Bukan 2025, Prediksi Altcoin Season Justru Mengarah ke Tahun 2026

Analis kripto Bull Theory menyatakan bahwa prediksi altcoin season tidak mengarah ke tahun 2025, melainkan berpotensi baru benar-benar dimulai pada 2026.

Pandangan ini disampaikan berdasarkan analisis gabungan indikator teknikal pasar altcoin dan perubahan arah kebijakan likuiditas global, khususnya dari bank sentral AS, The Fed.

Bull Theory menyoroti grafik OTHERS Dominance, yaitu ukuran dominasi kapitalisasi pasar kripto di luar 10 aset terbesar. Grafik tersebut secara historis kerap digunakan untuk mengidentifikasi titik dasar altcoin sebelum memasuki fase ekspansi besar.

prediksi altseason

IKLAN
Chat via WhatsApp

Saat ini, OTHERS Dominance dinilai berada sangat dekat dengan zona dasar yang sebelumnya muncul menjelang reli altcoin pada 2017 dan sebelum altcoin season 2020–2021.

Menurut Bull Theory, indikator teknikal turut memperkuat sinyal tersebut. Indikator MACD pada grafik dominasi altcoin terlihat mulai mendatar, sementara RSI berada di area terendah historis.

Kondisi serupa, berdasarkan catatan historis, kerap mendahului periode ekspansi jangka panjang dominasi altcoin. Dari sudut pandang ini, Bull Theory menilai altcoin secara struktural lebih dekat ke fase bawah dibandingkan fase puncak.

“Ini bukan soal hype atau siklus empat tahunan, ini soal likuiditas dan likuiditas selalu mencapai altcoin lebih awal,” ungkap Bull Theory.

BACA JUGA:  Hyperliquid Jadi Raja Likuiditas, Geser Binance

Sinyal Likuiditas Jadi Faktor Penentu

Bull Theory menegaskan bahwa faktor utama di balik prediksi altcoin season menuju 2026 adalah perubahan arah likuiditas global. Ia mengaitkan situasi saat ini dengan peristiwa pada 2019–2020.

Pada September 2019, The Fed menyatakan akan menghentikan kebijakan pengetatan kuantitatif (QT). Pada periode yang hampir bersamaan, dominasi altcoin tercatat membentuk dasar pasar.

Sebulan kemudian, tepatnya Oktober 2019, The Fed mulai membeli surat utang jangka pendek (T-bills) senilai sekitar US$60 miliar per bulan. Kebijakan tersebut secara bertahap berkembang menjadi pelonggaran moneter penuh atau quantitative easing (QE) pada Maret 2020.

Setelah likuiditas kembali mengalir, altcoin memasuki fase kenaikan yang berlanjut hingga awal 2022, sebelum kembali melemah saat The Fed memberi sinyal pengetatan.

Sebaliknya, dalam empat tahun terakhir, Bull Theory menilai altcoin cenderung tertinggal meskipun Bitcoin sempat mencatat kenaikan signifikan dari titik terendahnya.

Ia menyebut penyebab utamanya adalah kebijakan pengurasan likuiditas oleh The Fed, yang secara historis lebih berdampak negatif pada altcoin dibandingkan Bitcoin.

BACA JUGA:  Pasar RWA Solana Cetak Rekor Baru, Kripto SOL Siap Melesat?

Situasi tersebut, menurut Bull Theory, mulai berubah. Ia mencatat bahwa The Fed kini kembali melakukan injeksi likuiditas melalui pembelian T-bills sekitar US$40 miliar per bulan.

Meski belum tergolong QE penuh, langkah tersebut dinilai sebagai sinyal awal dukungan likuiditas yang berpotensi menguntungkan aset berisiko, termasuk altcoin.

Ekspektasi Pasar dan Proyeksi Dominasi Altcoin

Selain kebijakan yang sudah berjalan, Bull Theory menilai pasar juga bergerak berdasarkan ekspektasi ke depan. Ia menyoroti wacana pemangkasan pajak korporasi, diskusi terkait potensi distribusi dana langsung ke masyarakat, serta ekspektasi pergantian pimpinan The Fed yang dipandang pasar dapat membawa pendekatan lebih pro-pertumbuhan.

Dari sisi suku bunga, Bull Theory mencatat bahwa dot plot The Fed hanya menunjukkan satu hingga dua kali pemangkasan.

Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan sebelumnya menunjukkan fleksibilitas The Fed, terutama ketika kondisi ekonomi dinilai tidak cukup kuat. Fakta bahwa The Fed masih melakukan pembelian T-bills, menurutnya, menjadi indikasi bahwa dukungan likuiditas tetap dibutuhkan.

Indikator pasar lain yang disorot adalah indeks Russell 2000, yang merepresentasikan saham berkapitalisasi kecil dan baru-baru ini mencetak level tertinggi baru. Secara historis, pergerakan saham small caps sering menjadi sinyal awal membaiknya ekspektasi likuiditas sebelum merembet ke aset berisiko lain.

BACA JUGA:  Bear Market Ethereum Belum Usai, Analis Ungkap Sinyal Bahaya

Berdasarkan kombinasi faktor tersebut, Bull Theory menyimpulkan bahwa prediksi altcoin season paling masuk akal justru mengarah ke 2026. Dalam skenario normal, ia memperkirakan OTHERS Dominance berpotensi kembali ke kisaran 12–13 persen, level yang sebelumnya dikaitkan dengan altcoin season yang kuat.

Dalam skenario optimistis, jika dominasi altcoin mampu menembus 18–20 persen pada 2026, Bull Theory menilai hal tersebut dapat memicu fase altcoin season terbesar yang pernah terjadi.

Pada fase tersebut, altcoin berpotensi mengungguli kinerja Bitcoin dan menunjukkan ketahanan yang lebih baik saat terjadi koreksi, seiring dengan membaiknya kondisi likuiditas global.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia