Harga Bitcoin kembali menembus US$80.000 setelah mengalami tekanan pada akhir Oktober. Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$80.500–US$80.700, naik lebih dari 6 persen dalam 24 jam (05/11/2026).
INDODAX menyebutkan pergerakan ini sebagai indikasi positif pemulihan sentimen pasar, meskipun keberlanjutannya masih dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi global.
Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menilai pergerakan positif ini menunjukkan mulai membaiknya minat pelaku pasar setelah periode penuh ketidakpastian.
“Penguatan ini menjadi perkembangan positif karena menunjukkan pasar mulai merespons kejelasan situasi global. Kami melihat adanya momentum pemulihan, tetapi kenaikan dalam satu atau dua hari belum cukup untuk memastikan arah pasar dalam jangka panjang. Investor tetap perlu memperhatikan likuiditas dan perkembangan data ekonomi,” ujar Dian.
Sentimen Global dan Kebijakan AS Jadi Perhatian Pasar
Secara global, penguatan Bitcoin berlangsung seiring pasar mencermati hasil midterm election di AS. Perubahan komposisi politik setelah kemenangan Partai Demokrat AS menjadi perhatian pelaku pasar dalam menilai proses pembahasan dan arah kebijakan ekonomi serta regulasi ke depan.
Pelaku pasar juga mencermati bagaimana perubahan politik tersebut dapat memengaruhi kebijakan ekonomi, prospek inflasi dan suku bunga, serta minat terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Namun, perubahan tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko, sehingga perkembangan kebijakan dan volatilitas pasar tetap perlu dicermati.
Di sisi regulasi, perhatian turut tertuju pada kelanjutan pembahasan regulasi kripto, termasuk CLARITY Act serta usulan terkait perluasan peran pengawasan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) dan penguatan perlindungan investor. Usulan tersebut masih dalam tahap pembahasan, sehingga bentuk akhir aturan dan implikasinya belum dapat dipastikan.
Agenda berikutnya yang menjadi perhatian adalah laporan ketenagakerjaan AS. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed, yang selanjutnya turut menentukan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Investor Kripto Indonesia Tembus 23,48 Juta
Di dalam negeri, partisipasi masyarakat dalam ekosistem kripto terus berkembang. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terbaru, jumlah investor kripto mencapai sekitar 23,48 juta pada September 2026, tumbuh sekitar 1,16 persen. Total nilai transaksi pada September 2026 juga tercatat mencapai Rp30,56 triliun, naik sekitar 31,95 persen dari bulan sebelumnya.
OJK juga mendorong pengembangan aset keuangan digital dan kripto syariah yang dapat memberikan manfaat ekonomi nyata dan memperkuat kepercayaan masyarakat. Pengembangannya perlu disertai transparansi transaksi, tata kelola, pengawasan, serta penguatan literasi dan perlindungan konsumen.
Aloysia menambahkan bahwa peningkatan aktivitas pasar perlu diimbangi dengan literasi agar konsumen dapat menyikapi pemulihan harga secara terukur dan rasional.
“Pertumbuhan partisipasi masyarakat perlu diikuti pemahaman yang semakin baik. Momentum pemulihan sebaiknya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi strategi, bukan alasan mengambil keputusan karena takut tertinggal (FOMO). Investor perlu melakukan riset mandiri, memahami aset yang dipilih, dan mengatur alokasi sesuai kemampuan menanggung risiko,” tambahnya.
Bagi investor, pembelian berkala atau investasi rutin di INDODAX dapat menjadi pilihan untuk menjaga disiplin investasi, dengan alokasi sesuai kondisi finansial dan kemampuan manajemen risiko. INDODAX juga mengingatkan untuk menggunakan dana di luar kebutuhan pokok dan dana darurat, serta Do Your Own Research (DYOR) sebelum berinvestasi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


