Arus keluar Bitcoin (BTC) dari sejumlah bursa kripto meningkat dalam sepekan terakhir, memunculkan indikasi akumulasi oleh investor jangka panjang di tengah kondisi pasar yang masih tidak menentu.
Data on-chain yang dibagikan analis Darkfost di CryptoQuant menunjukkan netflow Bitcoin di berbagai platform perdagangan kembali mencatatkan angka negatif selama tujuh hari berturut-turut.
Netflow merupakan indikator yang mengukur selisih antara arus masuk dan arus keluar aset di bursa. Ketika nilainya negatif, artinya lebih banyak Bitcoin yang ditarik keluar dibandingkan yang disetor, kondisi yang kerap diasosiasikan dengan strategi penyimpanan jangka panjang atau akumulasi.
Netflow Negatif Beruntun, Sinyal Akumulasi Bitcoin Menguat
Darkfost mengungkapkan bahwa sejak 21 Februari, netflow di Binance, yang menguasai sekitar 25 persen total cadangan Bitcoin di bursa atau sekitar 665.000 BTC, telah berbalik negatif. Secara kumulatif, arus keluar mencapai minus 13.500 BTC. Dalam satu hari terakhir saja, sebanyak 3.848 BTC tercatat meninggalkan platform tersebut.

Fenomena ini tidak terbatas pada satu bursa. Secara agregat, seluruh platform perdagangan mencatat netflow negatif selama tujuh hari berturut-turut. Kondisi tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa investor kembali memindahkan kepemilikan BTC mereka ke dompet pribadi atau cold storage.
“Meski lingkungan pasar sulit, analisis netflow menunjukkan bahwa akumulasi mungkin sedang berlangsung,” ungkap Darkfost.
Ia menambahkan bahwa setelah mengalami koreksi sekitar 50 persen dari puncaknya, level harga saat ini dinilai semakin menarik bagi pelaku pasar jangka panjang. Meski demikian, pergerakan harga masih cenderung bergerak dalam rentang terbatas atau range-bound.
Aktivitas Derivatif Menguat, Risiko Teknikal Masih Membayangi
Di sisi lain, data derivatif dari CoinGlass menunjukkan peningkatan aktivitas perdagangan. Volume kontrak derivatif Bitcoin melonjak 54,53 persen menjadi US$94,59 miliar, sementara open interest naik 2,13 persen ke level US$43,74 miliar.

Kenaikan ini mengindikasikan meningkatnya partisipasi pelaku pasar di tengah dinamika harga yang relatif stagnan.
Dari sisi teknikal, analis GainMuse menilai pada time frame 2 jam, harga BTC tertahan tepat di bawah garis macro descending resistance. Setelah memantul dari support channel, harga sempat masuk ke zona supply yang disorot, namun gagal mempertahankan breakout.

Dari sudut pandang teknikal, pola yang terbentuk menunjukkan pemulihan menuju resistance yang diikuti oleh penolakan lokal. Bias jangka pendek dinilai bearish, dengan risiko penurunan meningkat apabila harga menembus batas bawah kisaran saat ini.
Level resistance kunci berada di rentang US$67.500 hingga US$68.000, sedangkan support terdekat berada di kisaran US$63.500 hingga US$64.000. Skenario bearish jangka pendek akan kandas apabila harga mampu merebut kembali dan ditutup kuat di atas US$68.000.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



