Bos CFX Soroti Rendahnya Literasi Kripto di Kalangan Generasi Muda

Minat generasi muda terhadap kripto di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik antusiasme tersebut, muncul persoalan yang tidak kalah penting: literasi dan pemahaman risiko yang masih rendah.

Minat Kripto Tinggi, Literasi Investor Masih Rendah

Dikutip dari laporan Bloomberg Technoz, Kamis (05/03/2026), Direktur Utama Bursa Kripto PT Central Finansial X (CFX), Subani, menilai generasi muda Indonesia saat ini menunjukkan ketertarikan yang lebih tinggi terhadap kripto dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

“Jadi betul, kami sudah melihat dari apa yang terjadi di Indonesia minat anak muda ini [ke aset kripto] itu lebih tinggi daripada generasi yang lain,” ujarnya kepada awak media.

Meski begitu, Subani menegaskan bahwa tingginya minat belum diimbangi dengan pemahaman yang cukup tentang risiko investasi crypto. Banyak investor muda yang fokus pada potensi keuntungan cepat tanpa memahami dinamika pasar kripto yang volatil.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Yang perlu mereka ketahui adalah bukan mau untungnya saja, juga siap tahu resikonya,” tambahnya.

Inilah Tips bagi GenZ Sebelum Masuk Crypto

Untuk mengatasi masalah ini, CFX menerapkan edukasi melalui platform perdagangan kripto, salah satunya dengan tes bagi pengguna yang ingin mengakses produk investasi tertentu. Tes ini bertujuan mengukur pemahaman calon investor terhadap kripto.

BACA JUGA:  Analisis Kripto Hari Ini: BTC, SEI, ENA, PI, LUNC Lagi Adu Kuat di Zona Penentuan

Jika lulus, akses perdagangan akan dibuka. Namun, jika gagal, pengguna dapat mencoba kembali dalam periode tertentu. Bila hingga tiga kali tidak lolos, akses perdagangan akan ditutup sementara sebagai langkah perlindungan bagi investor.

Menurut Subani, langkah ini bertujuan memastikan bahwa investor tidak sekadar ikut tren tanpa pemahaman produk kripto yang memadai.

“Itu langkah dari kami untuk membuat pemain yang kita tahu, mayoritas itu orang muda, bisa teredukasi. Karena bila mereka hanya sekadar ikut-ikutan, mereka nggak akan bisa lolos,” pungkasnya.

Influencer, FOMO, dan Masalah Literasi

Sorotan terhadap rendahnya literasi kripto di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Kritik serupa juga pernah disampaikan oleh komunitas kripto anonim Skyholic, yang mulai dikenal berkat polemik kasus Timothy Ronald.

Dalam podcast Daging Talk milik Atta Halilintar yang tayang pada Februari lalu, perwakilan Skyholic menyatakan bahwa kerugian investor kripto sering kali bukan disebabkan oleh kekurangan modal, melainkan rendahnya literasi.

BACA JUGA:  Ahli Sebut Kripto Mungkin Tidak Dirancang untuk Manusia

“Mereka melakukan manipulasi psikologis, di mana lewat flexing atau pamer kekayaan, mereka menampilkan citra tertentu yang membuat orang seolah-olah ingin mengubah nasibnya secara instan. Hal ini jelas merusak daya pikir masyarakat,” tegas perwakilan Skyholic.

Skyholic: Investor Kripto Bukan Kurang Modal, Tapi Kurang Literasi

Fenomena flexing oleh influencer dinilai menciptakan ilusi bahwa kekayaan dari kripto bisa diraih dengan cepat. Akibatnya, banyak orang percaya kesuksesan tersebut murni berasal dari trading atau investasi tanpa mempertanyakan sumber penghasilannya.

Dampaknya paling terasa pada investor pemula, terutama generasi muda. Banyak dari mereka masuk pasar karena FOMO dan mengikuti sinyal trading tanpa melakukan riset terlebih dahulu.

Literasi dan Regulasi Jadi Fondasi Pertumbuhan Kripto

Pentingnya literasi kripto juga disoroti oleh Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) sekaligus Co-Founder Reku, Robby Bun. Ia menilai polemik seputar influencer kripto tidak bisa dilihat secara hitam-putih.

BACA JUGA:  Pengusaha Kost Diajak Melek Kripto, Diversifikasi Cuan di Era Digital

Menurut Robby, setiap instrumen investasi selalu memiliki risiko, sehingga pemahaman dasar menjadi hal yang wajib dimiliki oleh investor muda.

“Tidak ada satu pun instrumen investasi yang selalu untung. Pasti ada untung dan rugi. Ketika seseorang membeli di harga murah, dia untung, tapi yang menjual di harga murah itu yang rugi,” kata Robby.

Co-Founder Reku: Influencer Bukan Sumber Kerugian, Literasi dan Regulasi Jadi Kunci

Ia menegaskan edukasi tentang mekanisme pasar dan juga manajemen risiko harus menjadi fondasi paling penting sebelum seseorang mulai berinvestasi crypto.

Pada akhirnya, dengan literasi yang lebih baik, minat besar generasi muda terhadap kripto diharapkan dapat berkembang menjadi keputusan investasi yang lebih matang dan bertanggung jawab.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait