Bos platform aset kripto Indodax, William Sutanto, membagikan pandangannya mengenai cara memprediksi bottom harga Bitcoin melalui pemanfaatan data on-chain.
Dalam sebuah postingan di media sosial pada Kamis (5/2/2026), William mengacu pada metrik BTC Supply in Profit/Loss yang dibagikan oleh Senior Analis CoinDesk, James Van Straten. Metrik tersebut dinilai mampu membantu investor membaca fase terendah siklus harga Bitcoin berdasarkan distribusi keuntungan dan kerugian di pasar.

William menyampaikan bahwa pendekatan ini relevan digunakan dalam kondisi pasar yang masih berfluktuasi tinggi. Berdasarkan data terkini, sekitar 11,1 juta BTC berada dalam posisi cuan, sementara 8,9 juta BTC tercatat berada dalam posisi loss.
Menurutnya, keseimbangan antara dua angka tersebut kerap menjadi indikator penting dalam mengidentifikasi bottom harga Bitcoin.
“Ketika kedua angka ini bertemu (yang untung dan rugi), itu jadi sinyal bottom,” tulis William.
Pembahasan ini disampaikan seiring meningkatnya perhatian investor terhadap pergerakan harga Bitcoin di tengah ketidakpastian ekonomi global. Analisis tersebut menjadi rujukan bagi pelaku pasar yang ingin memahami dinamika siklus kripto secara lebih mendalam.
Metrik On-Chain untuk Prediksi Bottom Harga Bitcoin
Metrik BTC Supply in Profit versus Loss bekerja dengan menghitung jumlah Bitcoin yang saat ini diperdagangkan di atas atau di bawah harga beli rata-rata pemiliknya. Bitcoin yang berada di atas harga beli dikategorikan sebagai profit, sementara yang berada di bawahnya masuk dalam kategori loss.
Secara historis, titik pertemuan antara BTC di posisi profit dan loss kerap bertepatan dengan fase terendah harga atau bottom.
Data historis menunjukkan pola tersebut pernah muncul pada November 2022 saat harga berada di sekitar US$15.000, Maret 2020 di kisaran US$3.000, tahun 2019 di level US$3.300, serta pada 2015 di area US$200.
Pola tersebut mencerminkan kondisi ketika sebagian besar investor telah mengalami tekanan psikologis akibat kerugian, sehingga potensi aksi jual mulai melemah. Pada fase inilah pasar cenderung membentuk dasar harga sebelum memasuki periode pemulihan.
Preferensi Investor dan Imbauan Kehati-hatian
Selain membahas metrik on-chain, William juga aktif memantau sentimen investor. Dalam postingan terpisah pada Rabu (4/2/2026), ia mengadakan polling di X mengenai pilihan investasi pada 2026.

Dari 302 responden, sebanyak 71,5 persen memilih Bitcoin, 15,6 persen memilih emas, 7 persen memilih saham, dan 6 persen memilih properti. Hasil ini menunjukkan bahwa minat terhadap aset kripto, khususnya Bitcoin, masih mendominasi di kalangan investor ritel.
Sementara itu, Redaksi sebelumnya juga menyoroti pernyataan Vice President INDODAX, Antony Kusuma, yang menilai kondisi pasar saat ini mendorong investor untuk lebih berhati-hati. Ia menekankan bahwa ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi volatilitas aset digital.
Antony juga menyinggung pendekatan bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) dapat menjadi salah satu strategi untuk meredam risiko fluktuasi harga. Selain itu, investor dinilai perlu aktif memanfaatkan sumber edukasi dan informasi agar mampu memahami konteks pasar secara menyeluruh.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



