Podcast Close The Door yang dipandu Deddy Corbuzier dan diunggah Selasa (27/01/2026) membuka sisi lain Akademi Crypto yang menyeret Timothy Ronald. Perbincangan ini menyoroti sejumlah klaim yang disampaikan oleh pihak korban.
Dalam podcast tersebut, korban dan pendamping mengungkap dugaan janji keuntungan tinggi, tekanan, hingga pelaporan ke kepolisian. Klaim ini menambah dimensi baru dari kasus yang sebelumnya lebih banyak disorot dari sisi kerugian finansial.
Podcast ini menghadirkan Agnes Stefani sebagai korban dan Adam Deni sebagai pendamping. Keduanya memaparkan pengalaman yang mereka klaim jarang terungkap ke publik, sekaligus menyingkap dinamika di balik kelas kripto tersebut.
Adam Deni Ungkap Alasan Dampingi Korban Timothy
Adam Deni menjelaskan keterlibatannya bermula ketika ia dihubungi oleh komunitas korban yang tergabung dalam gerakan anonim Skyholic. Menurutnya, banyak korban sebenarnya ingin melapor, namun masih merasa takut dan tertekan.
“Jadi gini, gue ngelihat teman-teman korban ini kayak masih ada sesuatu yang bikin ragu. Ketika mereka ingin melapor, keyakinannya belum seratus persen, masih ada ketakutan,” ujarnya.
Ikut Akademi Crypto Timothy Ronald? Skyholic Tawarkan Solusi Refund
Ia menegaskan bahwa perannya bukan sekadar membuat ramai, melainkan mendampingi korban. Dari proses pendampingan tersebut, dirinya mengklaim menemukan adanya ancaman dan tekanan yang dialami korban Akademi Crypto.
“Ternyata setelah diselidiki lebih dalam, gue dikasih banyak bukti. Mereka banyak dapat intervensi dan ancaman nyata, jadi diancam sama TR,” ujarnya.
Legalitas Akademi Crypto Dipertanyakan
Dalam podcast tersebut, Adam turut mempertanyakan struktur dan legalitas Akademi Crypto kepada Deddy Corbuzier. Ia menilai penggunaan istilah “akademi” semestinya disertai kejelasan legalitas dan perizinan yang jelas.
“Dia kan buka kelas, akademi gitu. Tapi kalau namanya akademi, menurut gue harusnya legal dong. Ini nggak ada legal-legalnya,” ucap Adam.
Selanjutnya, Agnes Stefani, korban yang sebelumnya telah melaporkan Timothy Ronald setelah merugi Rp1 miliar, menjelaskan secara lebih rinci struktur harga kelas yang ditawarkan. Ia menyebut biaya variatif, tergantung waktu pendaftaran dan paket yang diambil.
“Dari akademi terbentuk sampai akhir itu harganya beragam, dari murah sampai mahal. Mulai dari sembilan juta, tujuh belas juta, empat puluh juta, dan yang terakhir dia bikin kelas eksklusif tiga hari dua malam dengan harga seratus juta,” ujarnya.
Menariknya, Agnes menegaskan bahwa ketertarikannya mengikuti kelas bukan karena flexing. Ia mengaku percaya pada figur mentor yang ditampilkan sebagai trader crypto yang berpengalaman.
“Konsep kelas ini tuh sangat baik, sangat smooth banget. Karena kita butuh sosok pion, seorang trader, dan kebetulan TR dan K itu lagi hype,” katanya, yang mungkin merujuk pada Kalimasada.
Pengakuan tersebut berbeda dengan korban lain bernama Younger, yang sebelumnya mengaku merugi lebih dari Rp3 miliar karena terpengaruh gaya flexing yang ditampilkan oleh pendiri Akademi Crypto tersebut.
Terungkap! Begini Cerita Korban Terkait Dugaan Penipuan Timothy Ronald
Peserta Alami Tekanan Psikologis Hingga Intimdasi
Fakta lain yang terungkap adalah koin yang direkomendasikan kepada peserta, yakni Manta. Masalah mulai muncul ketika harganya mengalami penurunan. Agnes menyebut tidak ada arahan yang jelas terkait manajemen risiko maupun pengambilan keuntungan.
“Ketika nyentuh all-time high (ATH) itu nggak ada arahan take-profit atau apa pun dari TR, malah disuruh hold keras,” ujarnya.
Sebaliknya, korban mengaku mendapat tekanan agar tetap menahan aset meski harga terus turun. Selain itu, korban juga mengaku mengalami intimidasi verbal dan tekanan psikologis selama berada di dalam kelas Akademi Crypto.
“Ancaman itu seperti kalimat-kalimat yang nggak etik. Kita itu dikatain gembel, miskin, bodoh, dan juga segala macem,” ujar Agnes.
Adam menambahkan bahwa tekanan tersebut terjadi melalui berbagai kanal komunikasi dan bukan sekadar klaim tanpa dasar. Menurutnya, seluruh dugaan intimidasi tersebut disertai bukti yang jelas.
Tak hanya itu saja, dalam podcast tersebut juga disinggung adanya pengiriman foto dari kantor kepolisian kepada anggota grup yang dinilai sebagai bentuk tekanan tambahan.
“Foto lagi di Polda nih, gue laporin lu nih, bentar lagi lu dijemput,” ujar Adam menirukan pesan yang diklaim diterima oleh para korban.
Korban Akademi Crypto Bersatu Mencari Keadilan
Seiring waktu, para korban akhirnya membentuk paguyuban untuk saling menguatkan dan mengumpulkan bukti. Adam mengklaim jumlah korban mencapai ratusan orang dengan nilai kerugian kolektif yang fantastis.
“Secara nominal itu kurang lebih tiga ratus miliar, tapi masih ada yang takut. Makanya saya coba membantu dengan mewakili mereka,” ujar Adam.
Timothy Ronald Dilaporkan ke Polisi, Dugaan Kerugian Capai Rp200 Miliar
Baik Adam maupun Agnes menegaskan bahwa tujuan korban bukan semata pengembalian uang, melainkan mencari keadilan serta menghentikan praktik yang mereka anggap bermasalah.
Podcast ini pun menyoroti sisi lain kelas edukasi Akademi Crypto yang jarang dibicarakan. Diskusi tersebut sekaligus membuka percakapan lebih luas mengenai perlindungan konsumen dan tekanan psikologis di balik kelas investasi berbayar.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



