Pergerakan harga Bitcoin terbaru menunjukkan perubahan struktur. Setelah sepanjang akhir 2025 tertekan dalam tren bearish dan tertahan di bawah US$90.000, memasuki 2026 Bitcoin menunjukkan sentimen bullish yang konsisten dan kini mampu bertahan di atas US$95.000.
Analis menilai pergeseran ini sebagai sinyal awal dimulainya fase akselerasi Bitcoin. Dengan struktur siklus yang dinilai kembali sejalan dengan pola historis, BTC disebut memiliki potensi untuk melanjutkan penguatan jangka menengah hingga mencapai US$300.000.
Bitcoin Mulai Tinggalkan Fase Konsolidasi
Berdasarkan analisis yang diunggah CryptoZ pada Senin (19/01/2026), BTC memasuki fase prime acceleration, yakni tahap lanjutan dalam siklus jangka panjang Bitcoin setelah keluar dari konsolidasi. Pola ini berulang, di mana akumulasi dan kompresi diikuti ekspansi yang kuat.
“Pasar mulai menembus area kompresi siklus menengah, dan momentum kini bergeser secara tegas menuju lintasan atas yang selama satu dekade terakhir selalu menjadi ciri utama setiap reli besar,” jelasnya.

Grafik menunjukkan pergerakan Bitcoin terbaru mengikuti macro growth curve sejak 2013. Setiap siklus membentuk lengkungan serupa: fase bearish di awal, transisi akumulasi, lalu fase bullish. Posisi “we are here” menempatkan BTC di awal zona bullish, sejajar dengan fase awal reli pada siklus 2017 dan 2021.
Sinyal utama datang dari keluarnya harga dari mid-cycle compression. Pada fase ini, volatilitas biasanya rendah dan harga bergerak mendatar. Saat harga BTC berhasil menembus zona tersebut, menurutnya momentum historis akan berubah.
Dari proyeksi siklus, grafik menampilkan referensi target jangka panjang di area ratusan ribu dolar hingga US$1 juta. Level ini bukan target jangka pendek, melainkan gambaran potensi cycle extension apabila struktur historis kembali terulang.
Pergerakan harga yang naik perlahan (grinding upward) juga menjadi ciri khas fase awal bull run. Alih-alih lonjakan tajam, pola ini menunjukkan suplai diserap secara bertahap oleh pembeli, sehingga memperkuat fondasi tren naik BTC selama ritme terjaga.
“Jika ritme berlanjut, BTC bersiap memasuki fase kenaikan berkelanjutan, di mana volatilitas meningkat dan kekuatan tren semakin cepat. Sinyal jangka panjang menunjukkan jalur breakout yang mengarah ke ekstensi level siklus,” tegasnya.
Struktur Siklus Empat Tahunan Bitcoin Berubah
Di sisi lain, siklus Bitcoin juga mulai dibaca dengan pendekatan yang berbeda. Dikutip dari laporan sebelumnya, analis ternama, Bull Theory menyoroti bahwa BTC untuk pertama kalinya mematahkan pola empat tahunan yang selama lebih dari satu dekade dianggap konsisten.
Ia menjelaskan bahwa tahun pasca-halving yang biasanya selalu ditutup dengan penguatan justru berakhir di zona merah pada 2025. Kondisi ini dinilai sebagai momen penting karena mengubah ekspektasi pasar terhadap siklus tradisional Bitcoin.
Menurutnya, jika pada siklus awal pergerakan harga Bitcoin lebih banyak dipicu oleh supply shock halving dan spekulasi ritel, kini faktor makroekonomi semakin dominan. Likuiditas, suku bunga, serta arus institusional dinilai berperan lebih besar.
Seiring membesarnya ukuran pasar, dampak Bitcoin halving juga dinilai mengecil. Karena itu, meski pola empat tahunan tidak lagi berjalan secara “otomatis”, struktur siklus Bitcoin justru menjadi lebih kompleks dan adaptif.
Dengan struktur siklus yang mulai berubah dan sinyal akselerasi mulai terbentuk, pergerakan harga Bitcoin ke depan kini ditentukan oleh kombinasi faktor teknikal dan dinamika makro, bukan lagi semata pola lama.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



