Bitcoin Terseret Konflik Iran–AS, Geopolitik Jadi Penentu Arah Pasar

Selama bertahun-tahun, Bitcoin dipandang sebagai aset yang tidak terpengaruh oleh berita geopolitik. Namun, narasi itu mulai berubah. Ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran baru-baru ini memicu gejolak di pasar kripto, menunjukkan bahwa BTC kini semakin sensitif terhadap dinamika ekonomi dan geopolitik.

Serangan AS ke Iran Guncang Harga BTC

Gejolak pasar dimulai pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan juga Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Kabar tersebut segera memicu kepanikan di berbagai pasar keuangan, termasuk kripto.

Saat itu, BTC diperdagangkan di sekitar US$68.000. Namun, setelah berita serangan mencuat, tekanan jual langsung muncul. Ketika pasar kembali aktif pada Senin, 2 Maret, harga Bitcoin turun ke bawah US$64.000 dalam waktu kurang dari 48 jam.

Meski begitu, arah pasar berubah dengan cepat. Pada akhir pekan lalu, beredar kabar bahwa Iran mencoba membuka jalur negosiasi melalui komunikasi tidak langsung. Para trader menilai kabar tersebut sebagai sinyal meredanya risiko konflik besar.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Sentimen pasar pun berbalik positif. Dalam waktu singkat, Bitcoin melonjak ke US$73.700, level tertinggi dalam sebulan. Namun, kenaikan itu tidak bertahan. Menjelang akhir pekan, BTC turun ke US$70.000 karena investor bersikap hati-hati menanti rilis data ketenagakerjaan AS.

BACA JUGA:  Citi Siap Hadirkan Kustodi Bitcoin Tingkat Institusional
Pergerakan Harga Bitcoin Saat Konflik Iran-AS - CoinMarketCap
Pergerakan Harga Bitcoin Saat Konflik Iran-AS – CoinMarketCap

Pergerakan serupa juga terjadi di pasar kripto secara luas. Ethereum dan sejumlah aset digital utama lainnya turun tajam saat berita konflik muncul, sebelum akhirnya ikut pulih bersama Bitcoin. 

Dari Minyak, Inflasi hingga Bitcoin

Salah satu faktor yang menghubungkan konflik geopolitik dengan kripto adalah pergerakan harga energi. Ketika serangan terhadap Iran terjadi, pasar minyak langsung merespons dengan memperhitungkan risiko gangguan pasokan global.

Iran berada sangat dekat dengan Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi titik transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Setiap ancaman terhadap jalur ini dapat memicu kepanikan di pasar energi.

Data Oil Price per Senin (09/03/2026) menunjukkan harga minyak mentah, seperti WTI Crude, sempat naik mendekati US$85 per barel beberapa hari setelah serangan, bahkan terus meningkat hingga menembus US$90.

WTI Crude - Oil Price
WTI Crude – Oil Price

Lonjakan harga minyak ini kemudian berpotensi mendorong inflasi. Biaya bahan bakar, transportasi, dan produksi meningkat, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga barang dan jasa bagi konsumen.

Inflasi yang tinggi membuat bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini biasanya menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko seperti Bitcoin.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Turun, Investor Berpengalaman Asik Serok

Ketika suku bunga tetap tinggi, dolar AS cenderung menguat karena investor lebih tertarik memegang aset berbasis dolar. Dampaknya, aset spekulatif, termasuk kripto, sering kali mengalami tekanan.

Rantai dampak ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik, seperti yang terjadi di Timur Tengah saat ini, dapat merembet dari pasar energi hingga memengaruhi sentimen di pasar kripto.

Data TradingEconomics bahkan mencatat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam tiga minggu setelah konflik memanas, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap tekanan makro tersebut.

Imbal Hasil Obligasi AS Tenor 10 Tahun - Trading Economics
Imbal Hasil Obligasi AS Tenor 10 Tahun – Trading Economics

Bitcoin Makin Terhubung dengan Ekonomi Global

Salah satu indikator yang mencerminkan sentimen pasar global adalah CBOE Volatility Index (VIX), yang sering disebut sebagai “fear gauge” di Wall Street. Indeks ini menggambarkan tingkat ketakutan investor terhadap kondisi pasar keuangan.

Setelah konflik memanas, VIX melonjak ke 26,81 pada 3 Maret. Namun, indeks tersebut turun ke 20,57 setelah muncul laporan mengenai kemungkinan jalur negosiasi. Meski begitu, VIX kembali naik hingga sekitar 29,49 seiring meningkatnya ketegangan konflik Iran–AS.

BACA JUGA:  VanEck Bilang Ada 13 Negara yang Kini Aktif Menambang Bitcoin

Pergerakan ini juga memunculkan pertanyaan baru mengenai posisi Bitcoin di pasar keuangan. Aset kripto yang dulu dikenal tidak berkorelasi dengan sistem keuangan tradisional kini terlihat semakin sensitif terhadap sentimen makro global.

CBOE Volatility Index (VIX) - Yahoo Finance
CBOE Volatility Index (VIX) – Yahoo Finance

Hal ini sejalan dengan meningkatnya partisipasi investor institusional sejak peluncuran Bitcoin Spot ETF di Amerika Serikat pada Januari 2024. Masuknya dana institusi membuat BTC menjadi bagian dari portofolio aset berisiko yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global.

Akibatnya, ketika ketidakpastian meningkat akibat konflik geopolitik, inflasi, atau lonjakan harga energi, tekanan juga dapat merembet ke pasar kripto. Semakin luas adopsi Bitcoin di pasar keuangan, semakin kuat pula keterkaitannya dengan dinamika ekonomi global.

Ke depan, arah pasar kripto akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik. Jika ketegangan mereda, Bitcoin berpotensi menguat. Namun, jika konflik berlanjut, volatilitas pasar kemungkinan tetap tinggi.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait