Bitcoin Merah? Robert Kiyosaki Bilang Ini Justru Fase Penting

Penulis buku Rich Dad Poor Dad menilai banyak orang terlalu cepat menyimpulkan bahwa kripto telah berakhir setiap kali harga Bitcoin melemah, terlebih setelah jatuh ke US$65.000 dalam beberapa waktu terakhir.

Padahal, menurutnya, pandangan tersebut justru mengabaikan pelajaran penting dari sejarah pasar keuangan global, terutama terkait likuiditas, kebijakan bank sentral, dan juga siklus risiko.

Pandangan Kiyosaki soal Siklus Bitcoin dan Likuiditas 

Lewat sebuah unggahan yang dibagikan Robert Kiyosaki pada Kamis (05/02/2026), pelemahan Bitcoin belakangan ini dinilai bukan disebabkan oleh kegagalan teknologi maupun melambatnya adopsi, melainkan akibat mengetatnya likuiditas global.

“Bitcoin baru-baru ini turun mendekati level yang terakhir kali terlihat pada 2024. Bukan karena teknologinya gagal. Bukan karena adopsinya melambat. Melainkan karena aset berisiko sedang mengalami penyesuaian harga,” jelasnya.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Kiyosaki menegaskan bahwa bank sentral memegang kendali utama atas likuiditas. Ketika kebijakan moneter diperketat, aset berisiko cenderung tertekan lebih dulu. Saham melemah, sektor teknologi terpukul, dan kripto ikut terseret dalam tekanan yang bersifat sistemik.

BACA JUGA:  VP Indodax Bicara Strategi Aman Beli Bitcoin Saat Tekanan Makro Meningkat

Ia juga menyoroti tekanan di level institusional. Dana besar dan entitas yang menggunakan leverage berada dalam posisi rentan. Ketika margin call terjadi, tekanan jual semakin dalam dan mempercepat penurunan sebagai bagian dari proses pembersihan pasar.

“Pemegang besar, baik dana maupun entitas yang meminjam atau menggunakan leverage, akan tertekan. Saat penjualan paksa terjadi, tekanan ke bawah semakin cepat. Namun, itu tidak berarti Bitcoin tidak bernilai. Artinya, pasar sedang membersihkan pelaku dengan tangan lemah dan penggunaan leverage yang rapuh,” tegasnya.

Supply Shock Bitcoin Kian Dekat, Likuiditas Pasar Menyusut

Harga, Ketakutan, dan Pelajaran bagi Investor

Dalam pandangan Kiyosaki, harga Bitcoin tidak selalu mencerminkan nilai fundamentalnya. Harga lebih sering menjadi cerminan konsensus pelaku pasar yang rapuh secara psikologis. Saat ini, konsensus itu didorong oleh sentimen fear, bukan oleh penilaian rasional atas siklus jangka panjang.

BACA JUGA:  Epstein Files Picu Spekulasi, Satoshi Nakamoto Diduga Bukan Satu Orang

Ia mengingatkan bahwa siklus pasar tidak pernah bergerak lurus. Likuiditas yang melonggar, kepercayaan yang pulih, dan selera risiko yang membaik kerap menjadi pemicu fase berikutnya. 

“Setiap kelas aset utama dalam sejarah pernah mengalami koreksi sebelum melanjutkan tren. Emas pernah mengalaminya. Saham teknologi juga. Properti pun demikian. Bitcoin tidak berbeda,” pungkasnya.

Kiyosaki menegaskan bahwa harga lebih mencerminkan tingkat ketakutan pasar dibandingkan nilai sebenarnya. Penurunan harga Bitcoin bukan kegagalan, melainkan sinyal penyesuaian terhadap likuiditas yang ketat, tekanan leverage, dan fase kapitulasi.

Ia menekankan pentingnya disiplin investor. Menunggu sentimen positif justru berisiko membuat investor terlambat masuk. Fokus utamanya bukan pada apakah Bitcoin mati, melainkan pada kemampuan memahami siklus pasar lebih awal.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia