Mengenal Istilah Boncos dalam Trading Kripto dan Cara Menghindarinya

Boncos dalam trading kripto artinya adalah kondisi ketika kamu mengalami kerugian karena harga aset kripto yang kamu beli justru turun dari harga beli sebelumnya. Yuk, pelajari lebih lanjut istilahnya lewat penjelasan berikut ini!

BACA JUGA: Apa Itu Degen Kripto? Gaya Spekulatif yang Bisa Bikin Kaya atau Rugi Seketika

Apa Itu Boncos dalam Trading Kripto?

Boncos dalam trading kripto adalah kondisi ketika kamu mengalami kerugian karena harga aset kripto yang kamu beli turun dari harga beli sebelumnya.

Istilah boncos sendiri awalnya berasal dari dunia memancing, saat pemancing pulang tanpa hasil tangkapan. Dalam konteks investasi, istilah ini diadopsi untuk menggambarkan situasi merugi atau gagal mendapatkan keuntungan. Jadi, ketika harga aset yang kamu beli justru turun drastis, kamu bisa dibilang sedang boncos.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Kalau cuan berarti untung, maka boncos adalah kebalikannya. Contohnya, kamu beli Bitcoin di harga Rp1 miliar dengan harapan naik, tapi malah anjlok jadi Rp900 juta. Nah, selisih itulah bentuk kerugian yang sering disebut boncos oleh para trader kripto.

BACA JUGA:  13 Platform Staking Terbaik di Indonesia: Mana yang Paling Aman?

Kenapa Pemula Sering Boncos di Dunia Kripto?

Pemula sering boncos di dunia kripto karena kurang memahami cara kerja pasar dan mudah terbawa emosi saat harga aset naik turun dengan cepat. Untuk tahu apa saja penyebabnya, yuk simak beberapa alasan utama yang sering bikin investor pemula merugi di pasar kripto.

1. Kurang Riset Sebelum Membeli Aset

Banyak pemula langsung beli aset kripto hanya karena ikut tren atau saran teman tanpa benar-benar tahu proyek di baliknya. Padahal, setiap aset punya fundamental dan risiko berbeda. Tanpa riset yang matang, keputusan beli bisa salah arah dan akhirnya bikin kamu boncos.

2. Terjebak FOMO

Saat harga naik tajam, pemula sering panik karena takut ketinggalan momen. Mereka buru-buru beli di harga tinggi tanpa pertimbangan rasional. Begitu harga mulai turun, panik muncul dan akhirnya dijual rugi. Pola ini sering diulang tanpa sadar dan jadi penyebab utama boncos di awal perjalanan investasi.

3. Tidak Punya Strategi dan Manajemen Risiko

Trading tanpa rencana itu seperti berlayar tanpa kompas. Banyak pemula masuk pasar tanpa menentukan target keuntungan atau batas kerugian (stop loss). Akibatnya, mereka terus menahan posisi rugi dengan harapan harga berbalik naik, padahal malah semakin turun.

BACA JUGA: Apa Itu Time Frame Trading Crypto? Ini Pengertian dan Cara Memilihnya!

4. Emosi Mengalahkan Logika

Dalam dunia kripto yang volatil, emosi bisa jadi musuh terbesar. Rasa serakah saat harga naik dan rasa takut saat harga turun membuat keputusan jadi tidak rasional. Trader yang tidak bisa mengendalikan emosi biasanya cepat panik dan akhirnya boncos karena menjual atau membeli di waktu yang salah.

5. Kurang Paham Risiko Pasar Kripto

Pasar kripto sangat berbeda dengan saham atau reksa dana, pergerakannya bisa berubah drastis dalam hitungan jam. Banyak pemula yang tidak siap dengan volatilitas ekstrem ini. Tanpa kesadaran risiko, mereka mudah kaget dan mengambil keputusan impulsif yang berujung kerugian.

BACA JUGA:  Begini Cara Tether Untung Rp160 Triliun dari "Mencetak" USDT!

Cara Menghindari Boncos dalam Trading Kripto

Cara menghindari boncos dalam trading kripto adalah dengan mengelola risiko secara bijak, menerapkan strategi yang disiplin, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan karena emosi atau tren sesaat.

Agar lebih siap menghadapi naik turunnya pasar kripto, yuk simak beberapa langkah penting yang bisa kamu terapkan untuk menjaga modal dan meminimalkan potensi kerugian.

BACA JUGA: APY vs APR Crypto: Mana yang Paling Cuan? Ini Cara Menghitungnya!

