi Sorotan
Tekanan terhadap harga Bitcoin juga tercermin dari data on-chain. Analis kripto Maartunn mengungkapkan pada Kamis (09/07/2026) bahwa net realized losses Bitcoin telah mencapai US$10 miliar dalam 30 hari terakhir.
Data tersebut menunjukkan semakin banyak investor merealisasikan kerugian dengan menjual aset mereka. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya tekanan jual sekaligus melemahnya sentimen pasar dalam jangka pendek.
Lonjakan realized losses kerap menjadi sinyal bahwa semakin banyak pelaku pasar menyerah dan memilih keluar dari posisinya. Akibatnya, tekanan bearish terhadap Bitcoin berpotensi semakin besar.

Meski demikian, kondisi seperti ini tidak selalu menjadi sinyal negatif. Pada beberapa siklus sebelumnya, lonjakan realized losses justru muncul ketika BTC mendekati fase kapitulasi sebelum akhirnya membentuk dasar harga baru.
Pandangan serupa disampaikan Quinten Francois. Menurutnya, apabila memiliki dana besar, ia justru akan mulai mengakumulasi Bitcoin di area yang secara historis sering menjadi titik terendah pasar.
“Jika saya saat ini memiliki banyak dana, saya akan membeli di area yang secara historis kerap menjadi titik terendah,” ujar Quinten di X, Kamis (09/07/2026).
Area yang dimaksud berada di kisaran US$54.000–US$49.000. Menurut Quinten, rentang tersebut merupakan klaster support historis yang diperkuat oleh sejumlah indikator teknikal, seperti CVDD hingga 200WMA.
Lonjakan Harga Minyak Perkuat Tekanan Bearish Bitcoin
Selain tekanan dari grafik dan data on-chain, Bitcoin juga menghadapi sentimen negatif dari faktor makro. Analis di CryptoQuant, Darkfost, menyoroti hubungan historis antara harga minyak Brent dan Bitcoin.
Menurut Darkfost, harga minyak Brent melonjak sekitar 10 persen dalam dua hari setelah meningkatnya tensi geopolitik yang mengganggu perdagangan minyak di Selat Hormuz.
Lonjakan tersebut mendorong Brent kembali bergerak di atas 365-day moving average. Pada beberapa siklus sebelumnya, kondisi serupa kerap bertepatan dengan melemahnya momentum bullish Bitcoin.
“Ketika harga minyak Brent mulai kembali naik, itu menjadi sinyal bahwa momentum mulai berakhir, yang mengindikasikan perlambatan tren bullish Bitcoin,” jelas Darkfost di X, Kamis (09/07/2026).

Secara keseluruhan, ketiga analisa mengarah pada kesimpulan yang sama. Bitcoin masih berada di bawah tekanan, sementara level US$64.000 menjadi resistance utama yang harus ditembus.
Di sisi lain, realized losses yang mencapai US$10 miliar mencerminkan sentimen pasar yang masih rapuh. Kondisi tersebut diperkuat oleh kenaikan harga minyak Brent yang menambah tekanan dari sisi makro.
Selama harga Bitcoin bertahan di bawah US$64.000, risiko koreksi menuju US$60.000 atau bahkan lebih rendah masih terbuka. Namun, jika berhasil menembus level tersebut, peluang pemulihan kembali menguat.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


