Bitcoin vs Emas vs Dolar vs IHSG: Siapa Paling Jago Melindungi Aset?

Rp100 juta yang disimpan sejak awal 2020 mungkin masih terlihat utuh di rekening hari ini. Namun, ketika rupiah terus kehilangan nilai, nominal yang sama belum tentu memiliki kekuatan finansial yang setara.

Menariknya, perbandingan Bitcoin, emas, dolar AS, IHSG, dan deposito justru memperlihatkan ironi besar. Instrumen yang dianggap aman belum tentu efektif mempertahankan nilai kekayaan dalam jangka panjang.

Rupiah Melemah, Nilai Uang Perlahan Tergerus

Pada 2 Januari 2020, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia masih berada di Rp13.895 per dolar AS. Hampir tujuh tahun kemudian, tepatnya 5 November 2026, angkanya telah mencapai Rp18.140.

Berdasarkan data Bank Indonesia, kurs USD/IDR meningkat sekitar 30,55 persen sepanjang periode tersebut. Artinya, masyarakat membutuhkan rupiah lebih banyak untuk memperoleh jumlah dolar yang sama.

Jika dihitung dari sisi kemampuan membeli dolar, nilai rupiah telah menyusut sekitar 23,40 persen. Perbedaan persentase tersebut muncul karena dasar perhitungannya menggunakan mata uang yang berbeda.

Nilai Tukar Rupiah ke Dolar AS - Bank Indonesia
Nilai Tukar Rupiah ke Dolar AS – Bank Indonesia

Bayangkan seseorang memiliki Rp100 juta pada Januari 2020. Ketika itu, uang tersebut setara sekitar US$7.197, sedangkan pada November 2026, nominal rupiah yang sama hanya mampu membeli sekitar US$5.513.

Tentu saja, pelemahan terhadap dolar bukan ukuran tunggal daya beli domestik. Namun, perbandingan ini menunjukkan bahwa membiarkan uang diam juga memiliki risiko yang sering luput dari perhatian.

BACA JUGA:  Pasar Kripto Anjlok, Bitcoin Jebol US$81.000, Ini 5 Biang Keroknya

Lalu, bagaimana jika Rp100 juta tersebut sejak awal dialihkan ke Bitcoin, emas, dolar AS, atau instrumen yang mengikuti pergerakan IHSG? Hasilnya ternyata cukup mengejutkan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Simulasi Rp100 Juta Sejak 2020, Bitcoin Menang Telak?

Untuk membuat perbandingan lebih adil, seluruh instrumen menggunakan modal awal Rp100 juta pada 2 Januari 2020, dengan nilai akhirnya dihitung berdasarkan harga pasar 4 November 2026.

Berdasarkan harga historis Bitcoin, BTC bergerak dari sekitar US$6.985 menjadi US$80.405. Sementara itu, emas naik dari US$1.524,50 menjadi US$4.073 per troy ounce berdasarkan acuan COMEX.

Di sisi lain, IHSG justru turun dari sekitar 6.283,58 menjadi 4.919,77. Setelah perubahan harga dan kurs diperhitungkan, berikut gambaran nilai investasi masing-masing instrumen.

InstrumenNilai AkhirKeuntungan/Kerugian
BitcoinRp1,503 miliar+1.402,68 persen
EmasRp348,79 juta+248,79 persen
Dolar ASRp130,55 juta+30,55 persen
Deposito*Rp124,04 juta+24,04 persen
IHSGRp78,30 juta−21,70 persen

Bitcoin menjadi pemenang mutlak dari sisi pertumbuhan nominal. Modal Rp100 juta berubah menjadi Rp1,50 miliar, sedangkan emas menempati posisi kedua dengan nilai mendekati Rp349 juta.

Menariknya, menyimpan dolar AS tanpa memperoleh bunga sekalipun masih menghasilkan nilai lebih tinggi dibandingkan deposito. Selisihnya mencapai Rp6,51 juta setelah hampir tujuh tahun.

BACA JUGA:  Nyeleneh! Ada Orang yang “Mengukir Namanya” 211 Kali di Blockchain Bitcoin

Sebaliknya, IHSG menempati posisi terakhir dalam perbandingan. Modal yang mengikuti indeks tersebut secara teoritis menyusut menjadi Rp78,30 juta, bahkan sebelum memperhitungkan biaya investasi.

Bitcoin Paling Cuan, tetapi Apakah Paling Aman?

Secara angka, kemenangan Bitcoin memang sulit dibantah. Namun, persoalannya menjadi lebih kompleks ketika investasi tidak hanya dinilai dari seberapa besar keuntungan, melainkan juga risiko yang harus ditanggung.

Sebagai gambaran, berdasarkan riwayat harga tahunan BTC, Bitcoin kehilangan sekitar 65 persen nilainya dalam dolar sepanjang 2022. Investor yang membeli menjelang penurunan tersebut menghadapi tekanan luar biasa besar.

Emas juga tidak selalu bergerak naik. Harganya sempat melemah pada 2021 dan relatif stagnan sepanjang 2022, sebelum akhirnya menikmati reli besar beberapa tahun berikutnya.

Bahkan, harga emas pada November 2026 masih berada di bawah rekor penutupan US$5.318 yang tercapai pada Januari. Artinya, aset yang terkenal defensif sekalipun tetap memiliki risiko penurunan harga.

Situasi IHSG memperlihatkan pelajaran yang tidak kalah menarik. Setelah menutup 2025 di level 8.646,94, indeks saham Indonesia justru merosot lebih dari 43 persen sepanjang 2026 hingga 4 November.

BACA JUGA:  Misteri Prayer Wars: Saat Bitcoin Jadi Medan Perang Doa dan Troll

Sementara itu, deposito menawarkan karakter berbeda. Menggunakan asumsi bunga empat persen bruto per tahun, pajak bunga final 20 persen, dan penggandaan hasil bersih, Rp100 juta berkembang menjadi sekitar Rp124 juta.

Melindungi Kekayaan Bukan Sekadar Mengejar Cuan

Pada akhirnya, perbandingan ini mengungkap satu hal penting. Aset yang menguntungkan belum tentu paling nyaman disimpan, sementara instrumen yang terasa aman belum tentu paling kuat melindungi kekayaan.

MSCI Soroti Transparansi Bursa Saham RI, Apakah Blockchain Bisa Jadi Solusi?

Bitcoin unggul dalam pertumbuhan historis, emas menawarkan alternatif diversifikasi, dolar AS membantu menghadapi pelemahan rupiah, sedangkan deposito mengutamakan kepastian. 

Saham tetap menawarkan peluang, tetapi pemilihan instrumen dan juga waktu investasi sangat menentukan.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar aset mana yang paling tinggi kenaikannya. Melainkan, seberapa besar risiko yang sanggup ditanggung untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait