Pasokan Bitcoin semakin mendekati batas penting yang selama ini menjadi inti dari narasi kelangkaannya. Saat ini jumlah Bitcoin yang telah ditambang hampir menyentuh 20 juta BTC dari total pasokan maksimal 21 juta koin.
Perkembangan ini terjadi di tengah melambatnya penerbitan Bitcoin baru pasca-halving 2024 serta meningkatnya akumulasi oleh investor besar dan institusi. Kombinasi kedua faktor tersebut mulai memperketat pasokan BTC yang tersedia di pasar.
Pasokan Bitcoin Semakin Mendekati Batas Maksimal
Pasokan Bitcoin kini mendekati batas maksimalnya. Berdasarkan data terbaru pada platform Bitaps per Rabu (11/03/2026), jumlah BTC yang telah ditambang mencapai sekitar 19.994.549 BTC, atau sekitar 95,21 persen dari total suplai maksimum 21 juta koin.
Artinya, sekitar 1.005.451 BTC masih tersisa untuk ditambang hingga seluruh Bitcoin beredar sepenuhnya, proses yang diperkirakan baru akan selesai sekitar tahun 2140.

Seiring mendekatnya batas tersebut, penerbitan Bitcoin baru juga melambat. Setelah halving 2024, imbalan blok dipangkas menjadi 3,125 BTC, sehingga produksi Bitcoin oleh miner kini hanya sekitar 450 BTC per hari, atau sekitar 13.500 BTC per bulan.Â
Situasi ini secara tidak langsung mulai membentuk ekspektasi baru di kalangan pelaku pasar, terutama terkait potensi kelangkaan Bitcoin yang semakin terasa seiring berkurangnya suplai yang tersedia.
Akumulasi Investor dan Institusi Perketat Supply BTC
Di tengah perlambatan penerbitan Bitcoin baru, akumulasi oleh investor jangka panjang terlihat meningkat. Long-term holders (LTH) diketahui kembali melakukan pembelian besar setelah sempat melepas sebagian kepemilikan pada akhir 2025.
Dalam kurun waktu sekitar 30 hari, berdasarkan data dari platform Glassnode, kelompok ini tercatat menambah sekitar 212.000 BTC, yang menunjukkan meningkatnya keyakinan terhadap prospek jangka panjang Bitcoin.
Data lain juga menunjukkan bahwa 60 persen dari total suplai BTC tidak bergerak selama lebih dari satu tahun. Hal ini menandakan semakin banyak koin yang disimpan sebagai investasi jangka panjang, sehingga mengurangi suplai yang tersedia di pasar.

Sementara itu, saldo Bitcoin di crypto exchange juga terus menurun dan kini berada di sekitar 2,4 juta BTC, memperkuat indikasi bahwa semakin banyak investor memilih menyimpan aset mereka di luar bursa.

Tren ini semakin diperkuat oleh masuknya institusi melalui produk investasi seperti Bitcoin Spot ETF, yang saat ini diketahui menyimpan sekitar US$88 miliar BTC, setara dengan 6,5 persen dari total suplai Bitcoin.
Dengan penerbitan Bitcoin baru yang semakin terbatas dan akumulasi yang meningkat, struktur pasokan BTC mulai bergeser. Kondisi ini semakin memperkuat narasinya sebagai aset digital yang langka.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



