Sebuah bot trading di jaringan Solana mendadak berhenti beroperasi setelah menjalankan ribuan transaksi seperti biasa. Hanya 24 detik kemudian, aset kripto senilai sekitar US$856 ribu mulai mengalir keluar dari dompet utamanya.
Insiden pada 2 November 2026 tersebut menimpa King, bot arbitrase yang telah aktif di ekosistem Solana setidaknya sejak Juli. Anehnya, pelaku tidak membutuhkan eksploitasi smart contract yang rumit untuk menguras dana tersebut.
Berdasarkan investigasi on-chain Bitquery, seluruh aset berpindah melalui lima transaksi biasa yang ditandatangani menggunakan kunci dompet bot itu sendiri.
Dalam 146 detik, hampir seluruh dana di dompet utama King lenyap. Namun, cara bot tersebut berhenti beroperasi sesaat sebelum pencurian justru memunculkan pertanyaan lain.
Bot Trading Berhenti Tepat Sebelum Dana Dicuri
King bukan bot trading yang baru muncul. Programnya digunakan untuk melakukan arbitrase, yakni mencari keuntungan dari perbedaan harga aset kripto melalui transaksi yang berlangsung sangat cepat.
Dalam 11 jam menjelang insiden, alamat bot tersebut tercatat terlibat dalam sekitar 30.000 transaksi. Sekitar 96 persen di antaranya gagal dieksekusi, sesuatu yang dapat terjadi pada bot arbitrase karena persaingan kecepatan dan perubahan harga.
Namun, pada pukul 14.32 WIB, 2 November 2026, aktivitas itu mendadak terhenti.
Bitquery menemukan bahwa dua dompet yang menjalankan program King berhenti melakukan trading dalam selang waktu empat detik. Pemanggilan terakhir terhadap program tersebut tercatat pada pukul 07.32.26 UTC.
Hanya 24 detik setelahnya, transaksi pertama yang menguras aset dari dompet utama King mulai berlangsung.
Dana dikirim menuju alamat Solana BHRayETP…od3jU, yang menurut penelusuran Bitquery belum pernah digunakan sebelumnya.
Lima transaksi tersebut memindahkan sekitar 4.264,57 WSOL, 191,24 SOL, 359.094 USDC, 69.868 USDT, dan 7.173 USD1.
Nilai totalnya mencapai sekitar US$856 ribu, lebih tinggi daripada perkiraan kerugian awal sebesar US$786 ribu. Selisih tersebut muncul karena laporan pertama belum memasukkan transfer USDT.
Salah satu bukti yang bisa diperiksa adalah transaksi pengiriman 69.868,77 USDT dari dompet utama King.
Menariknya, dompet kedua yang juga menjalankan program tersebut tidak ikut dikuras. Dompet itu masih menyimpan sekitar US$36 ribu dan tidak melakukan aktivitas selama lebih dari satu jam sebelum dananya akhirnya dipindahkan ke alamat yang sebelumnya rutin menerima penarikan dari bot King.
Belum diketahui apa yang sebenarnya menyebabkan kedua bot tersebut berhenti hampir bersamaan.
Ada kemungkinan pihak yang memperoleh akses tidak sah sengaja menghentikan bot sebelum memindahkan dana. Namun, tidak tertutup kemungkinan operatornya sendiri lebih dulu menghentikan aktivitas setelah mendeteksi sesuatu yang mencurigakan.
Catatan blockchain memperlihatkan urutan kejadian, tetapi belum bisa memastikan siapa yang menghentikan program tersebut.
Hacker Tidak Perlu Membobol Smart Contract
Keanehan berikutnya terletak pada cara aset King dicuri.
Kelima transaksi keluar tidak melibatkan eksploitasi kontrak ataupun pemberian izin kepada aplikasi berbahaya. Semuanya merupakan transfer biasa yang ditandatangani menggunakan kunci dompet utama King.
Dengan demikian, menurut analisis Bitquery, insiden ini lebih konsisten dengan dugaan kompromi private key atau akses tidak sah ke perangkat yang menyimpan kunci tersebut.
Bot arbitrase memang membutuhkan akses cepat untuk menandatangani transaksi. Karena itu, kunci yang digunakan biasanya tersedia pada server yang terhubung ke internet.
Masalahnya, akses yang memungkinkan bot bertransaksi secara otomatis juga dapat dimanfaatkan pihak lain untuk memindahkan aset apabila kunci atau sistem penyimpanannya berhasil dikuasai.
Namun, terdapat satu petunjuk menarik setelah pencurian berlangsung.
