Blockchain Digadang jadi Tulang Punggung Penting Ekonomi AI Korsel

Teknologi blockchain digadang menjadi fondasi utama dalam pengembangan ekonomi AI di Korea Selatan (Korsel), seiring meningkatnya peran kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pembayaran, transaksi mikro dan pengelolaan aset digital.

Hal ini disampaikan Presiden Asosiasi Fintech Korea Selatan, Kim Hyung-jung, dalam seminar yang digelar Lembaga Riset Konsumen Digital di Seoul pada Kamis (29/1/2026).

Dalam forum tersebut, Kim menekankan bahwa integrasi antara blockchain, kecerdasan buatan dan stablecoin akan membentuk ekosistem keuangan baru yang berjalan tanpa henti.

Sistem ini memungkinkan AI agent melakukan transaksi otomatis dalam jumlah kecil, termasuk pembayaran mikro dalam kelipatan puluhan won, yang selama ini sulit dilakukan melalui sistem perbankan biasa.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Dunia akan datang di mana AI agent membeli dan menjual data serta menukar sejumlah kecil uang secara real-time. Membuat uang bekerja 24/7 adalah masa depan daya saing keuangan,” ujar Kim.

Pernyataan tersebut menegaskan arah kebijakan industri fintech Korea Selatan yang mulai berfokus pada pengembangan ekonomi AI, yakni sistem ekonomi berbasis kecerdasan buatan yang terhubung dengan infrastruktur blockchain.

BACA JUGA:  OpenAI dan Paradigm Uji AI untuk Eksploitasi Kontrak Pintar Ethereum

Menurut Kim, teknologi ini memungkinkan transaksi berlangsung secara cepat, efisien dan berkelanjutan tanpa hambatan waktu.

Seminar yang dihadiri pelaku industri, akademisi, serta perwakilan lembaga riset tersebut membahas transformasi sistem keuangan digital di tengah pesatnya perkembangan AI. Blockchain dinilai mampu mengatasi keterbatasan biaya dan kecepatan transaksi yang selama ini menghambat penerapan pembayaran mikro di sektor digital.

Peran Blockchain dan Pembayaran Mikro

Kim menjelaskan bahwa blockchain berperan sebagai infrastruktur utama dalam mendukung ekonomi AI, terutama melalui penggunaan kontrak pintar dan sistem pembayaran terprogram. Dengan teknologi ini, transaksi bernilai kecil dapat dilakukan secara otomatis tanpa biaya tinggi.

AI agent Korsel

Dalam sistem biasa, pembayaran mikro kerap tidak efisien karena biaya administrasi dan proses perantara yang panjang. Melalui blockchain, AI agent dapat mengeksekusi pembayaran langsung antar pengguna atau sistem, sehingga mendukung model bisnis digital berbasis data, layanan daring dan konten digital.

BACA JUGA:  Peran Perempuan Indonesia Kian Kuat di Siber dan Blockchain

Ia menambahkan bahwa penggunaan blockchain juga membuka peluang baru dalam monetisasi data dan layanan berbasis AI. AI agent dapat membeli akses data, membayar layanan komputasi, hingga mengeksekusi transaksi lintas platform secara mandiri.

“Jika pembayaran kecil bisa berjalan efisien, maka seluruh ekosistem digital akan bergerak lebih cepat,” ungkap Kim dalam pemaparannya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya pengembangan sistem pembayaran yang mampu beroperasi selama 24 jam tanpa jeda. Menurutnya, dalam ekonomi AI, uang tidak boleh “menganggur” karena setiap jeda transaksi dapat menghambat produktivitas digital.

RWA, Stablecoin dan Likuiditas Digital

Dalam seminar tersebut, Kim juga menyoroti peran aset dunia nyata (RWA) dan stablecoin dalam memperkuat likuiditas di era ekonomi AI. Tokenisasi RWA, seperti properti dan instrumen keuangan, dinilai dapat memperluas akses pembiayaan dan meningkatkan perputaran dana di ekosistem digital.

BACA JUGA:  Ethereum Hegota Hadirkan Era Baru Transaksi Bebas Sensor

Stablecoin disebut sebagai elemen penting dalam menjaga stabilitas nilai transaksi berbasis blockchain. Menurut Kim, peredaran stablecoin yang tinggi mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi digital dan mendukung sistem pembayaran otomatis berbasis AI.

Ia menilai bahwa likuiditas menjadi faktor utama dalam memastikan keberlanjutan ekonomi AI. Aset digital yang aktif diperdagangkan akan mempercepat sirkulasi modal dan mendorong pertumbuhan sektor fintech, e-commerce, serta layanan berbasis kecerdasan buatan.

Diskusi dalam seminar tersebut juga membahas pentingnya pengembangan sistem pembayaran lintas negara. Kim menilai bahwa contoh stablecoin global seperti USDC dapat menjadi referensi dalam membangun sistem transaksi internasional yang terintegrasi dengan teknologi AI dan blockchain.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia