Bitcoin untuk kali pertama dalam sejarah mematahkan pola 4 tahunan yang selama ini dianggap konsisten sejak 14 tahun terakhir.
Analis pasar kripto Bull Theory pada hari Kamis (1/1/2026) menyatakan bahwa tahun setelah halving yang biasanya selalu ditutup dengan penguatan, kini justru berakhir di zona merah.
Tahun 2024 sebagai tahun halving memang ditutup menguat, namun tahun 2025 berakhir dengan penurunan. Peristiwa ini dianggap sebagai momen penting karena mengubah ekspektasi siklus pasar Bitcoin yang selama bertahun-tahun menjadi acuan pelaku industri.

Bull Theory menegaskan perubahan ini bukan berarti Bitcoin memasuki fase pelemahan struktural, tetapi menunjukkan perubahan karakter pasar.
“Untuk kali pertama dalam sejarah Bitcoin, tahun pasca-halving ditutup dengan merah,” ujar Bull Theory.
Menurutnya, selama beberapa siklus terakhir, pola 4 tahunan Bitcoin selalu menunjukkan pola yang relatif sama, yakni tahun halving cenderung positif, tahun setelah halving biasanya lebih bullish, kemudian pasar mencapai puncak sebelum memasuki bear market dalam. Namun kali ini, skenario tersebut tidak terjadi.
Faktor Pendorong Perubahan Pola Bitcoin
Perubahan kondisi ini dikaitkan dengan bergesernya faktor penggerak utama pasar Bitcoin. Jika pada siklus-siklus awal Bitcoin pergerakan harga lebih didorong oleh supply shock halving dan spekulasi investor ritel, saat ini pasar dinilai lebih dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi global.
Bull Theory menyatakan Bitcoin kini bergerak selaras dengan likuiditas global, tingkat suku bunga, arus institusional, serta siklus bisnis yang lebih luas. Halving masih memiliki peran, tetapi dampaknya dianggap semakin mengecil seiring bertambahnya ukuran pasar.
Sebagai perbandingan, pada 2012 pengurangan pasokan harian setelah halving mencapai ribuan BTC, sementara pada 2024 jumlahnya hanya ratusan BTC. Kondisi tersebut membuat efek kejut pasokan tidak lagi sedramatis masa lalu.
“Halving masih penting, tetapi dampaknya lebih kecil,” ujar Bull Theory.
Dengan masuknya institusi ke pasar, pengaruh faktor fundamental seperti kebijakan moneter global dan kondisi likuiditas dinilai semakin dominan dalam membentuk arah gerak Bitcoin. Karena itu, pola 4 tahunan Bitcoin dinilai tidak lagi berjalan secara “otomatis” seperti sebelumnya.
Di tengah perubahan pola ini, Bull Theory menilai siklus Bitcoin tidak benar-benar rusak, melainkan mengalami proses pematangan. Bitcoin dinilai bergerak dari siklus berbasis spekulasi menuju siklus yang berorientasi pada dinamika ekonomi global.
Analisis Teknikal Isyaratkan Peluang Kenaikan
Selain perubahan struktur siklus, sejumlah analis teknikal juga melihat potensi arah pergerakan harga jangka pendek. Analis Ted menyebut pola teknikal Adam and Eve saat ini tengah terbentuk pada grafik empat jam Bitcoin.

Ted menyatakan bahwa penutupan harga di atas level US$94.000 berpotensi membuka jalan menuju kisaran US$103.000 hingga US$105.000.
Dengan kombinasi perubahan fundamental siklus dan sinyal teknikal yang mulai mencuat, pasar kini menghadapi fase ketidakpastian yang berbeda dibanding sebelumnya.
Pelaku pasar menilai, apakah fase ini akan mengarah pada pembentukan pola baru atau kembali menyelaraskan diri dengan pola 4 tahunan Bitcoin akan sangat ditentukan oleh kebijakan moneter global, aliran dana institusional, dan kondisi likuiditas beberapa waktu ke depan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