1. Sesuaikan dengan Profil Risiko dan Tujuan Keuangan

Sebelum mulai trading, kenali dulu seberapa besar risiko yang bisa kamu tanggung dan apa tujuan keuanganmu. Jika kamu lebih suka bermain aman, pilih aset yang stabil seperti Bitcoin atau stablecoin.

Tapi kalau kamu siap menanggung risiko lebih tinggi demi potensi keuntungan besar, altcoin bisa jadi pilihan. Dengan menyesuaikan profil risiko, strategi trading kamu jadi lebih realistis.

2. Alokasikan Dana Sesuai Kemampuan

Jangan memaksakan modal melebihi kemampuan finansial. Pastikan dana untuk trading hanya sebagian kecil dari total aset kamu. Dengan begitu, kalau pasar berbalik arah dan kamu rugi, keuangan harian tetap aman. Ingat, investasi yang sehat itu tidak membuat kamu stres setiap kali harga kripto turun.

3. Gunakan Uang Dingin

Selalu gunakan uang dingin, yaitu uang yang tidak kamu butuhkan untuk kebutuhan hidup, cicilan, atau dana darurat. Trading dengan uang panas bisa bikin keputusan jadi emosional dan terburu-buru. Dengan uang dingin, kamu bisa menunggu momentum terbaik tanpa tekanan finansial.

BACA JUGA:  5 Kesalahan Umum dalam Staking yang Sering Dilakukan Pemula dan Cara Menghindarinya!

4. Hindari FOMO

Jangan tergoda untuk ikut beli hanya karena aset sedang tren di media sosial. FOMO sering membuat trader membeli di harga tertinggi dan menjual di saat panik. Lebih baik lakukan analisis teknikal atau fundamental terlebih dahulu agar keputusanmu berdasarkan data, bukan rasa takut ketinggalan.

5. Lakukan Riset dan Analisis Sebelum Trading

Pelajari dulu aset yang kamu incar, mulai dari proyek, tim pengembang, hingga potensi jangka panjangnya. Dengan riset yang matang, kamu bisa menilai apakah aset tersebut layak dipegang atau cuma proyek hype yang mudah jatuh. Trader yang rajin riset biasanya jauh lebih tahan terhadap fluktuasi pasar.

6. Terapkan Money Management yang Disiplin

Money management adalah kunci utama agar kamu tidak cepat kehabisan modal. Tentukan sejak awal berapa persen dari total modal yang mau kamu pertaruhkan di setiap transaksi, idealnya tidak lebih dari 1–5 persen. Dengan cara ini, meski satu dua kali rugi, kamu masih punya cukup modal untuk memperbaiki strategi dan melanjutkan trading dengan tenang.

7. Jangan Lupa Evaluasi dan Catat Setiap Transaksi

Banyak trader gagal karena tidak pernah belajar dari kesalahan sendiri. Biasakan mencatat setiap transaksi kapan kamu masuk, keluar, dan alasan di balik keputusan itu. Dari situ kamu bisa menemukan pola kesalahan dan memperbaikinya di trading berikutnya. Evaluasi rutin akan membuat kamu semakin matang dan terhindar dari boncos yang sama di masa depan.

BACA JUGA: 9 Jenis Scam Crypto Paling Umum dan Cara Menghindarinya!

Pilihan Investasi Kripto dengan Risiko Lebih Kecil

Pilihan Investasi Kripto dengan Risiko Lebih Kecil
Imbal hasil yield farming di berbagai platform. Foto: Earnbase FInance

Kalau kamu masih pemula dan belum siap menghadapi volatilitas tinggi, ada alternatif investasi kripto dengan risiko lebih rendah, seperti staking atau yield farming.

Dalam staking, kamu mengunci aset kripto untuk membantu jaringan blockchain beroperasi dan sebagai imbalannya, kamu mendapat reward dalam bentuk token baru. Konsepnya mirip deposito di bank, hanya saja berjalan otomatis lewat smart contract.

Namun, meskipun risikonya lebih kecil dibanding trading aktif, kamu tetap perlu berhati-hati terhadap potensi peretasan atau kegagalan platform. Selalu gunakan platform terpercaya dan lakukan diversifikasi aset untuk menjaga keamanan investasi kamu.

BACA JUGA:  Apa Itu Hash Crypto? Ini Cara Kerja dan Contohnya!

Siap untuk Trading Tanpa Takut Boncos?

Boncos memang jadi bagian dari proses belajar dalam dunia kripto, tapi bukan berarti kamu harus terus terjebak di situ. Dengan strategi yang matang, manajemen risiko yang disiplin, dan kemauan untuk terus belajar, kamu bisa mengubah pengalaman rugi jadi bekal sukses ke depan. Jadi, sudah siap menerapkan cara-cara di atas biar trading kamu nggak boncos lagi?

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia