Bitcoin Masuk Fase Penentuan, Regulasi AS dan Sinyal Akumulasi Jadi Sorotan

Bitcoin kini berada di fase yang dinilai krusial setelah muncul dorongan regulasi baru di AS yang berpotensi mengubah struktur pasar aset digital secara permanen.

Analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant menilai rancangan aturan bernama Digital Asset Market Clarity Act of 2025 bisa menjadi titik balik besar bagi industri kripto, terutama untuk Bitcoin.

Rancangan undang-undang (RUU) tersebut mengatur pembagian kewenangan antara SEC AS dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), dengan menetapkan Bitcoin dan Ethereum sebagai komoditas digital di bawah pengawasan CFTC.

Langkah ini dinilai penting karena dapat menghapus ketidakpastian hukum yang selama ini membayangi industri aset digital, khususnya terkait klasifikasi berdasarkan Howey Test.

CLARITY Act Tertahan, Pasar Bitcoin Menunggu Kepastian

Meski sudah lolos pembahasan di DPR AS, proses legislasi masih tertahan di Senat akibat tarik-ulur soal model imbal hasil stablecoin dan tanggung jawab hukum pengembang DeFi. XWIN Japan menilai hambatan ini menunjukkan benturan kepentingan antara sistem keuangan tradisional dan model ekonomi digital yang sedang berkembang.

CLARITY Act bukan sekadar regulasi, tapi perubahan struktural dalam cara pasar memberi valuasi pada Bitcoin,” ungkap XWIN Japan.

BACA JUGA:  Bitcoin Hari Ini Jadi Sorotan saat Saham dan Obligasi Kian Seirama

Menurut XWIN Japan, jika aturan ini disahkan, partisipasi institusional terhadap Bitcoin berpotensi meningkat karena kepastian hukum bisa mengurangi risiko kepatuhan dan membuka jalur adopsi yang lebih luas di sektor keuangan formal.

Data On-Chain Mulai Tunjukkan Fase Akumulasi

Di tengah ketidakpastian regulasi, data on-chain justru memperlihatkan sinyal yang cenderung konstruktif. Analis CryptoOnchain membagikan rasio Sender to Receiver Bitcoin yang anjlok dari level 1,4 ke 0,9, level terendah sejak Maret 2023.

Bitcoin sender receiver ratio

Secara historis, rasio di atas 1 menunjukkan lebih banyak alamat yang mengirim Bitcoin dibanding menerima, yang biasanya identik dengan konsolidasi atau tekanan jual. Namun penurunan tajam ke bawah level 1 mengindikasikan jumlah wallet penerima kini lebih besar daripada pengirim.

Menurut CryptoOnchain, pola ini sering muncul dalam fase akumulasi, di mana distribusi kepemilikan mulai menyebar ke lebih banyak holder. Situasi ini bisa berarti pemain besar mulai memecah aset ke wallet kecil atau partisipasi investor ritel mulai meningkat.

Sementara itu, XWIN Japan juga mencatat indikator Coinbase Premium Index masih berada di area negatif sejak 2025. Kondisi ini menunjukkan permintaan spot dari investor AS masih belum pulih sepenuhnya.

BACA JUGA:  XRP Hari Ini Makin Langka di Binance, Sinyal Besar Mulai Terbentuk?

Bitcoin coinbase index

Hal ini menjelaskan mengapa Bitcoin beberapa bulan terakhir bergerak dalam pola sempit dan tidak stabil. Likuiditas memang mulai kembali masuk, tetapi kepercayaan pasar, terutama dari investor spot, masih tertahan.

Bitcoin Ungguli Emas, Tapi Risiko Koreksi Masih Terbuka

Di sisi lain, analis Ash Crypto menyoroti rasio Bitcoin terhadap emas yang mulai menunjukkan perubahan dominasi. Dalam analisisnya, Bitcoin tercatat naik sekitar 35 persen terhadap emas sejak eskalasi konflik antara AS dan Iran mulai memanas.

Pair BTC/GOLD kini memantul dari area support historis yang sebelumnya beberapa kali menjadi titik balik besar. Struktur itu membentuk potensi double bottom, yang biasanya menjadi fondasi awal pembalikan tren naik.

BTC analisis mei

Indikator teknikal memperkuat pandangan itu. MACD mingguan tercatat membentuk bullish crossover, sementara RSI berhasil breakout dari tren turun panjangnya. Kombinasi ini mengindikasikan kekuatan relatif Bitcoin terhadap emas mulai pulih dan berpotensi mengambil kembali dominasi sebagai aset lindung nilai.

BACA JUGA:  Pasar Kripto Menegang, Momentum Besar Mengintai SOL, ADA dan PEPE

Namun, analis Ali Martinez mengingatkan risiko koreksi jangka pendek masih terbuka. Melalui indikator TD Sequential pada grafik tiga harian, muncul sinyal jual yang menunjukkan potensi kelelahan tren setelah reli sekitar 32 persen sejak Februari 2026.

BTC analisis 3 mei terbaru

Ali Martinez memperkirakan Bitcoin bisa mengalami koreksi selama satu hingga empat candle ke depan. Jika gagal mempertahankan area support utama, tekanan jual bisa berkembang menjadi fase koreksi yang lebih dalam.

Kombinasi regulasi yang belum di tahap akhir, akumulasi on-chain yang menguat, dominasi terhadap emas yang mulai pulih, serta sinyal koreksi teknikal membuat Bitcoin kini berada di persimpangan penting.

Pasar menunggu apakah kepastian regulasi dari AS benar-benar bisa menjadi pemicu reli besar berikutnya, atau justru membuka fase konsolidasi lebih panjang sebelum arah baru terbentuk.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait