BTC Hari Ini Tertahan di US$80.000, tapi Sinyal Bullish Mulai Terlihat

Harga BTC hari ini masih tertahan di kisaran US$80.000 hingga US$80.900, tetapi mulai menunjukkan dinamika yang berbeda dari siklus sebelumnya. Di tengah tekanan pasar, arus dana ETF dan aksi beli korporasi justru menjadi penopang yang membuat koreksi Bitcoin kali ini terasa “tidak biasa”.

Pasar Berubah, ETF dan Korporasi Jadi Penopang BTC

Harga Bitcoin saat ini tercatat turun sekitar 36 persen dari ATH di level US$126.000. Meski begitu, penurunan ini dinilai tidak sedalam siklus bear market sebelumnya yang kerap memangkas lebih dari 70 persen nilai aset.

CEO Bitcoin Bond Company, Pierre Rochard, melalui unggahan di X pada Selasa (12/05/2026), menyebut bahwa siklus kali ini mulai berbeda dari pola lama. Ia membandingkan, pada periode 2013–2015 Bitcoin anjlok hingga 85 persen, sementara siklus 2017–2018 dan 2021–2022 turun sekitar 77 persen.

Sebaliknya, koreksi saat ini lebih dangkal. Dari puncak US$126.000, BTC sempat turun ke kisaran US$60.000 atau 52 persen. Kondisi ini mengindikasikan adanya perubahan struktur pasar, dengan dukungan dari arus dana ETF dan partisipasi institusi.

“Kekuatannya kemungkinan merupakan kombinasi dari bull market yang masih tertahan di permukaan, arus masuk ETF, serta akumulasi oleh perusahaan treasury Bitcoin,” jelasnya.

BACA JUGA:  Harga BTC Hari Ini Tembus US$80.000, Rally Baru Dimulai?
Perbandingan Pergerakan Harga Bitcoin Saat Ini dengan Pola Sebelumnya - Pierre Rochard
Perbandingan Pergerakan Harga Bitcoin Saat Ini dengan Pola Sebelumnya – Pierre Rochard

Tidak hanya itu, akumulasi perusahaan juga semakin agresif. Strategy tercatat meningkatkan kepemilikan Bitcoin dari 640.031 BTC menjadi 818.869 BTC sejak Oktober 2025, dengan rata-rata harga beli di sekitar US$75.543.

Narasi Lama Mulai Retak, Faktor Makro Ikut Bermain

Pandangan serupa juga disampaikan oleh pendiri MN Capital, Michaël van de Poppe. Melalui unggahan di X pada Senin (11/05/2026), ia menilai bahwa kondisi pasar tidak mencerminkan pola tahun 2022 yang cenderung bearish dalam waktu panjang.

“Teori yang saat ini paling ramai diyakini adalah bahwa Bitcoin sedang membentuk bear flag dan akan mencapai titik terendah pada Oktober 2026,” ujarnya, menyoroti bahwa banyak pelaku pasar masih terpaku pada narasi lama.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Menurutnya, pendekatan tersebut mulai kehilangan relevansi. Pasar Bitcoin kini bergerak dengan dinamika baru yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh pola historis semata.

Bitcoin Terjebak! Level US$80 Ribu Kini Jadi Medan Perang Besar

Van de Poppe juga menyoroti sejumlah faktor makro yang memperkuat perubahan ini. Mulai dari rekor baru indeks Nasdaq di level 29.372, hingga potensi kebijakan seperti voting CLARITY Act dan wacana pembentukan cadangan Bitcoin.

BACA JUGA:  Bitcoin Hari Ini: Pasokan Diserap ETF, Tapi Ada Sinyal Tak Biasa

Selain itu, dinamika di The Fed turut menjadi sorotan, terutama dengan pergantian ketua yang bisa mengubah arah kebijakan moneter. Kombinasi faktor ini menciptakan lanskap baru, di mana pergerakan harga Bitcoin saat ini dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Sinyal Awal Bullish Bitcoin Mulai Terlihat

Di sisi lain, data on-chain mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Analis CryptoQuant, MorenoDV, mengungkap bahwa Bitcoin baru saja memunculkan sinyal “early bull” pertama sejak Maret 2023.

Sinyal serupa sebelumnya muncul pada 2019 dan awal 2023, yang kemudian diikuti reli besar masing-masing sebesar 1.280 persen dan 461 persen. Namun, kali ini MorenoDV mengingatkan bahwa konfirmasi belum sepenuhnya kuat.

“Sejumlah metrik pasar lainnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Hal ini membuat sinyal tersebut tidak sebersih konfirmasi awal siklus yang klasik,” jelasnya dalam analisis yang diunggah pada Senin (11/05/2026).

Grafik Siklus Bullish dan Bearish Bitcoin - MorenoDV
Grafik Siklus Bullish dan Bearish Bitcoin – MorenoDV

 

Sementara itu, partisipasi investor ritel juga mulai menunjukkan pemulihan. Peneliti Bitcoin, Axel Adler Jr., mencatat bahwa volume transaksi dari dompet kecil sempat turun ke -8,2 persen pada awal April, sebelum akhirnya berbalik ke zona positif.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Turun, Tiga Sinyal Ini Disebut Bisa Picu Lonjakan Besar

Pada awal Mei, metrik ini sempat menyentuh 6,31 persen dan kini bertahan di kisaran 4,38 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa permintaan ritel mulai tumbuh kembali, dengan aliran modal kecil yang kembali masuk ke jaringan.

Meski begitu, aktivitas tersebut masih berada di bawah level Februari. Artinya, pemulihan memang sudah berlangsung, tetapi belum sepenuhnya kuat dan masih berada dalam tahap awal.

“Permintaan ritel berhenti menyusut dan mulai tumbuh. Ini bukan berarti pasar mengalami overheating atau euforia. Artinya, modal kecil mulai mengalir ke dalam jaringan lebih cepat dibandingkan sebulan lalu,” jelasnya dalam blog yang dipublikasikan pada Selasa (12/05/2026).

Permintaan Bitcoin oleh Ritel - Axel Adler Jr
Permintaan Bitcoin oleh Ritel – Axel Adler Jr

Dengan kombinasi dorongan ETF, akumulasi institusi, dan sinyal awal dari data on-chain, pasar Bitcoin kini berada di fase yang menarik. Bukan lagi sekadar koreksi biasa, melainkan potensi awal dari struktur tren baru yang mulai terbentuk.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait