Pasar Bitcoin menunjukkan perubahan struktural signifikan seiring lonjakan arus dana ke produk ETF spot, yang secara konsisten menyerap pasokan dari pasar terbuka.
Analis on-chain XWIN Research Japan di CryptoQuant menyebut perkembangan ini sebagai titik balik penting, di mana pergerakan harga kini semakin dipengaruhi oleh alokasi modal institusional dibandingkan aktivitas trading jangka pendek.
Dalam laporan terbarunya, XWIN mencatat bahwa arus masuk ke Bitcoin ETF spot telah mendekati US$1 miliar dalam sepekan terakhir, dengan total kumulatif mencapai sekitar US$57,7 miliar.
Produk-produk ini, yang dipimpin oleh pemain besar seperti BlackRock dan Fidelity Investments, kini mengelola aset lebih dari US$101,4 miliar atau sekitar 6,5 persen dari kapitalisasi pasar Bitcoin.
“Bitcoin kini bergerak dari pasar yang didorong trader menuju sistem yang ditentukan oleh alokasi modal,” ungkap XWIN Research Japan.
Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di kisaran US$76.132, setara Rp1,30 miliar, dengan kenaikan harian sekitar 2,15 persen. Volume spot dalam 24 jam tercatat mencapai US$38,63 miliar, meningkat 20,56 persen, mencerminkan lonjakan aktivitas pasar di tengah perubahan struktur tersebut.
Arus ETF Serap Pasokan Bitcoin, Tekanan Jual Menurun
Secara on-chain, perubahan ini tercermin dari meningkatnya Realized Price Bitcoin ke kisaran US$54.000, yang menunjukkan naiknya rata-rata harga beli investor. Dengan harga pasar saat ini jauh di atas level tersebut, mayoritas pemegang BTC berada dalam posisi cuan, sehingga tekanan jual relatif menurun.

Selain itu, ETF berperan langsung dalam menyerap pasokan Bitcoin dari pasar terbuka. Proses ini menciptakan efek kelangkaan yang mendukung stabilitas harga. Namun, XWIN juga menyoroti potensi dinamika baru, di mana arus masuk atau keluar dana dalam jumlah besar dapat memperbesar volatilitas dalam jangka pendek.
Di sisi lain, kondisi Bitcoin hari ini juga dipengaruhi oleh faktor teknikal. Analis R3N melihat harga saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah koreksi, dengan zona demand di bawah harga saat ini berpotensi menjadi titik pantulan.

Ia menilai pergerakan harga masih terkompresi antara support dan resistance, sehingga likuiditas akan menjadi penentu arah berikutnya. Jika area bawah mampu dipertahankan, peluang kenaikan menuju US$78.800 terbuka, sementara kegagalan bertahan dapat memicu penurunan lanjutan sebelum rebound.
Tekanan Jual Mengintai, Namun Skenario Bullish Bertahan
Pandangan serupa namun lebih berhati-hati disampaikan oleh analis GainMuse. Dalam time frame 4 jam, Bitcoin disebut bergerak dalam pola channel yang mulai kehilangan momentum kenaikan.

Area support di sekitar US$71.037 menjadi level penting yang harus dijaga. Jika harga menembus batas bawah, tekanan jual berpotensi meningkat dan menempatkan posisi long dalam risiko.
Meski demikian, tidak semua analis melihat risiko penurunan sebagai sinyal pembalikan tren besar. Analis Klondike menilai struktur teknikal Bitcoin masih sejalan dengan skenario bullish, dengan target utama di kisaran US$83.000.

Ia mengidentifikasi area US$74.000–US$76.000 sebagai zona kunci yang kini berpotensi menjadi support setelah sebelumnya berfungsi sebagai resistance.
Menurutnya, selama harga BTC mampu bertahan di atas zona tersebut, peluang kenaikan tetap terbuka dengan target bertahap di US$79.000, US$81.000, hingga US$83.400. Strategi yang digunakan cenderung mempertahankan posisi long sambil melakukan realisasi keuntungan secara bertahap di area resistance.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


