Harga Bitcoin mengalami tekanan signifikan dalam 24 jam terakhir setelah sempat menyentuh level terendah di kisaran US$74.502. Penurunan ini mendekati titik terendah tahunan 2025 dan memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Menurut analis Easy On Chain di CryptoQuant, kondisi tersebut menandai bahwa pasar Bitcoin telah memasuki fase kapitulasi, yaitu periode ketika investor menjual aset secara masif akibat tekanan psikologis dan kerugian yang berkepanjangan.
Easy On Chain menilai bahwa fase ini ditandai dengan meningkatnya aksi jual dari pemegang jangka pendek, baik investor ritel maupun institusional.
“Data on-chain menunjukkan bahwa pasar saat ini berada dalam fase kapitulasi yang jelas, di mana pemegang jangka pendek menjual aset mereka dalam kondisi rugi,” ujar Easy On Chain.
Situasi ini terjadi di tengah melemahnya sentimen global terhadap aset berisiko dan meningkatnya kehati-hatian investor.
Penurunan harga BTC terjadi pada awal Februari 2026, di tengah volatilitas pasar kripto global. Pergerakan ini berlangsung di pasar spot dan derivatif internasional, termasuk bursa utama yang menjadi rujukan harga global.
Tekanan tersebut dipicu oleh kombinasi faktor teknikal, realisasi kerugian, serta perubahan perilaku investor yang cenderung defensif.
Sinyal Kapitulasi Bitcoin
Salah satu indikator utama yang mengonfirmasi fase kapitulasi adalah Short-Term Holder SOPR (STH-SOPR), yang saat ini berada di level 0,9807.

Angka ini menunjukkan bahwa pemegang Bitcoin dengan usia kepemilikan di bawah 155 hari menjual aset mereka dalam kondisi rugi. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan jual dari investor jangka pendek.

Selain itu, persentase pasokan Bitcoin yang berada dalam posisi rugi tercatat mencapai 27,5 persen. Artinya, lebih dari seperempat Bitcoin yang beredar saat ini berada di bawah harga beli pemiliknya. Indikator STH-MVRV juga turun ke level 0,79, menandakan rata-rata pembeli baru mengalami kerugian belum terealisasi sekitar 21 persen.
“Ketika STH-MVRV turun di bawah 0,8, hal itu mencerminkan ketakutan ekstrem dan kondisi pasar yang oversold,” ungkap Easy On Chain.
Menurutnya, kondisi tersebut secara historis kerap muncul menjelang fase stabilisasi atau pemulihan harga Bitcoin.

Data on-chain juga menunjukkan bahwa tekanan ini tidak hanya terjadi pada investor ritel, tetapi juga mulai berdampak pada pelaku institusional. Harga BTC saat ini berada di bawah ETF Realized Price di kisaran US$79.035, yang mencerminkan rata-rata harga masuk investor institusi.
Level US$74.000 Jadi Penentu Arah Pasar
Dalam analisis struktur pasar, Easy On Chain menekankan bahwa area US$74.000 merupakan level support krusial bagi Bitcoin. Level ini terbentuk dari titik terendah pada April 2025 dan berfungsi sebagai lantai utama dalam siklus saat ini.
Selama harga mampu bertahan di atas zona tersebut, peluang akumulasi oleh investor berpengalaman masih terbuka.
Apabila level US$74.000 berhasil dipertahankan, pasar berpotensi membentuk pemulihan cepat atau V-bottom. Kondisi ini biasanya terjadi ketika tekanan jual mereda dan permintaan mulai kembali meningkat.
Namun, jika support tersebut ditembus, fokus pasar diperkirakan bergeser ke area US$68.000, yang bertepatan dengan moving average 200 minggu dan dianggap sebagai batas utama antara fase bullish dan bearish jangka panjang.
Di sisi lain, zona US$79.000 hingga US$80.000 kini berubah menjadi area resistance jangka pendek. Sementara itu, basis biaya pemegang jangka pendek di kisaran US$95.000 hingga US$99.000 masih menjadi hambatan utama bagi Bitcoin untuk kembali memasuki tren naik makro.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



