Harga Bitcoin hari ini tergelincir ke bawah US$86.000, memicu kepanikan di kalangan pelaku pasar. Tekanan harga yang semakin dalam membuat banyak investor mempertanyakan kekuatan support jangka pendek Bitcoin.
Di tengah kondisi tersebut, data on-chain menyingkap pergerakan yang tidak biasa, terutama dari aktivitas whale dan pasar derivatif. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi di balik koreksi tajam BTC kali ini?
Harga Bitcoin Hari Ini Anjlok
Berdasarkan data Arkham Intelligence per Selasa (16/12/2025), harga Bitcoin hari ini tercatat melemah 3,02 persen dan tertekan ke bawah level US$86.000. Area ini dipandang sebagai zona psikologis penting, namun kini gagal dipertahankan.

Penembusan level tersebut mendorong Bitcoin bergerak mendekati titik terendah tahunan (yearly low), memicu kekhawatiran lanjutan di kalangan investor dan trader. Pelemahan ini juga mempertegas perubahan sentimen pasar yang cenderung defensif.
Tekanan harga tidak hanya menimpa Bitcoin. Koreksi ini terjadi bersamaan dengan pelemahan pasar kripto global, yang mencatat penurunan kapitalisasi sekitar 3,37 persen, serta koreksi di pasar saham dunia yang menghapus sebagian keuntungan sebelumnya.
Tekanan pasar semakin berat akibat gelombang likuidasi cepat di sektor kripto. Dalam kurun 12 jam, total likuidasi dilaporkan mencapai US$530 juta, memunculkan narasi bahwa aksi jual kali ini bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan dipicu faktor eksternal yang lebih agresif.

Whale BTC Bergerak, Sinyal Distribusi Makin Jelas
Data Arkham Intelligence mencatat adanya pergerakan besar whale Bitcoin menuju crypto exchange Binance. Secara total, lebih dari 600 BTC senilai sekitar US$97 juta dipindahkan ke bursa, mengindikasikan meningkatnya niat jual dari pemegang besar.
Salah satu transfer terbesar berasal dari alamat bc1q90 yang mengirim 339,29 BTC ke Binance. Aksi ini tercatat sebagai realisasi profit dengan estimasi keuntungan mencapai US$82,22 juta.
Transfer lainnya datang dari alamat 14zdqM yang memindahkan 260,71 BTC dan mengunci keuntungan sekitar US$14,88 juta. Sementara itu, address bc1q2m justru melakukan cut loss setelah mengirim 138 BTC dengan estimasi kerugian sekitar US$246 ribu.
Rangkaian transaksi ini mencerminkan fase distribusi yang jelas. Ketika whale crypto mulai mengambil untung atau membatasi kerugian, tekanan jual di pasar cenderung meningkat dan bergerak searah dengan pelemahan harga BTC yang sedang berlangsung.

Derivatif Bearish, Institusi Tetap Akumulasi
Sentimen bearish juga terlihat jelas di pasar derivatif. Di platform Hyperliquid, alamat dengan nama pension-usdt.eth menambah posisi short sebesar 80,29 BTC, meski di saat yang sama juga membuka posisi long.
Sementara itu, data Deribit menunjukkan negative delta skew. Kondisi ini biasanya menandakan meningkatnya permintaan put option sebagai bentuk lindung nilai terhadap potensi penurunan harga.
ATM implied volatility turut melonjak, mengisyaratkan bahwa pasar mengantisipasi pergerakan harga yang semakin volatil. Open interest di Bybit juga meningkat, menandakan bertambahnya eksposur pasar derivatif dan risiko lanjutan dalam waktu dekat.
Meski demikian, tidak semua whale bersikap defensif. Strategy justru melanjutkan akumulasi Bitcoin, dengan pembelian terbaru yang nilainya mendekati US$1 miliar. Sikap ini menegaskan pandangan jangka panjang yang tetap bullish, meskipun tekanan jangka pendek masih kuat.
Bitcoin Masih Berpotensi Rebound
Saat pasar mengalami koreksi besar, sejumlah analis menilai peluang pantulan teknikal Bitcoin masih terbuka. Salah satunya analis ternama Trader Roman, yang menulis di X pada Senin (15/12/2025) bahwa terdapat potensi rebound dalam waktu dekat.
“Selling volume tidak terlalu tinggi, jadi kemungkinan kita melihat bounce di sekitar US$84.000. Namun, bahkan jika memantul, saya masih percaya harga bisa turun ke US$76.000 dalam jangka waktu tertentu,” jelasnya.
Pandangan senada disampaikan oleh Daan Crypto, yang menganalisis order book di berbagai bursa. Ia menggambarkan pergerakan harga BTC saat ini sebagai “perburuan likuiditas besar”, di mana pasar cenderung bergerak fluktuatif tanpa arah yang jelas.
“Saya sungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa kalian kemungkinan tidak akan kehilangan banyak hal jika log off dan kembali setelah minggu pertama 2026. Menurut saya, pergerakannya akan didominasi oleh pola bart di berbagai aset,” tegasnya.

Tak hanya itu, figur seperti Michael Saylor tetap menyuarakan optimisme terhadap prospek Bitcoin. Meski demikian, dalam jangka pendek, pasar tampaknya masih harus menghadapi fase penuh tekanan sebelum arah pergerakan yang lebih jelas terbentuk.
Secara keseluruhan, tekanan jual tampaknya masih mendominasi pergerakan harga Bitcoin. Meski peluang rebound tetap ada, volatilitas diperkirakan masih tinggi sebelum arah harga BTC yang lebih jelas terbentuk.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



