Bitcoin Tak Seperti Dulu, Bos Indodax Ungkap Cara Baru Melihat BTC

Bitcoin pernah identik dengan cerita keuntungan puluhan kali lipat. Namun, setelah hampir dua dekade berkembang, karakter kripto terbesar itu perlahan berubah bersama masuknya institusi besar.

CEO Indodax William Sutanto melihat fase tersebut sebagai tanda bahwa Bitcoin semakin matang. Potensi pertumbuhannya masih ada, tetapi ekspektasi investor terhadap keuntungan ekstrem perlu disesuaikan.

Bitcoin Mulai Masuk Fase yang Lebih Matang

Dalam podcast di kanal YouTube Mudacumasekali pada Kamis (08/10/2026), CEO Indodax William Sutanto membandingkan perjalanan Bitcoin dengan pola pertumbuhan aset atau perusahaan melalui kurva berbentuk S.

Pada fase awal, sebuah aset dapat tumbuh secara eksponensial karena basis pengguna dan valuasinya masih kecil. Setelah semakin besar, pertumbuhan biasanya mulai melambat dan bergerak lebih stabil.

Menurut William, kondisi tersebut mulai terlihat pada Bitcoin. Aset kripto itu telah berkembang selama sekitar 17 tahun dan kini memiliki karakter pasar yang berbeda dibandingkan periode awal.

State Street: Institusi Bakal Gandakan Eksposur Kripto dalam 3 Tahun ke Depan

Dulu, Bitcoin lebih banyak dikenal oleh programmer, internet marketer, dan kalangan yang aktif menjelajahi internet. Kini, investor institusional, family office, hingga pemilik modal besar mulai ikut masuk.

BACA JUGA:  Bitcoin Tunggu Keputusan The Fed, US$83.000 Jadi Gerbang Reli Berikutnya

William menilai perubahan komposisi investor tersebut turut mengubah pola pergerakan harga Bitcoin, sebab kelompok institusional biasanya tidak datang dengan ekspektasi keuntungan lima hingga sepuluh kali lipat.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

“Semakin lama kita harus menyadari bahwa Bitcoin itu sudah mature. Jadi tren pertumbuhan memang masih naik, tetapi sudah tidak eksponensial lagi,” ujar William dalam podcast tersebut.

Incar Cuan Besar? BTC Mungkin Bukan Tempatnya

Perubahan tersebut bukan berarti prospek Bitcoin telah berakhir. William justru melihat arah pertumbuhannya positif, hanya saja kenaikannya lebih menyerupai aset mapan dibandingkan aset spekulatif tahap awal.

Bagi investor yang mengejar potensi keuntungan eksponensial seperti Bitcoin pada masa lalu, William menilai peluang investasi semacam itu kini lebih mungkin ditemukan pada aset kripto berkapitalisasi lebih kecil.

Logikanya mirip dengan pasar saham. Saham perusahaan besar menawarkan pertumbuhan lebih stabil, sedangkan perusahaan kecil masih memiliki ruang lebih luas untuk mencetak kenaikan berkali-kali lipat.

“Kalau kita berharap risk appetite kita untuk mendapatkan exponential gain seperti Bitcoin zaman dulu, ya kita bertaruhnya di small caps. Tidak bisa lagi di aset yang high caps,” jelas William.

BACA JUGA:  Prediksi Harga Bitcoin di Uptober: Citi Kini Bidik US$113.000

Namun, potensi keuntungan lebih besar otomatis datang bersama risiko yang jauh lebih tinggi. William menyarankan investor dengan toleransi risiko rendah menempatkan sebagian besar modal pada aset dengan market cap yang besar.

Ia menyebut Bitcoin, Ethereum, dan Solana sebagai contoh aset yang dapat menjadi bagian utama portofolio, sementara meme coin atau token baru sebaiknya hanya memperoleh porsi lebih terbatas.

Institusi Datang, Cara Melihat Bitcoin Ikut Berubah

Masuknya institusi memperlihatkan perubahan penting lainnya. William mengungkap sejumlah pemilik modal yang dikenalnya masih memiliki keyakinan bahwa nilai BTC akan terus mengalami apresiasi.

Menurutnya, keyakinan itu tidak berhenti pada pembelian langsung. Sebagian investor terus menambah eksposur, termasuk melalui bisnis mining yang memberi mereka akses berbeda terhadap Bitcoin.

“Banyak dari mereka yang saya kenal memang yakin harga Bitcoin akan selalu appreciate. Mereka terus investasi, baik dengan membeli Bitcoin langsung maupun investasi di mining,” ujar William.

Kenapa Crypto Menarik untuk Investasi Jangka Panjang?

Baginya, mining BTC pada dasarnya merupakan bisnis energi. Pelaku yang memiliki akses listrik murah dapat mengubah energi menjadi Bitcoin dan berpotensi menangkap nilai ekonomi yang lebih tinggi.

BACA JUGA:  Jaringan Lightning Bitcoin Dapat Pertahanan Kuantum, Begini Cara Kerjanya!

CEO Indodax tersebut menilai biaya listrik sekitar US$0,04 hingga US$0,05 per kWh sudah cukup menarik untuk menjalankan mining, terutama bagi pihak yang memang memiliki sumber energi murah.

“Kalau memang punya akses ke listrik murah, ya lebih baik mining. Karena dari situ kita bisa juga mendapatkan Bitcoin dengan harga yang lebih murah lagi,” jelasnya.

Namun, perubahan perilaku investor besar juga menunjukkan bahwa BTC kini dimainkan dengan horizon berbeda. Fokusnya bukan lagi sekadar mengejar lonjakan ekstrem, melainkan membangun investasi jangka panjang.

Bagi ritel, pergeseran itu menjadi pengingat bahwa strategi setiap siklus tidak bisa sekadar mengulang pola lama. Ukuran pasar Bitcoin sendiri telah mengubah karakter peluang dan risikonya.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait