Lonjakan harga yang ekstrem memang bisa mengubah siapa saja menjadi “sultan” dalam waktu singkat. Namun, di dunia kripto, arah sebaliknya juga bisa terjadi dalam sekejap. Itulah yang dialami salah satu investor RAVE, yang harus melihat nilai asetnya jatuh drastis.
Sempat Rp19 Miliar, Kini Tinggal Rp10 Juta
Kisah ini bermula dari sebuah unggahan di X oleh Nosa pada Sabtu (18/04/2026), yang memperlihatkan kepemilikan token RAVE miliknya. Token tersebut diduga berasal dari airdrop dan masih berada dalam kondisi terkunci.
Dalam salah satu tangkapan layar, nilai aset tersebut sempat menyentuh US$1,15 juta atau setara Rp19 miliar. Lonjakan ini terjadi ketika RAVE mengalami kenaikan ekstrem, bahkan sempat melonjak dari kisaran US$0,3 hingga mencapai US$27.

Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. Dalam tangkapan layar berikutnya, jumlah token RAVE yang sama mengalami penurunan drastis dan kini hanya bernilai sekitar Rp10 jutaan.
“Alokasi airdrop RAVE saya dari US$1,1 juta sekarang cuma jadi US$765. Kapan token saya akan di-unlock!?” tulisnya.

Perubahan nilai yang begitu tajam ini menegaskan tingginya risiko pada kripto dengan kenaikan tidak wajar. Tanpa likuiditas dan fundamental yang kuat, harga dapat melonjak dalam waktu singkat, tetapi juga jatuh dengan cepat.
RAVE Anjlok 95 Persen, Dugaan Manipulasi Muncul
Penurunan tajam RAVE terjadi dalam waktu yang singkat. Dalam kurun 48 jam, harga RAVE dilaporkan jatuh dari US$26 ke US$1, atau turun lebih dari 90 persen. Kejatuhan ini langsung memicu perhatian luas dari komunitas kripto.
Salah satu investigator on-chain, ZachXBT, menyerukan penyelidikan terhadap sejumlah bursa seperti Binance, Bitget, dan Gate. Ia bahkan menawarkan bounty hingga US$25 ribu untuk mengungkap dugaan manipulasi di balik pergerakan harga tersebut.
Respons dari crypto exchange terbilang cepat. Bitget menjadi yang pertama memberikan tanggapan, disusul Binance dan Gate beberapa jam kemudian. Di sisi lain, pihak RaveDAO membantah keterlibatan mereka dalam pergerakan harga tersebut.
“Kami ingin menegaskan: tim RaveDAO tidak terlibat maupun bertanggung jawab atas pergerakan harga yang terjadi baru-baru ini,” tulis tim pengembang RAVE dalam pernyataan resminya.
Namun, situasi menjadi semakin rumit setelah ZachXBT mengungkap bahwa ia telah mencoba menghubungi co-founder RaveDAO, Yemu Xu, tanpa adanya respons. Hal ini memunculkan tanda tanya besar terkait transparansi proyek di tengah kondisi yang memanas.
Pada akhirnya, kasus ini menjadi pengingat keras bagi investor. Di balik potensi cuan besar, selalu ada risiko besar yang tersembunyi dan dapat menghapus keuntungan dalam hitungan jam.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


