Bitcoin Terkoreksi, OI Turun 12 Persen, Analis Justru Soroti Sinyal Bullish

Harga Bitcoin yang turun lebih dari 3 persen hari ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Koreksi tersebut memunculkan spekulasi mengenai apakah tren bullish mulai kehilangan tenaga.

Namun, di balik penurunan harga BTC, sejumlah indikator justru menunjukkan cerita berbeda. Mulai dari anjloknya open interest, lonjakan imbal hasil obligasi Jepang, hingga pola historis Bitcoin kini menjadi sorotan pelaku pasar.

Open Interest BTC Turun 12 Persen, Fase Reset?

Bitcoin kembali mengalami tekanan setelah harganya terkoreksi lebih dari 2 persen dalam 24 jam terakhir. Pelemahan tersebut terjadi di tengah berkurangnya aktivitas leverage di pasar derivatif.

Sekilas, kondisi tersebut memang terlihat negatif. Namun, analis on-chain Axel Adler Jr. menilai pasar sedang memasuki fase reset yang ditandai dengan berkurangnya posisi leverage, bukan meningkatnya tekanan jual.

Melalui unggahannya di X pada Senin (13/07/2026), ia menjelaskan bahwa Pressure Index juga turun di bawah rata-rata pergerakan 30 hari. Menurutnya, kombinasi beberapa indikator ini mengarah pada satu skenario penting.

Open interest turun 12 persen, Pressure Index jatuh di bawah rata-rata 30 harinya, sementara BTC terkoreksi 1,9 persen. Tiga sinyal ini mengarah bahwa pasar sedang mengurangi posisi leverage, bukan membangun posisi short,” jelasnya.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Diprediksi Anjlok Dulu Lalu Meledak, Target Berikutnya Bikin Melongo
Bitcoin Open Interest Change - Axel Adler Jr
Bitcoin Open Interest Change – Axel Adler Jr

Adler juga menyoroti level pemulihan penting bagi Bitcoin. Menurutnya, area sekitar US$58.000 menjadi titik kunci yang perlu dipertahankan agar momentum pemulihan BTC tetap terjaga dan peluang reli berikutnya tetap terbuka.

Koreksi Harga BTC Disebut Dipicu Yield Jepang

Di sisi lain, analis kripto Michaël van de Poppe menilai koreksi Bitcoin dalam beberapa hari terakhir lebih dipicu lonjakan Japanese Yield dibanding meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang ramai menjadi perhatian.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Ia menjelaskan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi Jepang kerap memengaruhi selera risiko investor. Ketika yield meningkat, sebagian modal cenderung mengalir ke aset yang dianggap lebih aman sehingga aset berisiko seperti Bitcoin ikut tertekan.

Meski demikian, Poppe tetap optimistis terhadap prospek Bitcoin. Menurutnya, Japanese Yield berpotensi kembali melemah dalam beberapa waktu kedepan, yang dapat menjadi katalis bagi terbentuknya breakout positif.

BACA JUGA:  Siklus 4 Tahun Bitcoin Berakhir? 3 Analisis Teknikal Beri Jawabannya

“Saya memperkirakan yield akan mengalami penurunan dalam satu hingga dua pekan ke depan, yang secara otomatis akan membuka peluang terjadinya positive breakout pada Bitcoin,” jelasnya di X, Senin (13/07/2026).

Analisis Pergerakan Harga BTC - Michaël van de Poppe
Analisis Pergerakan Harga BTC – Michaël van de Poppe

Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi open interest yang sedang mengalami proses reset. Ketika posisi leverage berlebih mulai tersapu dan tekanan makro mereda, peluang terbentuknya reli BTC yang baru dinilai akan semakin terbuka.

Monday Effect Terlihat, BTC Menanti Konfirmasi Breakout

Selain indikator on-chain dan faktor makro, pola historis yang disorot analis CryptoQuant, JA Maartun, juga kembali menjadi perhatian. Menurutnya, hari Senin kerap menjadi penentu arah pergerakan Bitcoin sepanjang pekan.

“Hari Senin cenderung menjadi penentu arah BTC. Berdasarkan sampel ini, Senin sering menghadirkan pergerakan terbesar, baik melanjutkan tren pekan sebelumnya maupun membalikkan arah secara penuh,” tuturnya di X, Senin (13/07/2026).

Skenario tersebut kembali terlihat pada awal pekan ini. Harga Bitcoin terkoreksi hingga menyentuh kisaran US$62.000 setelah gagal mempertahankan momentum di atas area resistance jangka pendek.

BACA JUGA:  Whale Bitcoin Bergerak Besar-besaran ke Bursa, Tanda Bahaya Baru?

Meski demikian, sejumlah analis menilai pelemahan tersebut belum mencerminkan perubahan tren. Faktor makro masih menjadi penyebab utama, terutama setelah lonjakan Japanese Yield kembali membebani minat investor terhadap aset berisiko.

Pergerakan Harga Bitcoin di Hari Senin - Maartunn
Pergerakan Harga Bitcoin di Hari Senin – Maartunn

Di sisi lain, data on-chain justru menunjukkan kondisi yang relatif sehat. Penurunan open interest lebih dari 12 persen mengindikasikan pasar sedang melakukan deleveraging, bukan membangun gelombang posisi short baru.

Dengan kombinasi tersebut, perhatian pasar kini tertuju pada kemampuan Bitcoin merebut kembali resistensi jangka pendek. Jika tekanan dari pasar obligasi mulai mereda dan likuiditas membaik, peluang terjadinya positive breakout terbuka.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait