Sebanyak 2,3 juta Bitcoin terancam dibobol di masa depan jika komputer kuantum yang cukup kuat berhasil memecahkan sistem kriptografi yang melindungi kepemilikan BTC.
Bitcoin selama ini dikenal sebagai aset digital yang aman karena dilindungi oleh kriptografi. Namun, riset terbaru dari Google Quantum AI bersama peneliti dari Ethereum Foundation, UC Berkeley dan Stanford menunjukkan bahwa perkembangan komputer kuantum bisa menjadi ancaman besar bagi Bitcoin dan aset kripto lain di masa depan.
Penting untuk dipahami, isu ini bukan berarti Bitcoin bisa dibobol hari ini. Komputer kuantum yang dibutuhkan untuk menjalankan serangan tersebut belum tersedia secara praktis. Namun, riset ini memperlihatkan bahwa ancaman tersebut semakin layak diperhitungkan, terutama karena estimasi sumber daya untuk menyerang kriptografi Bitcoin kini jauh lebih rendah dibanding perkiraan lama.
BACA JUGA: Siapa Raja Bitcoin 2026? Ini Perbandingan Performa MSTR, BlackRock hingga Metaplanet!
Mengapa Bitcoin Terancam Dibobol oleh Komputer Kuantum?
Bitcoin menggunakan sistem tanda tangan digital berbasis elliptic curve cryptography, khususnya secp256k1. Sederhananya, ketika kamu mengirim BTC, jaringan Bitcoin memverifikasi bahwa transaksi tersebut benar-benar ditandatangani oleh pemilik private key yang sah.
Dalam kondisi komputer klasik saat ini, mengambil private key dari public key hampir mustahil dilakukan. Namun, komputer kuantum yang cukup kuat dapat menggunakan Shor’s algorithm untuk menyelesaikan masalah matematika yang menjadi dasar keamanan elliptic curve cryptography.
Artinya, jika public key sebuah wallet sudah terlihat, komputer kuantum masa depan secara teori dapat menurunkan private key dari public key tersebut. Jika berhasil, penyerang bisa membuat tanda tangan digital palsu dan memindahkan Bitcoin ke address yang mereka kendalikan. Inilah alasan mengapa narasi “Bitcoin terancam dibobol” mulai menjadi perhatian serius.
Riset Google: Serangan Bisa Masuk Skenario Hitungan Menit

Dalam risetnya, Google Quantum AI memperkirakan serangan terhadap secp256k1 dapat dilakukan dengan sekitar 1.200 logical qubits dan 90 juta Toffoli gates, atau 1.450 logical qubits dan 70 juta Toffoli gates. Pada asumsi arsitektur superconducting tertentu, proses tersebut dapat berjalan dalam hitungan menit dengan kurang dari 500 ribu physical qubits.
Angka ini penting karena menunjukkan bahwa ancaman kuantum bukan hanya soal hardware, tetapi juga soal kemajuan algoritma dan error correction. Jika teknik komputasi kuantum semakin efisien, waktu menuju ancaman nyata bisa menjadi lebih pendek dari yang dibayangkan banyak orang.
Salah satu skenario yang disorot adalah on-spend attack. Ini terjadi ketika transaksi Bitcoin masuk ke public mempool, public key terlihat, lalu penyerang kuantum mencoba mendapatkan private key sebelum transaksi asli masuk ke blok. Karena rata-rata block time Bitcoin sekitar 10 menit, riset tersebut menilai bahwa komputer kuantum fast-clock di masa depan dapat membuat jenis serangan ini menjadi relevan.
BACA JUGA: 15 Cara Menjaga Aset Kripto dari Ancaman Hacker untuk Pemula
Kenapa 2,3 Juta Bitcoin Jadi Sorotan?

Angka 2,3 juta BTC merujuk pada dormant quantum-vulnerable bitcoin, yaitu Bitcoin yang berpotensi rentan karena public key-nya terekspos atau berada dalam jenis script lama.
Salah satu contoh terbesarnya adalah Pay-to-Public-Key atau P2PK, format lama yang banyak digunakan pada era awal Bitcoin. Dalam model ini, public key tercatat langsung di blockchain. Riset tersebut menyebut lebih dari 1,7 juta BTC berada dalam P2PK scripts, termasuk sebagian koin era awal Bitcoin.
Masalahnya, aset dormant tidak bisa bermigrasi dengan mudah. Wallet aktif masih bisa memindahkan BTC ke format yang lebih aman jika komunitas Bitcoin nanti menerapkan sistem post-quantum. Namun, BTC yang private key-nya hilang, tidak aktif, atau tidak lagi dikendalikan pemiliknya akan tetap menjadi target tetap di blockchain.
Karena itu, 2,3 juta Bitcoin terancam dibobol bukan dalam konteks serangan hari ini, tetapi sebagai potensi target besar ketika komputer kuantum kriptografis benar-benar tersedia.
Apakah Semua Wallet Bitcoin Rentan?
Tidak semua wallet Bitcoin memiliki tingkat risiko yang sama. Faktor utamanya adalah apakah public key sudah terekspos atau belum.
Address lama seperti P2PK mengekspos public key secara langsung. Sementara itu, address yang hanya menampilkan hash dari public key, seperti P2PKH atau P2WPKH, relatif lebih aman terhadap serangan at-rest selama public key belum pernah terlihat dalam transaksi sebelumnya.
BACA JUGA: 5 Bitcoin Wallet Terbaik untuk Pemula
Ethereum dan Blockchain Lain Juga Berisiko
Risiko kuantum tidak hanya berlaku untuk Bitcoin. Ethereum dan banyak blockchain lain juga menggunakan kriptografi yang rentan terhadap komputer kuantum.
Bedanya, Ethereum punya permukaan serangan yang lebih luas karena menggunakan account model, smart contract, validator Proof-of-Stake, Layer 2, stablecoin dan real-world asset tokenization. Jika admin key smart contract atau validator key terekspos, dampaknya bisa menjalar ke DeFi, bridge, oracle, stablecoin, DAO dan berbagai aplikasi onchain lain.
Memasuki Era Post-Quantum Cryptography
Solusi jangka panjangnya adalah migrasi ke post-quantum cryptography atau PQC. Ini adalah jenis kriptografi yang dirancang agar tetap aman meski menghadapi komputer kuantum.
Namun, migrasi ini tidak mudah. Bitcoin adalah jaringan terdesentralisasi, sehingga perubahan besar membutuhkan konsensus komunitas. Selain itu, algoritma post-quantum biasanya memiliki ukuran signature dan kebutuhan bandwidth yang lebih besar dibanding sistem elliptic curve saat ini.
Apakah Bitcoin Siap Menghadapi Era Komputer Kuantum?
Riset Google Quantum AI menunjukkan bahwa 2,3 juta Bitcoin terancam dibobol di masa depan karena sebagian aset dormant sulit atau bahkan tidak bisa bermigrasi ke sistem keamanan baru.
Meski belum menjadi risiko langsung hari ini, isu ini menjadi pengingat bahwa keamanan blockchain harus terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