Menurut Bitquery, kunci dompet utama King masih digunakan untuk menutup sekitar 2.200 akun token lama dan mengumpulkan sekitar 5 SOL dari saldo yang sebelumnya terkunci di akun-akun tersebut.
Dana itu kemudian dikirim ke alamat Ace7hX…KRby, yang sudah menerima 22 penarikan dari bot King sejak Juli.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pihak yang selama ini mengelola penarikan King tampaknya masih mempunyai akses ke kunci dompet, meskipun penyerang telah menggunakannya lebih dahulu untuk menguras dana.
Artinya, insiden ini belum tentu melibatkan pengambilalihan eksklusif atas satu private key. Ada kemungkinan pihak tidak sah memperoleh salinan kunci yang sama.
Pihak King Menawarkan 20 Persen Dana Curian kepada Hacker
Setelah kehilangan ratusan ribu dolar AS, muncul upaya menarik untuk menghubungi pelaku secara langsung melalui blockchain.
Alamat Ace7hX…KRby mengirimkan transfer bernilai sangat kecil kepada dompet penerima dana curian, disertai pesan yang meminta pengembalian 80 persen aset.
Sebagai imbalannya, pelaku ditawari kesempatan menyimpan 20 persen dana sebagai hadiah white-hat apabila mengembalikan sisanya dalam waktu 48 jam.
Pesan itu tercatat pada transaksi Solana 45N4Tz…5q.
Tawaran tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa perpindahan aset King bukan bagian dari operasi penarikan normal.
Kendati demikian, identitas pengirim pesan belum terkonfirmasi secara publik sebagai pemilik bot. Keterkaitannya didasarkan pada riwayat penarikan dan aktivitas dompet.
Hingga pemeriksaan Bitquery pada 3 November, belum ditemukan balasan on-chain dari alamat penerima dana curian. Tenggat penawaran telah berakhir pada 4 November, tetapi belum ada hasil negosiasi terbaru yang dapat dipastikan dari data tersebut.
Dana Curian Dibawa ke Ethereum, tetapi Sebagian Malah Terjebak
Pelaku tidak langsung membawa seluruh hasil pencurian keluar dari Solana.
Sekitar 20 menit setelah pengurasan, stablecoin yang berhasil dikumpulkan mulai ditukar menjadi SOL melalui Jupiter. Langkah tersebut menghasilkan sekitar 9.078 SOL.
Konversi itu juga mempunyai implikasi penting. Berbeda dengan USDC dan USDT, SOL tidak memiliki penerbit terpusat yang bisa membekukan token pada alamat tertentu.
Sekitar lima jam kemudian, pelaku mulai mencoba memindahkan dana ke Ethereum melalui layanan cross-chain bridge Relay dan Mayan Finance.
Percobaan awal melalui Relay berhasil memindahkan 1 SOL. Namun, pengiriman berikutnya sebesar 499,99 SOL mendapat status BLOCKED_WALLET dan tidak diselesaikan.
Pelaku kemudian beralih menggunakan Mayan Finance, dengan 13 pengiriman dalam waktu 23 menit.
Sepuluh pengiriman pertama berhasil diselesaikan, menghasilkan sekitar 251,15 ETH di Ethereum. Namun, tiga pengiriman berikutnya diblokir setelah alamat terkait ditandai oleh sistem.
Berdasarkan pemeriksaan Bitquery pada 3 November, sekitar US$280 ribu hasil pencurian tertahan melalui kedua layanan bridge tersebut.
Sementara itu, sekitar 251,19 ETH senilai US$574 ribu telah sampai ke alamat Ethereum 0xf2fb…63c1.
Hingga pemeriksaan terakhir pada 3 November, alamat tersebut belum melakukan transaksi keluar.
Walaupun sebagian dana berhasil diblokir, kondisi tersebut tidak otomatis berarti aset telah dikembalikan kepada korban. Mekanisme pengembalian dana bridge masih dapat mengarah ke alamat pengirim yang dikuasai pelaku.
Kasus King memperlihatkan sisi rentan dari bot trading kripto yang bergantung pada penandatanganan transaksi otomatis.
Program yang mampu melakukan puluhan ribu transaksi dalam sehari ternyata tetap dapat kehilangan ratusan ribu dolar AS tanpa eksploitasi smart contract, apabila akses terhadap kunci dompetnya jatuh ke tangan yang salah.
Dan hingga kini, berdasarkan bukti yang tersedia, pertanyaan paling mendasar masih belum terjawab, siapa yang sebenarnya menghentikan bot King tepat 24 detik sebelum pencurian dimulai?
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


