Harga Bitcoin menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah tertekan di bawah level US$60 ribu. Namun, di balik optimisme tersebut, sejumlah analis memperingatkan bahwa fase terberat siklus ini mungkin belum berakhir.
Jika pola historis empat tahunan kembali terulang, harga BTC masih berpotensi mengalami koreksi lebih dalam sebelum akhirnya memulai reli besar berikutnya menuju rekor harga baru pada 2028.
Siklus Empat Tahunan BTC Dinilai Masih Relevan
Trader sekaligus analis Bitcoin ternama, Bob Loukas, dalam analisis terbarunya pada Kamis (04/06/2026), menilai pergerakan BTC saat ini masih mengikuti pola siklus empat tahunan yang selama ini berulang di pasar kripto.
“Semua orang terus mengatakan kali ini berbeda. Saya sudah mendengar berbagai alasan yang sama di siklus sebelumnya. Padahal, ini adalah siklus empat tahunan yang sangat normal,” ujar Loukas.
Ia menjelaskan bahwa Bitcoin kini mulai memasuki jendela waktu yang kerap menjadi titik terendah siklus bear market. Saat ini siklus berada di pekan ke-44, sementara titik terendah biasanya muncul di sekitar pekan ke-46 dengan toleransi 10 persen.
Berdasarkan pola tersebut, area US$53 ribu dinilai sebagai level yang wajib diperhatikan trader. Selain berpotensi menjadi support, level tersebut juga dipandang sebagai area akumulasi yang menarik apabila harga benar-benar mencapainya.
Loukas menambahkan, apabila siklus empat tahunan kembali berjalan sesuai pola historis, Bitcoin berpeluang memasuki fase price discovery baru dan mencetak rekor harga tertinggi dalam beberapa tahun mendatang.
“Tidak ada yang benar-benar tahu. Namun saya percaya tahun 2028, Bitcoin akan melampaui rekor harga tertinggi sebelumnya. Karena itu, melakukan akumulasi di area US$53 ribu akan menjadi langkah yang menguntungkan,” tuturnya.
US$60 Ribu Jadi Level Krusial bagi Bitcoin
Meski demikian, belum semua pelaku pasar yakin Bitcoin telah membentuk dasar harga. Ketidakpastian ekonomi global serta meningkatnya risiko geopolitik membuat banyak investor memilih bersikap hati-hati.
Penyedia alat analisis trading, Material Indicators, melalui unggahan di X pada Selasa (09/06/2026), menilai kondisi pasar saat ini memperlihatkan perpaduan antara optimisme dan ketakutan yang menjadi ciri khas fase bear market.
“Kombinasi optimisme bahwa BTC saat ini sudah membentuk dasar harga dan FUD bahwa hal itu belum terjadi merupakan karakter klasik dari pasar bearish,” tulis mereka.

Sementara itu, perusahaan perdagangan QCP Capital dalam laporan pasar yang dirilis pada Senin (08/06/2026) menyebut Bitcoin masih bergerak dalam “koridor psikologis yang sempit”, dengan area US$60 ribu menjadi level penting yang harus dipantau.
“Bitcoin berada dalam koridor psikologis yang sempit. Area US$60 ribu terus menarik minat beli, tetapi pasar opsi masih bersikap defensif, sementara risiko makroekonomi masih membayangi layaknya tamu tak diundang yang enggan pergi,” tulis QCP Capital.
Kondisi tersebut membuat pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Jika tekanan jual kembali meningkat, area US$53 ribu berpotensi menjadi target koreksi berikutnya sebelum pasar menemukan titik balik.
Bagi investor jangka panjang, potensi koreksi ini dapat menjadi peluang akumulasi. Namun, trader jangka pendek tetap perlu waspada karena sentimen pasar masih mudah berubah mengikuti perkembangan ekonomi dan kondisi global.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


