Pasar keuangan Indonesia kembali mendapat cerita besar. Keluarga Hartono, pemilik Grup Djarum dan BCA, mulai memperluas investasi ke luar negeri. Pertanyaannya, mungkinkah kripto menjadi pilihan diversifikasi berikutnya?
Hartono Mulai Sebar Eksposur Kekayaan ke Luar Negeri
Bloomberg melaporkan pada Senin (07/09/2026) bahwa sedikitnya sembilan entitas di Singapura dan London yang terkait keluarga Hartono telah menginvestasikan setidaknya US$1,4 miliar di luar negeri.
Selama bertahun-tahun, sebagian kekayaan keluarga Hartono terkonsentrasi di Indonesia melalui perbankan, rokok, properti, dan berbagai lini bisnis Grup Djarum. Namun, arah tersebut mulai berubah sejak akhir 2023.
“Evergreen Hill Enterprise Pte menggelontorkan US$669 juta untuk mengakuisisi bisnis kertas khusus di AS. Setahun kemudian, Evergreen membayar €360 juta atau US$418 juta untuk membeli produsen kertas rokok asal Austria,” sebagaimana tercantum pada laporan tersebut.
Di balik struktur tersebut, Evergreen tercatat dimiliki PT Eragraha Pirantimegah, perusahaan yang menurut dokumen korporasi sepenuhnya berada di bawah keluarga Hartono, meski nama keluarga itu tidak muncul langsung dalam akuisisi.
Bloomberg menyebut ekspansi ini turut didorong strategi mendiversifikasi sumber pendapatan ke mata uang lain. Mayoritas aset Hartono masih berada di Indonesia, tetapi arah pengelolaan kekayaannya mulai meluas.
Langkah tersebut muncul ketika hubungan pemerintah dan pebisnis besar terasa lebih sensitif. Bloomberg menilai ketidakpastian kebijakan ikut memengaruhi sentimen, sementara pemerintah menegaskan komitmennya menjaga kepastian hukum.
Orang Kaya RI Sebelumnya Sudah Melirik Kripto
Menariknya, diversifikasi kekayaan ke luar negeri bukan cerita baru di kalangan orang kaya Indonesia. Pada April 2025, Bloomberg pernah menemukan pola serupa, tetapi menggunakan instrumen yang jauh berbeda.
Saat itu, emas dan properti tetap menjadi pilihan populer, sementara kripto mulai muncul sebagai jalur alternatif. Stablecoin USDT menarik perhatian karena menawarkan eksposur dolar sekaligus fleksibilitas pemindahan aset secara digital.
Seorang bankir swasta mengatakan beberapa klien Indonesia dengan kekayaan bersih US$100 juta hingga US$400 juta telah mengonversi hingga 10 persen aset mereka menjadi kripto, berdasarkan laporan Bloomberg sebelumnya.
Fenomena tersebut juga pernah diulas. Seorang mantan eksekutif konglomerasi Indonesia bernama Chan mengaku meningkatkan pembelian USDT ketika kekhawatiran terhadap rupiah dan kondisi ekonomi mulai meningkat.
“Saya terus membeli USDT dalam beberapa bulan terakhir. Ini cara efisien untuk melindungi aset dan mengalihkannya ke luar negeri tanpa melewati prosedur perbankan konvensional,” ujar Chan kala itu.
Mungkinkah Kripto Jadi Opsi Berikutnya bagi Hartono?
Dari sinilah pertanyaan menarik muncul. Jika Hartono mulai mengurangi konsentrasi kekayaan di Indonesia dan memperluas pendapatan ke mata uang lain, kripto secara teori memiliki karakter diversifikasi yang cukup relevan.
Bitcoin menawarkan aset global yang tidak terikat langsung dengan mata uang suatu negara. Sementara itu, stablecoin seperti USDT menyediakan eksposur terhadap dolar AS dengan mekanisme transfer yang relatif fleksibel.
Namun, sejauh ini belum ada bukti bahwa Bitcoin, USDT, crypto exchange, atau teknologi blockchain digunakan untuk memindahkan maupun menyimpan sebagian kekayaan keluarga Hartono.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


