Harga Bitcoin masih bergerak dalam tekanan, tetapi sejumlah indikator dan data on-chain mulai memberi sinyal bahwa fase terburuk pasar mendekati akhir. Meski demikian, potensi koreksi lanjutan masih menjadi skenario yang belum bisa diabaikan.
Beberapa analis bahkan menilai BTC berpeluang menguji area US$48.234 sebelum memulai reli. Menariknya, tiga indikator berbeda justru menunjukkan adanya tanda awal pembentukan fase bottom Bitcoin yang kerap muncul menjelang dimulainya bull run.
Data On-Chain dan Siklus Pasar Beri Petunjuk Bottom Bitcoin
Pergerakan harga Bitcoin kembali menarik perhatian setelah sejumlah indikator menunjukkan kemiripan dengan fase akhir bear market sebelumnya. Data on-chain, struktur harga, dan pasar saham sama-sama mengarah pada sinyal serupa.
Salah satu indikator berasal dari Bitcoin UTXO Block Profit/Loss Count Ratio milik CryptoQuant. Grafik tersebut menunjukkan rasio profit and loss kini turun menuju angka sekitar 5,9, level yang sebelumnya beberapa kali muncul ketika Bitcoin mulai membentuk dasar harga.

Analis CryptoQuant, Moreno, mengatakan kondisi tersebut menjadi tanda awal bahwa proses pembersihan pasar mulai berlangsung. Menurutnya, investor yang lemah perlahan keluar sehingga struktur pasar menjadi lebih sehat untuk jangka panjang.
“Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda pembersihan internal. Namun, jika melihat pola sejarah, pasar kemungkinan masih harus menyerap tekanan lebih lanjut sebelum fase bearish benar-benar berakhir,” jelasnya di X, Senin (29/06/2026)
Pernyataan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa sinyal bottom bukan berarti harga akan langsung berbalik naik. Berdasarkan siklus sebelumnya, Bitcoin masih berpotensi mengalami tekanan tambahan sebelum benar-benar mengakhiri fase bearish.
Sinyal serupa juga datang dari analis Quinten Francois. Melalui grafik siklus jangka panjang, ia menilai Bitcoin kini telah memasuki bottom phase, meski pelaku pasar masih memperkirakan harga akan turun lebih dalam.
“Bitcoin telah memasuki fase bottom. Saat ini hampir semua orang memperkirakan harga BTC akan turun lebih dalam, tetapi apakah itu benar-benar akan terjadi?” tulisnya di X, Senin (29/06/2026).

Risiko Global Masih Jadi Faktor Penentu Arah BTC
Selain faktor internal Bitcoin, kondisi pasar keuangan global juga ikut menjadi perhatian. Salah satunya terlihat dari grafik S&P 500 Drawdown from All-Time High yang dibagikan analis CryptoQuant, Maartunn pada Senin (29/06/2026).
Menurutnya, setiap koreksi S&P 500 dalam beberapa tahun terakhir selalu dibeli lebih cepat dibandingkan koreksi sebelumnya. Fenomena tersebut memunculkan dua kemungkinan yang sama-sama menarik untuk dicermati.
Di satu sisi, kondisi itu bisa menjadi tanda pasar masih berada dalam fase melt-up, yakni reli yang berlanjut karena optimisme investor. Namun di sisi lain, pasar juga berpotensi sedang meremehkan risiko yang sebenarnya masih mengintai.
Bagi Bitcoin, kondisi tersebut menjadi faktor eksternal yang tidak bisa diabaikan. Jika pasar saham kembali mengalami koreksi akibat meningkatnya aversi risiko, aset kripto berpeluang ikut terdampak dalam jangka pendek.

Meski begitu, jika ketiga sinyal tersebut digabungkan, gambarannya mulai terlihat. Harga Bitcoin memang masih berpeluang menguji area yang lebih rendah, termasuk level US$48.234, sebelum menemukan titik balik yang lebih kuat.
Di sisi lain, sejumlah indikator mulai menunjukkan bahwa pembentukan bottom perlahan sedang berlangsung. Jika pola historis kembali terulang, fase ini bisa menjadi fondasi sebelum Bitcoin memasuki siklus bull run berikutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


